Minggu, 17 Maret 2013

KERANGKA ACUAN BUKU DIALOG JAKARTA-PAPUA


KERANGKA ACUAN DAN DISKUSI BUKU
DIALOG JAKARTA-PAPUA:
SEBUAH PERSPEKTIF PAPUA
Pastor Dr. Neles Tebay, Pr

a. Latar belakang
Konflik Papua melibatkan dua belah pihak yakni pemerintah Indonesia dan orang asli Papua. Konflik vertikal ini sudah berlangsung sejak tahun 1960-an dan hingga kini belum dituntaskan secara menyeluruh. Selama konflik Papua ini berlangsung, pemerinta Indonesia dan orang asli Papua saling memandang dan memperlakukan satu sama lain sebagai musuh. Kedua belah pihak yang bertikai ini berperan sebagai problem maker (pembuat masalah) dan hubungan antara kedua belah pihak ini diwarnai oleh kecurigaan dan ketidakpercayaan. Untuk menyelesaikan konflik Papua, kedua belah pihak yang bertikai selama ini perlu mengambil posisi yang baru yakni sebagai problem solver (pemecah masalah). Dengan posisi baru ini baik pemerintah Indonesia maupun orang asli Papua akan mengumuli secara bersama konflik Papua dan mencari jalan keluar secara damai. Posisi dan peran baru ini dapat dilakukan di dalam dan melalui suatu dialog. Melalui dialog inilah kedua belah pihak, secara bersama-sama, dapat mengidentifisaikan persoalan-persoalan dan mencari solusi yang diterima dan disetujui oleh kedua belah pihak.
Sekalipu pentingnya dialog konflik Papua sudah diakui oleh berbagai pihak, hingga kini belum ada suatu konsep yang jelas mengenai kerangka dialog yang dapat disetujui oleh kedua belah pihak yang bertikai selama ini. Banyak elemen masyarakat Papua yang menyuarakan dialog sebagai mekanisme yang bermartabat untuk mencari penyelesaian damai atas konflik Papua, tetapi mereka tidak memperlihatkan konsep tentang dialog yang dikehendakinya. Di pihak pemerintah pun, dalam berbagai kesempatan, berjanji untuk menyelesaikan konflik Papua secara damai dengan pendekatan dialog, tetapi tidak pernah menawarkan konsep dialog yng disukainya. Karena itu, dialog konflik Papua mengalami jalan buntu dan terjadi kekosongan tentang dialog.
Guna mengisi kekosongan tentang dialog konflik Papua itu, buku berjudul “DIALOG JAKRTA-PAPUA: Sebuah Perspektif Papua” ditawarkan, baik kepada orang Papua maupun kepada pemerintah Indonesia guna mendorong diskusi-diskusi baik di Papua maupun di Jakarta. Baik orang Papua maupun pemerintah Indonesia diberikan ruang yang sebesar-besarnya untuk menilai, mengkritisi, dan menguji aspek-aspek yang ditawarkan dalam buku ini. Kedua belah pihak yang bertikai boleh menerima semua aspek dialog dalam buku ini, atau menolak semuanya, atau menerima sebagian dan menolak sebagian. Untuk memperlancar diskusi dan proses penilaian aspek-aspek dari dialog yang ditawarkan dalam buku ini, maka kita semua akan dibantu oleh para pembahas.

b. Prinsip-prinsip Dasar
penekanannnya adalah dialog didasarkan pada kesepakatan bahwa
  1. Konflik Papua harus diselesaikan secara damai dan karena itu tidak melalui jalan kekerasan.
  2. Konflik Papua harus dituntaskan secara menyeluruh dan kerena itu bukan parsial.
  3. Konflik Papua harus diselesaikan secara bermartabat yakni dengan saling menghargai dan menghormati, sehingga tidak ada yang merasa kehilangan muka.
  4. Mesti ada tindak lanjut dan aksi yang konkrit atas kesepakatan yang telah dicapai
  5. Keseluruhan proses dialog akan didasarkan didasarkan pada prinsip universal, seperti cinta kasih (compassion),kebebasan ( freedom), keadilan (justice)dan kebenaran (truth).
c. Tujuan dialog: menciptakan Papua Tanah Damai
Agar tujuan dialog dalam menciptakan Papua tanah damai terwujud, maka hal-hal yang mesti diparhatikan adalah:
  1. Pemerintah harus keluar dari kotak “NKRI, harga mati”.
  2. Orang Papua juga mesti keluar dari kotak “Merdeka, harga mati”.
    d. Partisipasi aktif masyarakat Papua
Agar Papua benar-benar menjadi tanah damai, dibutuhkan keterlibatan dari:
  1. Orang asli Papua, dan
  2. Warga Papua
    e. Target-target Dialog yang perlu dicapai
    Pemerintah dan orang Papua mencapai kesepakatan tentang:
      1. Ciri-ciri dari Papua Tanah Damai yang ingin diperjuangkan oleh kedua belah pihak, bersama dengan seluruh komponen masyarakat sipil.
    2. Masalah-masalah mendasar yang mesti dituntaskan secara bersama untuk menciptakan “Papua Tanah Damai”
    3. penyebab-penyebab utama dari masalah-masalah mendasar tersebut.
    4. Solusi-solusi untuk mengatasi masalah-masalah mendasar tersebut beserta penyebab-penyebabnya, dan sekaligus memperlancar proses terciptanya 'Papua, Tanah Damai'
    5. Pencegahan terhadap terjadinya pengulangan masalah-masalah tersebut.
    6. Peran dari berbagai pihak (stakeholders)yang terlibat dalam upaya menciptakan “Papua, Tanah Damai”
    7. Tindak-lanjut dan aksi yang konkrit untuk menindak lanjuti kesepakatan bersama.
    f. Tahap Dialog
    -. Dialog internal orang Papua
    Dalam dialog pada tahap pertama, para peserta yang adalah orang asli Papua membahas sejumlah pertanyaan sebagai berikut:
      1. Apa ciri-ciri dari Papua tanah damai yang diperjuangkan
    2. Masalah-masalah apa saja yang menghambat terciptanya Papua tanah damai
  1. Apa penyebab-penyebab dari maslah-maslah tersebut?
  2. Apa solusi-solusi yang perlu dilaksanakan guna mengatasi masalah-masalah mendasar tersebut
  3. Apa solusi-solusi untuk mengatasi penyebab-penyebab dari maslah-maslah tersebut?
  4. Kebijakan apa yang perlu diambil untuk mencegah terjadinya masalah-masalah yang sama di masa depan?
  5. Peran dan tugas apa yang perlu dilaksanakan oleh berbagai komponen (pemerintah dan masyarakat sipil) dalam rangka menciptakan “Papau Tanah Damai”?
    -. Dialog Warga Papua
    -. Dialog wakil-wakil orang Papua di dalam dan luar negeri
    -. Dialog wakil-wakil pemerintah Indonesia dan orang Papua
    g. Peserta Dialog
    1. Dalam dialog internal orang Papua, semua pesertanya adalah eklusif orang asli Papua.
    2. Dalam dialog pada tahap kedua, pesertanya adalah semua warga Papua, yang terdiri dari orang asli Papua dan non-asli Papua.
    3. Peserta pada dialog ketiga adalah orang asli Papua.
    4. Juru runding yang mewakili Pemerintah Indonesia dan Orang Papua.
    h. Fasilitator
    1. Majelis Rakyat Papua (MRP) untuk dialog tahap pertama.
    2. Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP)/ DPRD Provinsi Papua Barat.
    3. West Papua National Coalition for leberation (WPNCL) yang bermarkas di Port Villa, Vanuatu, sebagai fasilitator dialog orang asli Papua di dalam dan di luar negri atau dialog tahap ketiga.
    4. Untuk dialog tahap terakhir melibatkan pihak ketiga yang netral dan independen.
    i. Peran pihak Ketiga
    1. Mengfasilitasi wakil-wakil pemerintah dan orang Papua untuk menyepakati kerangka acuan dialog.
    2. Mengfasilitasi perundingan antara juru runding Pemerintah dan orang Papua.
    3. Memantau pelaksanaan kesepakatan bersama.
Demikianlah kerangka dialog Jakarta-Papua sebuah perspektif Papua yang ditulis oleh Pastor Dr. Neles Tebay, Pr. Thank you brother for support and give aur!


DISKUSI BUKU
HASIL NOTULEN PELUNCURAN BUKU DAN DISKUSI STFT-FAJAR TIMUR-ABEPURA-P A P U A


Hari/Tanggal : Rabu, 11 Maret 2009
Tempat : Aula St. Yoseph STFT “Fajar Timur”.
Waktu : Pukul 09. 00 – 16. 30 WP
Penyelenggara: KKRS STFT “ Fajar Timur” dan SKP Keuskupan Jayapura.
Panitia Pelaksana: Biro Penelitian KKRS Senat Mahasiswa STFT
Fajar Timur” dan SKP Keuskupan Jayapura
Peserta : Jumlah Peserta 250-300 an (dengan Perwakilan PDP, DAP, ElsHAM Papua, KontraS Papua, PBI, LSM lainnya, Perwakilan Mahasiswa dari PTN dan PTS, Dosen dan Mahasiswa STFT “FT”, SKP Keuskupan Jayapura, Tokoh Masyarakat, Aktivis Pemuda dan Mahaiswa/i Papua dari berbagai Gerakan, Pimpinan Gereja (Pendeta dan Pastor), Wartawan dari Beberapa Media Masa dan Elektronik, dan Masyarakat umum).
Penulis : Pastor. Dr. Neles Tebay, Pr.
Pembedah : Pdt. Dr. Sostenes Sumile, MTh, Pdt. Herman Saud, MTh, Bpk. Budy Setyanto, SH
Moderator : Bpk. Abdon Bisei, M.Hum.
Notulis : Fr. Yanuarius Dou, S.Si, Pr; Fr. Soter Reyaan, S.Si, OFM.
Agenda : Pelucuran dan Diskusi Buku: “DIALOG JAKARTA – PAPUA : SEBUAH PERSPEKTIF PAPUA

JALANNYA KEGIATAN

1. Pembukaan : Oleh MC: Sdr. Nicolaus Tunyanan, OFM.
Dalam bagian pembukaan MC mengucapkan selamat datang dan ungkapan terima kasih kepada semua yang telah melangkahkan kakinya untuk mengikuti peluncuran dan diskusi buku yang ditulis oleh P. Dr. Neles Tebay, Pr. Ia mengakhirnya dengan membacakan susunan acara yang akan dilewati bersama.

2. Doa Pembukaan : Fr. Adrianus Tuturop, Pr.
3. Sambutan-Sambutan
  1. Sambutan Penulis: P. Dr. Neles Tebay, Pr.
Ucapan terimakasih dan selamat datang kepada semua yang telah hadir dengan menggunakan sebuah kata yang penuh makna dari Wamena yaitu Wa………Wa……..Wa………… Beliau secara khusus menucapkan selamat dan penghargaan serta ungkapan terima kasih kepada ketiga pembedah buku yang berkenan untuk membedah bukunya. Dalam pertemuan ini kita tidak hanya akan mengadakan peluncuran buku akan tetapi juga mendiskusikan isinya. Di mana intinya adalah sebagi kesempatan untuk memberikan gagasan tentang bagaimana harus berdialog. Beliau berkeyakinan bahwa melalui buku ini dia hanya menanam tetapi Tuhanlah yang menumbuhkannya. Termasuk hasil diskusi ini kita serahkan kepada Allah dalam proses ini. Inilah imannya. Beliau mengakhiri dengan mengatakan bahwa acara ini sengaja diatur agar tepat pukul 12.30, kegiatan sudah selesai namun karena ada orang yang menawarkan menu sederhana yang bisa dicicipi bersama, acara ini akan berakhir dalam waktu yang lebih lama.

  1. Sambutan Ketua STFT “Fajar Timur”: Diwakili oleh PUKET II: Bpk. John Maturbongs, M.Hum.
Kami berbangga karena sekolah kami dipimpin oleh seorang putra Papua yang rohaniwan. Kehadirannya sedikit-demi sedikit dengan pemikirannya tentang Papua mulai disebarkan dengan harapan agar Pencanangan Papua sebagai Zona Damai menjadi kenyataan. Kiranya pemikiran ini membuka pemikiran baru bagi orang Papua dan juga orang Jakarta sebagai sebuah tawaran baik untuk membangun sebuah dialog di mana kedua pihak menghayati pepatah: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Artinya ada keterbukaan dari kedua bela-pihak untuk secara jernih menyelesaikan masalah yang ada di Papua. Apa yang dibuat ini merupakan usaha dari Lembaga STFT “Fajar Timur” untuk mengambil bagian dalam pencanangan Papua sebagai Tanah Damai. Apakah tawaran buku ini mendapat sambutan dan maksud buku ini sebagai sebuah tawaran diterima sebagai sebuah jalan untuk mencapai Papua sebagai Sona Damai, semuannya kita serahkan kepada penyelenggaraan Roh Kudus. Akhirnya Beliau mengharapkan agar para pembedah buku dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi apa yang diharapkan oleh penulis dan kita semua. Selamat berdiskusi, sekian dan terima kasih.

  1. Sambutan dari Direktur SKP: Br. Rudolf Kambayong, Ofm.
Ia membuka sambutannya dengan mengucapkan selamat datang kepada semua hadirin yang diketahui dari daftar hadir yang berasal dari berbagai elemen. Kami merasa senang karena ide dialog sebagai cara menyelesaikan masalah Papua sebagai Tanah Damai tetap dihidupkan. Ini menunjukan komitmen kita dalam mengembangkan dialog sebagai cara kita menyelesaikan masalah Papua yang telah disepakati bersama. Kami dari SKP tetap mendukung dan siap bekerja-sama dengan pihak mana saja yang mau menyelesaikan Papua dengan cara damai dan bermartabat. Pada kesempatan ini kita ditawari oleh P. Dr. Neles Tebay, Pr, sebuah konsep dialog yang selama ini kita tidak memilikinya. Kita semua berharap agar ke depannya menggali konsep pater ini sebagai kerangka yang kita pegang bersama untuk mebangun Papua menjadi Tanah Damai.

4. Bedah dan Diskusi Buku:

  1. Pembukaan
MC mengundang Moderator ke depan untuk mengambil alih kegiatan Bedah dan Diskusi Buku. Moderator memulai bagian ini dengan mengucapkan selamat datang dan terimah kasih kepada semua yang telah mau datang untuk mengikuti kegiatan ini. Ia melanjutkan dengan mengungkapkan maksud pertemuan ini dan gambaran umum tentang buku dari P. Dr. Neles Tebay Pr, yang hendak dibahas. Kita datang ke tampat ini untuk mendiskusikan bersama buku pater ini. Buku ini hanya merupakan sebuah perspektif pribadi yang oleh karena itu tidak mewakili siapa-lembaga manapun. Kerangka dasar atau kerangka acuan adalah konflik antara orang asli Papua dan Pemerintah Indonesia, di mana selama ini ada saling curiga dan saling tidak percaya karena masing-masing saling mencap sebagai problem maker. Maksud dari buku ini adalah agar akhirnya akan saling melihat sebagai problem solver. Oleh karena itu target yang mau dicapai adalah agar kita semua memahami dan menemukan kesepakatan-kesepakatan akan konsep-kerangka dialog yang dapat dipegang bersama untuk mengatasi konflik itu.

  1. Gambaran Isi Buku: Penulis
P. Dr. Neles Tebay, Pr. Memulai dengan menjelaskan tentang judul buku. Judulnya adalah “Dialog Jakarta-Papua: sebuah perspektif Papua”. Dengan judul ini mau menyatakan bahwa apa yang tawarkan dalam buku ini hanya merupakan pendapat pribadi. Artinya tidak mewakili apa/siapapun. Oleh karena itu orang lain dapat memberikan tawarannya juga. Mengenai gambar empat kursi pada cover buku ini, yang memiliki ide adalah percetakan. Maksudnya adalah buku ini mampu memberikan solusi untuk masalah Papua di mana pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengisi kursi kosong itu sebagai orang/lembaga yang dipercayakan baik dari orang asli Papua maupun dari pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan masalah Papua. Buku ini ditulis karena kenyataannya adalah orang Papua dan Jakarta sering kali saling menuduh sebagai problem maker. Oleh karena itu, keduanya saling bermusuhan. Sebagai seorang yang juga korban dalam kenyataan problem maker dan hamba Tuhan apa yang dituangkan dalam buku ini merupakan sebuah tawaran untuk menghilangkan suasana problem maker dan hendak menciptakan sebuah problem solveragar baik orang asli Papua maupun Pemerintah Indonesia bisa mengambil tempat yang benar untuk menyelsaikan masalah Papua ini. Tawaran ini penting karena banyak pihak selama ini menuntut dialog tetapi tidak mempunyai sebuah konsep kerangka untuk itu. Buku ini hadir sebagai jawaban atas kekosongan itu.
Ia melanjutkan dengan mebeberkan 15 pokok penting buku ini. Pertama, memberikan gambaran pentingnya Dialog Jakarta Papua. kedua, mau memperlihatkan kemauan untuk berdialog Papua-Jakarta.ketiga, pentingnya pernyataan publik Papua bahwa kemerdekaan Papua tidak akan dibahas dalam dialog, keempat,memperliahtkan keseriusan pemerintah Indonesia berdialog dengan Papua: utus orang untuk berdialog. Kelima, mengangkat pentingnya kerangka acuan dialog, keenam, memaparkan prinsip-prinsip dasar, ketujuh,menguraikan tujuan dialog: Papua Tanah Damai, bukan merdeka harga mati atau NKRI harga mati. Kedelapan, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat Papua dan non Papua yang ada di Papua. Non Papua unik: operasi militer selalu terarah kepada orang asli Papua, teman-teman lain tidak, namun non Papua harus terlibat karena damai dikehendaki oleh semua.Kesembilan, menawarkan target-target yang dapat dicapai dalam dialog. Kesepuluh, menggambarkan tahapan dialog, kesebelas,mengidentifikasi peserta dialog,keduabelas, mengidentifiksi fasilitator dan perananya, ketigabelas, pentingnya keterlibatan lembaga-lembaga ilmiah,keempatbelas menerangkan pentingnya peranan pihak ketiga, kelimabelas perlu monitoring terus-menerus. Akhirnya. Ini bukanlah sebuah dikte untuk pihak tertentu, artinya bisa diterima dan bisa tidak.

  1. Bedah Buku
  1. Pdt. Herman Saud
Cover buku pater ini di mana ada empat kursi kosong menyatakan kepada kita bahwa harus ada yang duduk di kursi itu agar membangun dialog Jakarta-Papua. Dari nama adat pater ini yang adalahkebadaby yang artinya yang membuka jalan/ membuka pintu (pemimpin atau perintis). Saya heran bahwa nama ini sesuai dengan orangnya sehingga Roh Kudus lah yang memberikannya. buku ini juga merupakan petunjuk jalan/perintis bagi kita untuk membangun sebuah dialog. Ia juga berkesan dengan apa yang dibuat oleh STFT “Fajar Timur” dengan adanya diskusi ini. Ia berharap agar lembaga-lembaga lain juga membuat hal ini sebagai cara kita ikut ambil bagian dalam keprihatinan akan masalah Papua yang ada. Mengenai cara-kerangka konsep dialog yang ditawarkan oleh pater, ia menyetujuinya. Karena bagaimanapun sebuah usaha Papua sebagai tanah damai memang ini sangat berdasar. Namun, ia mempertanyakan tentang bagaimana kita terus berbicara tentang dialog padahal OTSUS sudah ada. Tentang hal ini ada komentar dari seorang peserta, bpk. Beny Giay: “OTSUS” sudah almarhum. Ia melihat pater dalam menawarkan konsep kerangka dialog ini sebagai seorang Yohanes Pembabtis pada jaman ini. Ia mengusulkan agar kalau kita mau berdialog, kita berdialog dengan kita sendiri. ( di antara orang Papua sendiri terlebih dahulu). Karena untuk apa kita bicara dengan pemerintah. Kan yang kita usahakan adalah hidup aman. Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak mennggap kita: Ini karena dalam benak pemerintah mereka berpikir bahwa perlawanan terhadap bangsa Indonesia yang dalam sejarah cukup besar saja mampu dibasmi oleh pemerintah apalagi Papua yang gitu-gitu aja. Mungkin yang kita butuhkan sekrang adalah mempertanyakan identitas kita. Kalau kita semua betul mengidentifikasi diri sebagai seorang Indonesia, yang adalah seorang Papua yang bergama Kristen maka kita akan hidup dengan baik. Selama ini kita masih berpikir orang Indonesia itu: apakah hanya orang Jawa, militer?
Sementara itu kalau kita mengharapkan dialog itu dimulai dari inisiatif Pemerintah Indonesia agaklah susah. Maka baiklah kita berdialog antara kita melihat sejauh mana untung-ruginya kita bergabung dengan pemerintah Indonesia. Sasarannya adalah agar antara kita saling menghargai dan menerima sebelum berdialog dengan pemerintah. Dalam konteks ini tidak hanya orang asli Papua akan tetapi juga non Papua yang hidup di Papua ini.
Hal mendasar yang perlu disadari adalah mengapa pelanggar HAM selalu terarah pada masyarakat asli papua saja. Di sini memang penting agar berbicara juga dengan non Papua. Apalagi pada kenyataannya yang ada sekarang adalah bukan Papua akan tetapi ada Jayapura, Merauke. Sorong dll.
Selain itu ia juga mempertanyakan bahwa bagaimana berbicara tetang dialog kalalu masalah M tidak dimasukan dalam dialog ini. Bagaimana kita menghadapai kenyataan bahwa yang terjadi sekarang adalah pemerintah golongan-proyek untuk golongan tertentu saja. Pada kenyataannya ada yang sudah bergaul dengan pemerintah dan pulang untuk membangun daerah akan tetapi tidak ada bukti pembangunannya. Maka bagi saya adalah merdeka itu yang penting bekerjsa keras sehingga bisa makan, minum, pakaian dan pintar sedikit sudah cukup.

  1. Bpk. Budi Setyanto, SH.
Waktu ia diminta sebagai seorang pembedah buku, pertama ia menolak karena ia bukan akademisi. Ia mulai membedah buku ini dengan mempertanyakan judul buku. Apakah bisa ada Dialog Jakarta-Papua. Namun ia menyadari bahwa buku pater ini merupakan sebuah wacana berpikir yang membuka pikiran kita untuk mencari solusi konflik di Papua, sebuah alternative sebuah solusi konflik Papua dan pemerintah Indonesia. Buku ini luar biasa karena sangat substansial, akurasi data cukup dipertanggungjawabkan, bahasanya popular, karena itu apresiasi pantas diberikan untuk buku ini.
Ia melanjutkan dengan memberikan beberapa pertanyaan mendasar: kalau mau mengadakan dialog harus melihat seberapa penting dialog dilakukan: apa yang menjadi keuntungan dan kerugian jika dilakukan dialog. Apakah keuntungan-keuntungan dirasakn oleh seluruh Papua ataukah hanya sebagian. Mis. OTSUS. Adakah jaminan bahwa keuntungan itu memberikan keuntungan jaminan secara hukum. Ataukah hanya bunga-bunga atau permen-permen saja. Apakah paham pentingnya dialog ini dimiliki oleh kaum elite Papua maupun akar rumput, yang ada di kampung-kampung. Apakah otsus ini menjadi indicator bahwa dialog menjadi penting karena OTSUS sudah almarhum.
Mengenai kemauan untuk berdialog yang adalah syarat mutlak untuk diadakannya sebuah dialog: Apakah kemauan ini sudah mengkristal? Apakah indikator yang mengarah ke sana dan sudah dirumuskan secara tertulis dan memang benar? Kemauan pemerintah: dalam cara SBY, MENLU dll, menyatakan statemen publik: Apakah sebuah komitmen yang tulus di mana lahir dari pertimbangan yang tulus ataukah dari sebuah maksud politik. Apakah indikator itu cukup meyakinkan? Dimana kemauan militer? Kerena mereka memiliki peran yang besar? Dari masyarakat Papua, kesadaran untuk menggunakan cara damai, OPM berdialog dengan damai, organisasi sipil dan agama, apakah ini merupakan indikator. Pada kenyataannya hanya masih sebatas statemen. Belum pada komitmen.
Mengenai dialog dengan tidak membahas kemerdekaan Papua. Konflik Papua merupakan konflik Politik. Apakah masalah ini bisa dilepaskan dan hanya mengangkat tentang kemanusiaan. Apakah bisa dijadikan sebagai sebuah representasi orang Papua. Mengenai keseriusan membangun Papua sebagai sona damai. Pemerintah harus menyakinkan orang Papua: yakinkah bahwa pemerintah akan meberikan peluang bagi dialog secara serius. Hal ini menjadi susah karena adanya kecurigaan-kecurigaan dan pejabat pusat yang selalu bergantian. Dalam keadaan pemerintah yang kesannya tidak serius seperti itu apakah Papua berani untuk itu? Di sini akan dilihat pihak mana yang serius dalam menangani masalah di Papua. Memang idealnya adalah harus inisiatifnya harus datang dari kedua-bela-pihak.
Dialog yang dibangun harus berorientasi kemanusiaan dan harus ada draf alternative: sehingga tidak ada saling serang dan saling menyalakan. Harus ada tim penghubung: menjadi tim mobilisator untuk saling mengingatkan. Berhubung dengan OTSUS, dilihat bahwa bukanlah lahir dari hasil dialog karena itu perlulah dirubah karena hanya merupakan hasil legislasi. Sementara itu jika dibangun dialog pengawasannya tidak harus melibatkan orang luar. Yang ada adalah cukup orang dalam yang mengikuti perjanjian.

  1. Pdt. Dr. Sostenes Jumile
Ia menyambut dengan gembira buku ini, karena tidak ada lagi istilah dialog dalam seminar-seminar akhir-akhir ini. Dan kenyataan bahwa ada kecurigaan yang berlebihan sehingga tidak pernah ada dialog. Kalau mau membangun dialog maka substansi dialog untuk orang Papua sudah ada yaitu soal kekerasan kemanusiaan. Tragedi kemanusiaan harus dihentikan. Maka penyelesaian harus diselesaikan secara damai dan bermartabat dengan 4K yang ditawarkan yaitu Kasih, kebebasan, keadilan dan kebenaran. Ia melanjutkan dengan mengomentari bagian tidak dimasukannya isu kemerdekaan dalam dialog. Ia mengerti pikiran pater bahwa cukuplah penderitaan yang orang Papua alami. Karena jika ide kemerdekaan dimasukan dalam dialog, maka akan ada kekerasan kemanusiaan baru yang lebih parah yang akan dialami oleh masyarakat asli Papua.
Yang menarik adalah dialog yang ditawarkan oleh pater dilihat sebagai sebuah proses. Bahwa pendekatan kemanusiaan digunakan harus dilihat sebagai cara atau pintu masuk untuk meneyelsaikan masalah Papua dengan damai. Bahwa akan muncul aspek politik, itu sudah pasti karena masalah politik di Papua menjadi salah satu hal yang sangat mendasar. Agar sebuah dialog dapat berjalan dengan baik ia menyatakan bahwa harus ada dialog secara intern sebelum berkomunikasi dengan pemerintah karena terlalu banyak perbedaan antara orang Papua yang harus disatukan. Dalam konteks ini PDP bisa mengambil peran.
Ia mengakhiri tanggapannya dengan mengatakan :Ketika KEMANUSIAAN, menjadi dasar perjuangan maka Tuhan sementara mengantar Papua ke pada titik akhir. Karena pendekatan ini berdasarkan penghormatan terhadap manusia dan nilai-nilai kemanusiaaan.

  1. Tanggapan Penulis Terhadap Para Pembedah Buku
Ia berterima kasih karena ada beberapa hal yang tidak dimasukan dalam tulisannya diangkat oleh para pembedah untuk memperdalam dan memperkaya tulisannya. Terhadap dialog di antara orang Papua, ia melihat itu sebagai hal yang penting dan sudah ada dalam tulisannya. Dan bukan hanya di antara orang asli Papua akan tetapi antara warga Papua artinya baik yang asli maupun pendatang. Ia menekankan bahwa kalau mau mulai dialog harus ada saling sepakat akan konsep kerangka dialog yang digunakan sehingga kita memiliki kerangka acuan yang sama. Selain itu untuk memperjelas paham tentang pemerintah ia menyatakan bahwa yang namanya pemerintah itu dari pemerintah pusat sampai distrik sehingag kalau dialog maka-dialog dengan orang-orang ini
Apa yang tertulis dalam bukunya merupakan pendapat pribadi dan kalau ada pendapat lain itu adalah hal wajar. Yang penting adalah kita menyatukan persepsi. Apa masalah orang asli Papua dan apa masalah warga Papua. Pater menyatakan bahwa bisa tidaknya dialog ini dibuat: ia berangkat dari keyakinannya bahwa semua hal bisa. Kalau kita memiliki keyakinan itu maka kita akan berpikir tetang solusi-solusi yang bisa mewujudkan keyakinan kita.
Mengenai memegang pernyataan-pernyataan publik tentang Papua, masalah, dan solusinya, beliau menyatakan bahwa kita sebagai orang Papua bisa memegang itu, entah yang menyatakan pernyataan itu tulus atau dengan maksud politik tertentu. Jadi mungkin pemerintah tidak komitmen dengan pernyataanya akan tetapi kita bisa memegangnya. Harus disadari pula bahwa Jakarta kadang-kala tidak memiliki pendapat yang sama.
Tentang OTSUS, beliau sendiri dari awal tidak sepaham karena bukan merupakan hasil dari sebuah dialog dengan seluruh masyarakat Papua. Sementara tetang tidak perlunya orang luar ikut dalam dialog, ia menyatakan bahwa orang Papua sudah tidak percaya dengan Pemerintah Indonesia. Ini diungkapkan dengan kata kata ini “ Bagaimana pemerintah Indonesia, tulis lain, baca lain dan buat lain”. Pendekatan kamunisaan yang dipakai akan menjadi pintu masuk di mana di sana kita bisa menyinggung soal politik. Akhirnya beliau sepakat dengan sikap dasar : proses menentukan hasil: karena ini akan membuat semua orang: kedua bela pihak akan duduk bersama untuk menyelesaikan masalah Papua dengan damai.

  1. Tanggapan Balik Pembedah
Pendeta Sumile menyatakan sebuah ungkapan reflektif untuk semua: bisakah dialog sebagai sebuah pendekatan kemanusiaan yang ditawarkan oleh pater ini, kita bisa kembangkan di level lain. Artinya tidak sebatas di ruangan diskusi.
Hal yang perlu mendapat perhatian adalah supaya jelas kita siapa INDONESIA? Dan akhirnya komentar bpk. Budi bahwa saya tidak bisa bayangkan tentang dialog tanpa dialog politik. Buka saja dialog politik. Kan hanya sebuah dialog…jangan ada kecurigaan sebelumnya. Yang penting adalah ada komunikasi yang tidak menghasilkan korban…..

  1. Diskusi Terbuka: Session Pertama

  1. Pdt. Herman Awom, moderator presidium Papua
Ia mengangkat tentang hasil Kongres Papua yang telah menetapkan ada 4 aspek: masalah Papua. Pertama pelurusan sejarah Papua. Kedua, dialog , ketiga, konsolidasi Papua (komponen), keempat, hak-hak dasar papua. Ia menyatakan bahwa orang Papua tidak bodok-bodok.. Kami Gerilya terus menerus-dialog-berjuang secara damai-dan komphersif- Cara damai ini juga diungkapkan oleh perwakilan orang Koteka yang meminta dialog secara damai dan bermartabat. Kami menulis surat ke luar ke menkopolsoskam (skarang presiden) untuk minta dialog: win-win solusion- meminta dialog yang akhirnya: papua zona damai
Pidato pertama presiden SBY: menyatakan bahwa masalah Papua hanya dapat diselesaikan dengan cara demokrasi, damai, komprehensif dan bermartabat. Hal ini sejalan dengan perjuangan orang Papua. Ia mengusulkan agar nanti dimasukan bagian status politik dalam dialog dan harus ada intervensi dari dunia luar. Ia mengakhiri dengan mengatakan : Program OTSUS dengan pelaksanaannya yang tidak berpihak kepada orang Papua dan kenyataan politik bahwa orang luar yang akan menguasai contohnya: legislative, perlahan-lahan akan menghabiskan pengaruh dan mungkin bangsa Papua, seperti orang Aborigin. Oleh karena itu harus ada dialog.
  1. Pdt. Lis
Sebagai seorang pendeta ia menyatakan bahwa tetaplah berpengharapan kepada Tuhan. Karena Tuhan tidak akan mengecewakan mereka yang berpengharapan. Tentang menafsirkan empat kursi kosong yang ada di cover buku, ia mengatakan bahwa kursi pertama adalah kegiatan dikusi bersama yang sedang dimulai, kedua adalah antara orang asli Papua, ketiga, antara warga Papua, keempat, dengan pemerintah.
  1. Pdt. Bas
Ia memulai dengan memberikan apresiasi kepada pater yang telah membuka wawasan dengan bukunya. Ia lantas mengusulkan bahwa dialog harus diteruskan dengan MRP. Karena MRP adalah representative Budaya. Dialog dengan DPRP dan dibangun dialog dengan Gubernur. Penting juga harus ada komunikasi politik. Demikianlah pendekatan kemanusiaan dan pendekatan politik harus sejalan. Ia juga mengusulkan agar harus ada kerja sama dengan LSM yang sudah bekerja lama yang memang bekerja demi kepentingan masyarakat bukan bekerja demi uang.
  1. P. Izak
Ia mempertanyakan kata Papua yang digunakan dalam buku. Papua mana yang dimaksudkan katanya. Kalau dikatakan bahwa Dialog dimulai dari Papua maka Papua adalah orang yang memiliki ras Malanesia, oleh karena itu defenisi ini perlu diperjelas. Yang penting juga untuk masalah Papua ini adalah orientasi orang elite dan orientasi grass root perlu dibuat perlu dilihat dan dicermati.

  1. Komentar Penulis
Ia mengawali dengan mengatakan bahwa apa yang dikemukakan pdt. Bas, ia menyetujui pikiran itu. Kalau agenda-agenda yang akan ada dalam dialog seperti yang diungkapkan pdt. Awon, pater menyatakan bahwa ia percaya masalah akan muncul dalam dialog nanti dan dengan sendirinya akan mendorong untuk menemukan solusi yang tepat untuk pemecahannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menciptakan pemahaman yang sama tentang prinsip-prinsip dasar agar dialog dapat dilaksanakan. Bisa jadi tahapannya akan beda namun yang terpenting adalah merupakan kesepakatan bersama dari kita untuk membuat sebuah pegangan yang bisa dipegang bersama sebagai arah kita dalam mengusahakn dan menjalankan dialog. Misalnya: dalam hal fasilitator: Kita harus memiliki pemahaman yang sama tentang fasilitator.. MRP, DPRP, Dewan PBB di Fanatua. Artinya kalau maju harus satu suara, satu cara. Ini penting sehingga kalau ada juru runding ia akan mewakili semua masyarakat dan apa yang akan dibicarakan sebagai wakil nanti sudah jelas dari awalnya.



  1. Diskusi Terbuka: Session Kedua

  1. Bpk. Philip
Selama ini yang terjadi adalah manusia jadi korban karena politik. Saya mendengar semua yang hadir sangat optimis. Saya pesimis: bisakah? Epenkah? Epen yang benar jadi hancur!!! Namun ia mengakhiri dengan mengatakan kita harus berjalan dalam proses. Katanya: dulu biasa ada suara bahwa: “orang nogei bisakah?” Bukti bahwa P. Dr. Neles Tebay, Pr. Bisa!!! Sekarang Orang Indonesia bilang Papua bisakah? Bisa tooo!!!!!!!??????

  1. Pdt. Beny Giay:
Kita semua tahu pater Neles adalah orang Gereja dan ini merupakan dialog dia dengan KS dan Ajaran Gereja, masa lalu di kampung dan sejarahnya. Orang Papua yang mengalami indonesianisasi berat. Terima kasih kepada pater karena menjadi diri sendiri. Keluar dari lembaga dan menjadi diri sendiri. Jangan Gereja merasa yang paling benar. Jangan pikir STFT “FT” yang paling benar. Papua Zona Damai stop sudah karena tidak ada hasil. Pemerintah bilang separatis orang Papua. Kita juga bisa bilang Negara sebagai Apartai. Mis. UU saparatis. Pengalaman di tempat pemakaman Almarhum Theis menunjukan hal itu. Rumah-rumahan Pendatang tidak disapu akan tetapi yang dibuat oleh masyarakat asli yang dibersihkan. Kalau dicermati hanya karena orang Asli Papua menuliskan dengan jelas kata-kata “PAPUA ZONA DARURAT”. Apa yang terjadi dengan sona darurat ini berbeda dengan yang dibicarakan Papua sebagai sona damai. Dalam hal ini Gereja mesti mengecek apakah memang Papua ada dalam keadaan darurat. Beliau menambahkan bahwa berbicara Papua sebagai tanah damai hanya seperti cek kosong. Bagaimana berbicara tentang Papua tanah damai di mana pada kenyataannya terjadi ada warga sipil pendatang di Komopa yang dipersenjatai senjata api.

  1. Sony Mosso
Masalah di Papua adalah masalah politik. Bahwa Papua dipaksakan untuk berintegrasi sehingga tetap ada pelanggaran HAM. Karena integarsi politik yang menyebabkan masalah maka hal ini tidak boleh diabaikan. Ia menyindir bahwa dia kira pendeta selama ini sebagai nabi-nabi palsu akan tetapi tadi mereka mau berbicara. Orang Jakarta dengan OTSUS mau menumpulkan hati orang Kuat Papua akan tetapi ajing biar makan makanan enak di rumah tetangga tetap ingat akan tuannya. Masalah Papua: jangan percaya kepada OTSUS karena secara kosntitusi sudah rusak. Tidak membahas Kemerdekaan dalam dialog ini sesuatu yang sangat konstruktif. Harus mulai dari soal kemanusiaan.

  1. NN
Buku ini tidak mewakili siapa pun, tapi kita harus sadar bahwa P. Neles adalah orang Papua. Ini adalah cara luar biasa yang dibangun oleh P. Neles. Perspektif pribadi tapi sangat luar biasa. Pertanyaan mendasar tantang substansi harus menjadi perhatian kita semua. Kalau di Aceh sampai menuju Swis karena ada yang tidak normal apakah kita punya itu dengan statemen-statemen yang ada. Kesan saya adalah pemerintah sampai sekarang masih merasa diri sebagai yang benar. Oleh karena itu, perlu kita menceriterakan repersentasi kegagalan pemerintah. Dia melihat bahwa dengan membangun kemampuan kita sebenarnya kita membangun keindonesiaan sejati dalam tangan kita dalam kerangka kebhinekaan. Secara substansi kita tidak boleh menaruh tujuan di tempat utama tetapi harus melalui proses.

  1. DAP Papua: Fadel Alhamid
Ia mengira bahwa OPM tidak perlu buat pernyataan publik yang dibicarakan penulis. Karena dengan adanya sebuah kerangka dengan sendirinya mengabaikan yang lain. Pentingnya buku ini sekarang adalah bagaimana dialog itu bisa terjadi. Wapres sendiri mengatakan bahwa kamu harus menunjukan suatu alasan bahwa Papua perlu berdialog. Alasan ini perlu kita cari dan ciptakan. Sekedar informasi bahwa penyelesaian masalah di Aceh, penggagasnya adalah WAPRES walaupun pertama mendapat tantangan dari TNI tetapi juga Presiden. Kita harus memperlihatkan bahwa kalau tidak ada dialog Papua akan hancur. Untuk itu harus ada kebangkitan bersama. Gerakan People power perlu dalam konteks ini. Dalam sejarah Papua sudah terbukti bahwa kekuatan rakyat teruji ketika tahun 1999 menolak pelantikan Gubernur Papua. Ia menyatakan bahwa orang Papua ini maunya diinjak dulu barulah mau bangun. Karena itu, seya senang kalau anggota legistlatif DPRP Papua dan DPRD Kota ini semua didominasi oleh orang pendatang agar masyarakat sadar bahwa sebuah lini dikuasai oleh kaum migran.

  1. Yohanes Yangyong
Untuk menyelesaikan masalah hanya ada dialog dan perang. Sudah ada beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa dialog tidak mempan lagi. Harus ada cara lain untuk menyelesaikan masalah Papua ini.

  1. Beberapa Komentar
  1. P. Neles
Mungkin perlu keuatan sipil. Namun People Power hanya terjadi jika orang sadar bahwa mereka hidup dalam keadaan darurat. Untuk tahu bahwa kita orang Papua ada dalam keadaan darurat mungkin pertanyaan ini penting. Betulkan saya Tuan di atas negeri sendiri? Kalau orang tidak sadar maka tidak akan ada usaha untuk zona damai. Membantu orang untuk sadar bahwa kamu ada dalam keadaan darurat adalah penting.

  1. Bpk. Budi Satyanto, SH
Dalam dialog harus jelas dialog apa yang kita usahakan. Kalau dialog kemanusiaan maka yang di kedepankan adalah alasan-alasan kemanusiaan begitu sebaliknya kalau itu dialog politik. Dengan buku pater ini, kita dituntut harus mencari jalan alternative bukan jalan langsung untuk menyelesaikan masalah yang ada. Tetaplah menjadi pertanyaan mendasar adalah dialog politik ataukah dialog kemanusiaan? Kalau menghendaki dialog harus kreatif untuk mencari keadaan yang memungkinkan untuk diadakannya dialog itu. Ia mengakhiri dengan menanggapi bahwa mungkin perlu dipikirkan lagi tentang pernyataan yang mengatakan bahwa orang Papua itu tungguh diinjak dulu barulah bangkit.

  1. Pdt. DR. Sostenes Sumihe
Bagaimana dialog ini menjadi realitas sosial adalah yang perlu kita perhatikan, bicarakan dan usahakan. Beliau sangat setuju dengan kekuatan rakyat… Pertanyaannya adalah apakah ada kekuatan itu? Kenyataannya sengaja untuk dibuat tidak ada kekuatan itu. Sudah lama penjualan di depan GALIEL Jayapuralayak , akan tetapi belum jugai.. Kita tidak memiliki kekuatan rakyat itu…

  1. Pdt. Herman Saud..
Kita harus lihat soal-soal kita dan buat sesuatu. Harus buat sesuatu. Dan lihat kenyataan kita, untuk berbuat sesuatu. Uang ada banyak tetapi masyarakat banyak yang korban. Korupsi besar dan masyarakat miskin di sini kita mau bilang apa? Apa yang mau kita dialogkan dalam keadaan seperti ini.

  1. Ruang Terbuka: Session Ketiga
Sebelumnya moderator menyimpulkan atau mengomentari apa yang telah dikomentari oleh penulis dan keempat pmbedah buku. Diskusi ini penting dalam arti bahwa para pakar kenyataan sosial menyatakan bahwa kelas menengah:memberikan kesadaran demi perubahan sosial. Dalam hal ini pekerjaan kita menjadi penting untuk menjadi tali rajutan antara akar rumput dan kaum elite demi menuju sebuah keadaan yang diharapkan.

  1. Sintia Warowe
Bagaimana menghimpun kesadaran masyarakat, padahal tidak diajak untuk memikirkan. Perlu bicara bersama tentang kebutuhan dan masalah sosial yang ada! Pemerintah masih terlalu minim perhatiannya terhadap masalah sosial-ekonomi masyarakat. Saya sendiri bekerja di bagian ini dan merasa bahwa hal ini perlu menjadi perhatian serius.

  1. Nurhana
Dialog saya sudah capai. Saya Cuma minta Referendum… Orang kurang menyadari siapa dirinya. Saya tidak percaya dengan MRP, DPRD, DPRP dll. Bagaimana Gereja harus bicara, harus bersatu, dan jangan terima uang itu. Jangan sampai orang Papua tinggal ceritera. Harus ada gerakan bersama. Orang besar kamu tidak menderita. Ia menambahkan bahwa kenyataannya mahasiswa buat diskusi dan demo akan tetapi mereka dikatakan mahasiswa yang sekolah tidak betul. Orang stress dll.

  1. Matius Murip:
Saya tergerak bekerja mengikuti bapak Pdt. Herman Saud selama ini, tapi sekarang saya mulai ragu, katanya. Saya usul kalau boleh pdt. Herman Suad, menulis buku lain dalam perspektif Jakarta. Sehingga bisa kita temukan, alternative lain. Kecewa kedua, MRP itu adalah Honai kita. Tapi pada kenyataannya orang Papua tidak ikut dalam proses. Yang berikut, kalau kita sepakati bahwa kemerdekaan tidak dibicarakan maka harus tunjukan di tempat mana kita harus bicarakan tentang kemerdekaan. Untuk Pa Budi. Seluruh Pelanggaran HAM di Papua masalah utamanya adalah masalah ekonomi barulah masalah politik. Karena gara-gara ekonomi: PT Freeport, integrasi Papua dipaksakan yang akhirnya sampai kini tetap membawa korban untuk masyarakat Papua. Ia mengakhiri dengan mengatakan: Atau bapa-bapa sudah mendapat bagian dari kapitalis global ini sehingga tidak berbicara tentang masalah ekonomi ini?

  1. Samuel
Tentang keraguan akan apakah di Papua bisa muncul Peolple Power. Hal ini dikomentari bahwa bisa. Pengalaman: rakyat mampu berkumpul, membangun dialog, dan OTSUS akhirnya lahir. Walaupun seluk-beluk OTSUS akhirnya diserahkan kepada para intelektual Papua yang bertanggung jawab. Dalam perjalanan OTSUS dikebiri habis. Muncul lagi kekuatan rakyat yang dikumpulkan oleh DAP. Hal ini dengan DAP 26 Agustus memobilisasi masa dan mengembalikan OTSUS. Akan tetapi lemahnya adalah tidak ada penawaran politik yang dibuat. Oleh karena itu ke depannya harus ada isu-isu hangat yang dibuat. Ia menambahkan bahwa toko-toko Gereja harus kumpul untuk bicara tentang penangkapan rakyat Papua. Jangan tinggal diam saja tatkala rakyat ditangkap dlsb. Tentang penambahan militer, di tanah Papua perlu suara dari Gereja. Kita perlu teologi pembebasan dan beberapa faksi-faksi perjuangan bersama.

  1. Natan Tebay
Saya melihat masalah Papua dan lahirnya buku ini ibarat Satu kaki di Jakarta, satu kaki di Papua dan satu kaki di luar.. sebagai ancaman untuk Jakarta, harapan untuk Papua dan solusi yang diharapkan ada peran pihak luar. Ia lantas melanjutkan pembicaraannya saat berkunjung ke LP, bertemu sdr. Buktar Tabuni seorang Tahanan dengan dakwaan Makar. Katayan Buktar tidak percaya bapa-bapa pendeta lagi. Mereka bicara yang indah-indah saja….Tapi kenyataan yang di bumi ini tidak ada. Ia mengakhiri kata-katanya dengan bertanya: Orang-orang tua buat apa? Gereja buat apa dan untuk ap? Anak muda sudah buat, tapi Gereja buat apa?

  1. Beberapa Komentar
  1. P. Dr. Neles Tebay, Pr.
Gereja perlu memikirkan posisi dan perannya! Itu satu tantangan dan panggilan untuk Gereja-Gereja. Ada satu aspek yang menyedihkan adalah agak sulit untuk membentuk persekutuan di dalam dan antar Gereja. Karena perkelahian. Ini membuat kesaksian kita keluar menjadi masalah. Saya menulis tentang tidak boleh dibahas “M” karena pemahaman pribadi terhadap persoalan Papua. M seperti asap. Ia keluar dari api. Kalau api belum dipadamkan maka asap akan tetap berkepul. Sehingga perlu menemukan api bersama antara Pemerintah dan Papua?

  1. Pdt. Dr. Sostenes Sumehe
Ia merasa dikritik. Oleh karena itu perlu memang dialog dengan diri sendiri. Gereja di Papua tidak mampu lagi berdialog dengan dirinya sendiri, karena lebih berteologi tentang surga daripada tentang dunia. Perlu pertobatan teologi. Karena kalalu tidak susah untuk mengharapkan aksi sosial. Walaupun arus seperti ini tidak mudah dikagumi. Selama ini ada kesan bahwa orang dalam Gereja, khususnya orang non Papua tidak merasa bahwa ini juga masalah mereka. Oleh karena itu kalau berjuang untuk Papua maka semua orang harus ikut berjuang. Salah satu dialog yang dibentuk dalam opini pertemuan ini adalah kekuaatn rakyat. Secara fisik/kuantitas ada akan tetapi spirit/kualitas dan strategi kita tidak miliki. Maka yang kita buat adalah dengan berdialog. Pendekatan kemanusiaan adalah jalan masuk akan tetapi politik dan ekonomi akan tersentuh. Dengan cara seperti ini hak-hak dasar orang Papua akan mendapat tempat yang utama dalam dialog..

  1. Pdt. Herman saud
Yang mau saya perjuangkan adalah kesejahteraan, dll. Kita bisa mulai dari sini/Papua. Kita mulai bicara apapun yang kita bisa… kalau kita mulai dengan damai.

  1. Pdt. Ketua sinode
Membangun opini masyarakat/opini bersama dengan otak kecil Pater Neles. Andaikan semua yang di Jawa mengembalikan semua yang ada, kita bisa buat. Oleh karena itu marilah kita mengatur langkah-langkah untuk menuju kepada keberhasilan perjuangan kita selama ini.

  1. Penegasan Moderator
Akhir dari dikusi ini adalah membangkitkan kesadaran bersama dan bukan untuk melahirkan suatu statemen. Gerakan untuk dialog hanya terjadi jika ada orang-orang menengah yang menyadarkan mayarakat untuk berjalan bersama.

  1. Beberapa Komentar Tambahan
  1. Harry Maturbongs
Kondisi terkini yang ada di depan mata adalah banyaknya penyakit sosial.. Saya kira sistim yang menindas kita sehingga tidak bisa banyak bersuara. Harus ada alternativ untuk mengbekap dialog. Dan juga mengapa tidak ada dialog masyarakat Papua dan polisi/TNI. Saya merasa bahwa perlu ada komisi rekonsiliasi. Karena belum ada perhatian untuk korban hak asasi manusia. Kita bisa melihat pelaku pelanggaran HAM mengalami 0 tahun penjara sementara yang katanya pelaku “makar” 15 tahun penjara. Mengenai kekuatan sipil.. apakah yang kita kejar. Karena kalau kita omong isu politik kita berhadapan dengan berbagai masalah… Soal melihat sesuatu yang substansial-kurang kepekaan. Jangan sampai satu saat kita sendiri saling berkelahi. Menarik adalah warga Papua: harus ada statemen yang jelas bahwa ada di sini sebagai orang Papua.

  1. Martin Agama: Parlamen Jalanan
Kapan dialog terjadi/bentuknya apa? Pengakuan kedaulatan/referendum/dialog. Jangan mengklaim bahwa saya adalah yang lebih baik. Kapan dialognya akan tiba? Kenapa mahasiswa Papua dari Jawa dan Bali Pulang ke Papua? Kami akar rumput siap untuk bergerak.

  1. Kesimpulan
    1. Pdt. Herman Awom:
Ia mengharapkan agar setelah pulangnya pater Neles dari Jakarta di mana beliau akan ke Jakarta tanggal 18 Maret 2009 ini, apa yang kita bicarakan ini akan dilanjutkan dengan kegiatan yang kongkrit. Usaha konkritnya adalah tiga orang pembedah buku dan penulis buku akan membantu kita untuk membuat sebuah rumusan yang baik. Kita akan dibagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan apa yang hendak kita buat sehubungan dengan komunikasi yang hendak kita bangun. Komunikasi ke MRP, DPRP dll. Dalam tim nanti perlu juga dilibatkan orang-orang Hukum, antropolog. Tak lupa perlu membuat tim yang akan melakukan konsolidasi publik ke Jakarta.
  1. Bpk. Philip:
Penting dialog dengan MRP, DPRP dan Pemerintah Papua. Bisa juga dimulai dengan evaluasi OTSUS. Dialog ini penting: ikut pikiran penulis dan harus mulai di antara orang Papua. Mengenai mereka yang merasa diri adalah orang Papua artinya warga pendatang yang bertumpah darah Papua atau yang mencintai perjuangan Papua mari bersatu dan berjuang bersama dengan orang Papua.

  1. Moderator
Membaca buku Pater Neles ini harus melihat dalam terang: Pengalaman masa kecil, membaca dan merenungkan KS, ASG, dan seorang akademis, wartawan dan rohaniwan. Pater hadir dengan buku ini menyadarkan kita bahwa kalau kita tidak buat sesuatu lebih banyak masyarakat asli Papua yang akan menderita. Maka diharapkan kita hadir sebagai sponsor untuk berbuat sesuatu yaitu dialog untuk kehidupan kemanusiaan di Papua.
Sumbangan dari pikiran kita, dan memulai sesuatu yang berguna. Gerakan bersama untuk dialog yang lebih lanjut. Pembicaraan ini tidak berarti menyelesaikan masalah yng ada di lapangan akan tetapi supaya kita selalu mau mencari api untuk menghilangkan asap yang ada dalam masyarakat. Ingat bahwa penulis adalah seorang Papua, wartawan dan seorang Pastor. Akhirnya maaf kalau ada salah.Terima kasih dan sayonara……..Wa..wa..wa..


SKP KEUSKUPAN JAYAPURA                                 KKRS STFT “FAJAT TIMUR” ABEPURA


        Bpk Untung Dien                                                         Sdr Santon Tekege
                                                                                        
                                                                   

                                              Mengetahui
                   Penulis Buku: Dialog Jakarta-Papua Sebuah Perspektif Papua
                                         Ketua STFT “Fajar Timur”

                                       Pastor Dr. Neles Kebadabii Tebay, Pr

Poskan Komentar