Selasa, 24 Februari 2015

BERTAHAN MELAYANI DI BALIK GUNUNG BILOGAI PAPUA


TANPA KENAL LELAH DAN DINGIN MEREKA TETAP MELAYANI UMAT ALLAH DI SANA

                
     Karya Para Suster PRR
Saya berjumpa dengan para suster yang berkarya di Bilogai. Mereka itu adalah Sr Cresensia, PRR; Sr Hermania PRR; dan Sr Designata, PRR. Mereka mensharingkan banyak hal yang dialaminya selama mereka berkarya di sana. Untuk sampai pada daerah Bilogai, orang mesti jalan mengudara melalui pesawat udara. Pesawat udara adalah sarana jalan satu-satunya yang digunakan oleh orang Bilogai termasuk para suster-suster ini. Para suster ini tidak pernah takut jalan terbang melalui pesawat. Pesawat yang masyarakat gunakan adalah pesawat AMA atau pun pesawat Trigana atau aviastar. Apakah para suster senang jalan terbang melalui pesawat? Jawabannya singkat: Jalan melalui pesawat sangat menyenangkan dan melihat segala pemandangan alam Papua secara langsung.
Mereka menyampaikan berbagai pengalaman dibalik gunung Bilogai. Siapa takut demi Injil dan Kerajaan Allah? Mereka berkata bahwa kami berkarya demi Injil Tuhan dan Kerajaan Allah. Hanya itulah motivasi dan harapannya sehingga kami tetap untuk memperlihatkan cinta kasihnya melalui karya-karya kerasulannya. Mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi di pusat biaranya. Mereka juga menyadari bahwa mereka bukan lagi memperlihatkan kekhasan mereka dari kampungnya masing-masing. Tetapi para suster ini sadar bahwa mereka telah menjadi orang Migani dan Ndani. Karena itulah mereka sedang dan akan melanjutkan karya-karyanya (karya pendidikan, karya koperasi, karya kesehatan melalui klinik, pembinaan anak-anak melalui asrama, dan karya pastoral pewartaan demi orang-orang yang ada di dekenat Moni-Puncak Keuskupan Timika-Papua.
Karya-karya yang dapat dikembangkan oleh para suster difokuskan pada beberapa hal teristimewa karya pendidikan usia dini mulai dari TK sampai SD di Bilogai. Para suster ini juga memiliki asrama. Mereka sedang membina para anak didik dari beberapa kampung. Anak didik mereka saat ini berjumlah 14 anak di Asrama. Para suster mengajari mereka. Memberikan teladan dan sopan santun yang baik agar anak didiknya bersikap dan berperilaku yang baik ketika anak didiknya menjadi dewasa. Para suster menyadari bahwa pendidikan di Indonesia atau khususnya di tanah Papua semakin hari semakin kacau. Buta huruf semakin banyak dan orang tidak mau lagi belajar lebih karena orang maunya ikut keramaian saja. Karena itu, para suster membangun asrama tanpa didukung oleh siapa pun. Mereka berkehendak kuat untuk membangun pendidikan dasar mulai dari TK sampai SD melalui pola berasrama. Tetapi para suster mengalami kesulitan mendapatkan dukungan dari siapa pun di dibalik gunung Bilogai ini. Keprihatinan para suster ini tidak ditanggapi oleh pihak mana pun sementara ini. Mereka mencari makan dan minum sendiri demi anak-anak didik mereka di asrama. Mereka mulai bangun asrama tanpa keprihatinan orang lain. Padahal kehadiran para suster untuk menjawab kebutuhan bagi anak-anak dari kota dibalik gunung Bilogai ini.
Selain keprihatinan pendidikan berpola asrama ini, mereka berkarya diberbagai tugas pastoral dekenat Moni-Puncak. Mereka tanpa kenal lelah dan capek, mereka melayani umat Migani dan Ndani demi cinta kasih dan persaudaraan sebagai umat Allah. Mereka merasa bahwa cinta kasih dan persaudaraan mesti nyata dalam pelayanan dan keterlibatannya pada orang-orang kecil dan tidak mampu. Di sini, mereka merasa senang karena Tuhan Yesus sudah dalam anak-anak. Mereka merasa bahwa Tuhan Yesus ada dalam orang-orang lemah dan miskin. Mereka merasa bahwa Tuhan Yesus yang selalu cinta kepada manusia siapa pun tanpa melihat latarbelakangnya. Karena itu, dengan senang hati mereka menyebarkan cinta kasih dan persaudaraan di tengah umat dibalik gunung Bilogai.
Para suster ini, tidak henti sampai disitu. Mereka mengembangkan karya pastoral ekonominya melalui kios. Kios milik Dekenat Moni-Puncak ini, dikelola  dan dikembangkan oleh para suster-suter ini. Di kios itu, jual berbagai bahan kebutuhan dasar, misalnya beras, minyak goreng, garam, dan lainnya adalah supermie, sardines, biskuait dan lainnya. Mereka berkata bahwa kios itu sangat membantu dan memudahkan masyarakat di kota ini. Dari berbagai kampung datang belanja bahan yang dibutuhkan oleh umat atau masyarakat pada umumnya. Wah, umat sangat senang sekali belanja di kios itu. Penarikan lainnya dari kios ini, adalah adanya berjualan berbagai alat rohani yang membantu mengembangkan imannya kepada Allah melalui sarana rohani itu. Selain itu, para suster itu, menjual majalah rohani dan kalender rohani yang sangat baik. Mau dapatkan itu? Silahkan datang di kios dekenat di Bilogai.

Bertahan karena Diutus
Ketika saya tanya: Suster, apakah dingin dibalik gunung Bilogai ini? Katanya, iya saya sangat dingin. Tetapi kami suster di sini “bertahan karena diutus”. Ketika dalam cerita-cerita kami sore ini bahwa para suster ini, diutus oleh Yesus sendiri untuk pelayanan demi Injil dan Kerajaan Allah bagi semua umat di sini. Karena itu, kami harus mendengarkan Dia yang mengutus kami sampai bisa berada dibalik gunung ini. Para suster ini, sungguh menghayati betul “Dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Allah Bapa memberikan kesaksian tentang Putera-Nya, bahwa Dialah yang dikasihi-Nya, dialah Sabda yang adalah Allah, Ia yang telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dialah kata-kata Allah yang terakhir untuk dunia. Allah meminta kepada setiap kita agar kita saling mendengarkan satu sama lain. Kami mendengarkan apa yang menjadi keluhan umat di sini yakni pola asrama dan berpihak kepada kaum lemah dan miskin di daerah ini.
Dalam sharing lanjutannya, para suster hendak melayani lebih. Ketika saya mendengarkan komitmen itu, saya merasa bangga sekali. Para suster ini, bisa menjadi agen pesawat AMA. Wah, sungguh luar biasa karya pelayanan mereka di balik gunung ini. Dan mereka meminta agar semua pihak untuk membantu kami dalam pengembangan asrama dan karya pastoral lainnya. Bagi para suster ini, kami siap diutus untuk hanya demi cinta kasih bagi semua orang sehingga kami mampu bertahan karena diutus oleh Yesus sendiri. Diutus oleh Yesus karena cinta kasih, maka kami tetap berkomitmen untuk bertahan dalam dingin dan hiruk pikuk demi banyak kaum lemah dan miskin dan demi anak-anak di Bilogai Kabupaten Intan Jaya di Papua.
Akhirnya, para suster ini siap bertahan dalam dingin dan hiruk pikuk segala hambatannya. Memang banyak orang tidak suka datang di balik gunung ini. Namun dibalik gunung inilah akan tumbuh dan mekar segala harapan kami. Untuk mewujudkan harapan ini, kami tetap berdoa kepada Allah yang selalu mendengarkan doa-doa kami. Kami juga menyadari bahwa Yesus yang berada dalam anak-anak dan kaum lemah dan miskin adalah Yesus yang selalu mendengarkan doa-doanya, Yesus yang mengutus kami berada dibalik gunung ini. Dibalik gunung ini, walaupun banyak tantangan dalam pelayanannya tetapi kami tahu di sini begitu banyak susu dan madu ditengah dingin dan hiruk pikuk. Dikatakan demikian karena Tuhan Yesus yang akan datang dan selalu datang dalam hati setiap langkah hidupnya. Marilah kita bersiap-siap diri dengan jalan pertobatan total dan berjaga-jaga menyambut datangnya Anak Allah, Putera-Nya Sang Mesias untuk keselamatan bagi setiap kita. Salam selamat merayakan Natal 2014 dan selamat memasuki Tahun Baru 1 Januari 2015. Amakanieee! 

Penulis: Santon Tekege



Poskan Komentar