Kamis, 07 Maret 2013

TNI DAN POLRI RAZIA ATRIBUT BUDAYA DAN MUSIK DAERAH DI ENAROTALI-PANIAI PAPUA


Enarotali, ENS- Operasi Aman Matoa II masih terus berlangsung di Paniai dan sekitarnya. Relawan ELSHAM Papua di Nabire melaporkan bahwa sejak 20 Januari 2013, aparat gabungan TNI/Polri telah melakukan razia terhadap warga masyarakat di kota Enarotali, Paniai, Papua. Aksi razia ini dimulai sejak Tanggal 20 Januari 2013 oleh Pasukan Gabungan (Brimob Kepala II, Brimob Polda Papua, Polisi Dalmas Paniai, Timsus 753, Pasgad dan Kodim 1705).

Target razia adalah Handphone dan atribut budaya milik warga asli Papua, terutama yang berasal dari suku Mee. Khusus terhadap handphone milik warga, aparat akan memeriksa lagu-lagu yang terdapat dalam memory card. Jika ditemukan lagu berbahasa daerah Papua maupun Papua New Guinea, maka memory card handphone lalu dirusak (dipatah) dihadapan pemiliknya.
Aparat yang melakukan razia juga mengintimidasi warga agar tidak menyanyikan lagu berbahasa Papua dan Papua New Guinea. Aparat juga melarang warga mengenakan atribut budaya asli Papua berupa Gelang, Manik-manik, dan mahkota tradisional (Waiya dan Migabai). “Kamu tidak boleh pakai gelang, manik-manik atau ikat kepala, dan atribut Papua merdeka yang lain. Kalau ada yang coba-coba pakai, nanti kami tembak,” ujar seorang anggota polisi.
Seorang pendeta yang mendengar tentang adanya aksi razia tersebut, mendatangi mapolres Paniai di Madi dengan maksud menanyakan tujuan dari razia tersebut. Sebelum memasuki halaman Mapolres, pendeta lalu meperdengarkan lagu-lagu Group Mambesak berbahasa Papua yang tersimpan dalam handphonenya. Kapolres yang berada dalam ruang kerja segera keluar dan membentaknya. “Hei..! siapa yang putar lagu-lagu ini, kami akan basmi lagu-lagu itu,” kata Kapolres sambil keluar dari ruang kerjanya. Pendeta lalu berkata “Kamu jangan larang lagu Papua dan budaya Papua saja, tetapi kamu juga harus larang lagu Jawa, Sumatra atau daerah lain juga. Sebab lagu-lagu itu adalah jati diri kami orang Papua,” tegasnya. Kapolres tidak menanggapi ucapan pendeta tersebut, namun segera masuk kembali ke ruang kerjanya.
Pada 7 Februari 2013, pukul 13.30 waktu setempat, relawan ELSHAM melakukan monitoring di sekitar pasar, bandar Udara dan di depan kios yang terletak di pusat Kota Enarotali. Saat itu sedang dilakukan razia memory card handphone di dekat teminal. Relawan ELSHAM terus mengawasi razia tersebut dari jarak 20 meter. Seorang aparat polisi terlihat sedang memegang handphone milik seorang warga, sementara rekan-rekannya yang lain tampak berjaga-jaga menggunakan senjata lengkap.
Sampai dengan laporan ini dibuat, masyarakat di kota Enarotali dan sekitarnya masih merasa resah dengan tindakan semena-mena aparat keamanan. Elsham News Service
Poskan Komentar