Selasa, 23 Juli 2013

HARI PENDUDUK DUNIA: 3,2 JUTA REMAJA LAKUKAN ABORSI TIDAK AMAN

Hari Penduduk Dunia: 3,2 juta remaja lakukan aborsi tidak aman


Hari Penduduk Dunia: 3,2 juta remaja lakukan aborsi tidak aman thumbnail 12/07/2013

Kemarin (11/7) dunia memperingati Hari Kependudukan se-Dunia, dan  Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyerukan penyediaan sumber daya bagi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan gadis remaja, serta menuntut perhatian global buat remaja yang hamil.
Sekjen PBB itu mengatakan komplikasi dari kehamilan dan kelahiran dapat mengakibatkan cacat dalam jumlah yang sangat banyak dan menjadi penyebab utama kematian bagi perempuan muda yang rentan.
“Untuk menangani masalah ini, kita harus membawa anak perempuan ke sekolah dasar dan memungkinkan mereka memeroleh pendidikan yang baik sampai mereka melewati masa remaja mereka,” kata Ban dalam pesannya, seperti dilansir metrotvnews.com.
Ia juga menyerukan diberikannya pendidikan yang sesuai usia dan menyeluruh mengenai seks kepada semua remaja. Ini penting untuk memberdayakan perempuan muda agar mereka bisa memutuskan waktu dan keinginan mereka menjadi ibu.
Data statistik PBB memperlihatkan sebanyak 16 juta gadis remaja yang berusia di bawah 18 tahun melahirkan setiap tahun.
Sebanyak 3,2 juta remaja lagi menjalani aborsi yang tidak aman. Kehamilan di kalangan gadis remaja sering kali akibat diskriminasi, pelanggaran hak (termasuk pernikahan dini), pendidikan yang tidak layak, dan hubungan seks secara paksa.
Ban mengatakan, “Ketika kita mencurahkan perhatian dan sumber daya pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan gadis remaja, mereka akan menjadi kekuatan yang lebih besar bagi perubahan positif dalam masyarakat sehingga akan memiliki dampak pada beberapa generasi ke depan.”
Pada 11 Juli ditetapkan sebagai Hari Penduduk Dunia oleh PBB sejak 1989 guna menarik perhatian masyarakat global pada tingginya angka pertumbuhan penduduk setelah penduduk dunia mencapai 5 miliar.
Indonesia
Di Indonesia rata-rata jumlah remaja usia 15-19 tahun yang melahirkan dalam rentang waktu lima tahun terakhir mengalami lonjakan tajam.
Jika tahun 2007 rata-rata kelahiran pada remaja  35 per 1.000 kelahiran, tahun 2012 menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) jumlahnya bertambah menjadi 45 per 1.000.
“Angka pernikahan dini yang meningkat menyebabkan jumlah kelahiran di tingkat remaja semakin melonjak,” kata Kepala Pusat Pelatihan Internasional BKKBN, Novrizal, pada diskusi tentang Hari Kependudukan Dunia 2013, di Yogyakarta, (10/7).
Budaya menikah dini di negara kita belakangan ini, diakui Novrizal, semakin sulit dibendung.
Menurut katagori United Nations Development Economic and Social Affairs (UNDESA) 2011, Indonesia adalah negara ke-37 dengan jumlah perkawinan dini terbanyak di dunia.
Untuk level ASEAN, tambah Novrizal, Indonesia berada di urutan kedua terbanyak setelah Kamboja. Hal ini selaras dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 yang menyatakan 46% perempuan Indonesia menikah sebelum berusia 20 tahun.
Poskan Komentar