Senin, 23 Februari 2015

DUKA NESTAPA, TANGISAN TERSIAR DI SELURUH TANAH PAPUA


(TUTUP BUKU KEHIDUPAN SEORANG PASTOR NATALIS GOBAI, PR
DI KEUSUPAN TIMIKA PAPUA)

Oleh Santon Tekege

Terdengarlah berita yang tak diduga oleh setiap kita. Berita itu mewarnai duka nestapa dan tangisan yang tersiar di mana-mana di seluruh tanah Papua. Berita itu tidak lain, berita duka meninggalnya Pastor Natalis Gobai, Pr. Wakil Uskup Keuskupan Timika, Pastor Natatalis Gobay, Pr meninggal siang, Minggu 1 Februari 2015 sekitar Pukul 13:00 waktu setempat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire-Papua. Kegiatannya seperti biasa dilakukan dari Pastoran Kristus Raja (KR) Malompo. Mama Marlin (pembantu masak di Pastoran), paginya, Pastor Nato memimpim perayaan ekaristi di Gereja KR Siriwini Nabire. Setelah itu, Pastor cerita-cerita dengan para frater dari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Jayanti Wadio di Pastoran. Saat saya masak di dapur, saya dengar ada bunyi besar di arah kamar Pastor. Saya ke sana cepat dan melihat Pastor sudah jatuh di kamar mandi. Pastor sudah tidak bersuara. Saya panggil Pastor punya om dan umat untuk dibawa ke rumah sakit. Tiba di sana, Pastor sudah tidak tertolong, katanya dengan meneteskan air mata. 
Salah satu umat Gereja KR, menjelaskan, saat kotbah pada hari Minggu pagi tadi, Pastor Nato mengingatkan, “setiap orang saling menghargai dan menghormati dalam keluarga dan masyarakat. "Tadi pagi, pater kotbah, suami tunduk pada istri, istri tunduk pada suami. Anak-anak dengarkan orang tua. Saling mengasihi antar kalian dalam hidup”, kata umat Kombas St. Yohanes Pemandi (Paroki KR Malompo Nabire) katanya Ibu Degei. (Baca Majalah Selangkah)

Pastor Nato Menolak Ketidakadilan
Pastor Nato adalah seorang pastor orang asli Papua yang dengan lantang dalam berbagai kesempatan dan forum menentang ketidakadilan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di tanah Papua.  Saat ia bertugas di Pastor Paroki Santa Maria  Biak misalnya, Pater Nato menentang pelanggaran HAM di tanah Papua. Bahkan, ia sempat ke sejumlah negara untuk berbicara kondisi  HAM di Papua. 
Makalah yang ia sampaikan pada 29-30 Juni 2000 di Berlin misalnya bisa Anda baca di sini, "TANTANGAN GEREJA DALAM MENSIKAPI KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN DI PAPUA BARAT". Pastor Nato Gobay juga menentang keras menindas orang lain dengan mengatasnamakan iman. Iman seringkali dijadikan alat untuk menindas orang lain. "Banyak umat kristiani perilakunya dan tindakannya menindas orang lain. Di Papua, banyak umat Kristiani mengaku orang Kristen dan membawa-bawa agama atau imannya dalam kata-kata unuk meloloskan diri dalam pekerjaan atau himpitan tetapi perilakunya di lapangan justru menindas orang lain", (baca: Wakil Uskup Timika: Jangan Menindas Atasnamakan Iman).
Pada 17-20 November 2014 lalu, Pastor Nato juga memimpin Musyawara Besar (Mubes) penanggulangan HIV dan AIDS dan Minuman Keras (Miras) di Wilayah Meepago (Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, dan Mimika) yang melibatkan ribuan orang dan menghadirkan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe serta 7 Bupati di Meepago di Gereja Katolik Kristus Raja. (Baca: Mubes Miras dan HIV Wilayah Meepago). 
Pastor Nato Gobay, Pr dalam kotbahnya pada perayaan Hari Kristus Raja di Gereja Kristus Raja Nabire, Minggu 23 November 2014 lalu meminta umat Katolik untuk mengingatkan kepada toko penjual minuman keras, warga penjual minuman lokal, penginapan gelap/kumpul kebo, Panti Pijat, Praktek Diskotik, Cafe, Bar, Togel, Lokalisasi dan Narkoba di Wilayah Meepago untuk segera tutup dalam jangka waktu 6 bulan sejak 20 November 2014. "Masyarakat adat Meepago telah menggelar Musyawarah  Besar (Mubes). Hasilnya, masyarakat memberikan waktu 6 bulan untuk tutup miras pabrik dan miras lokal serta semua bar, panti pijat dan lokalisasi; cabut semua izin dan terbitkan Perda larangan. Dalam waktu 6 bulan ini segera beralih usaha. Kalau tidak, saya akan pimpin hancurkan Miras dan Prostitusi," kata Pastor Nato saat itu. 
Ia juga bicara keras atas kasus Paniai. Dalam pidatonya saat penahbisan 10 imam baru di Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Selasa 6 Januari 2015 menentang keras penembakan di Paniai. Pada acara yang dihadiri ribuan orang dan disiarkan langsung RRI itu, Pater Nato menegaskan, orang Papua bukan binatang buruan. "Pemerintah dan aparat militer baik TNI maupun Polri, tolong jangan lakukan penembakan terhadap umat saya. Tidak lama ini aparat sudah menembak mati lima anak muda yang menjadi harapan bangsa ini. Itu terjadi di kampung saya. Saya minta jangan lagi melakukan penembakan terhadap umat saya," tegas Nato saat itu. Saya tidak mau lihat lagi. Saya tidak mau dengar lagi kamu (aparat-red) tembak lagi umat saya di tanah Papua ini kedua kalinya. “Me wagi kouko daa” artinya tidak boleh membunuh. Manusia Papua itu bukan kus-kus yang harus diburu terus. Harus menciptakan damai di tanah Papua. Bukan menciptakan konflik.
Pada saat itu, Pastor Nato meminta kepada 10 Imam baru Keuskupan Timika yang baru ditahbiskan tersebut  untuk menjadi suara bagi umatnya yang tak bisa bersuara atas berbagai soal di tanah Papua, khususnya di wilayah Keuskupan Timika, (baca: Wakil Uskup Timika Minta 10 Imam Baru Bersuara Atas Berbagai Soal di Papua).
            Kematian adalah milik Sang Pencipta. Ia tak bisa ditolak oleh manusia, termasuk oleh Pastor Nato. Banyak tugas mulia dan banyak ide, tentang  pendidikan YPPK, tentang pembangunan Gereja KR yang besar,  tentang HAM, tentang kesehatan (pemberantasan HIV/Miras), dan masih banyak lagi telah pergi bersama Pastor Nato. 
Kepergian Pastor Nato kepada Bapa di Surga adalah kehilangan besar bagi banyak orang di tanah Papua. Tidak hanya bagi umatnya di gereja KR, tetapi juga bagi banyak orang yang ia layani dan ia suarakan dengan lantang selama hidupnya di tanah Papua.

Duka Uskup Saklil: Kali Ini Engkau Datang dengan Cara yang Berbeda
Kalimat pertama menyambut jenasah Pastor Nato Gobay, Pr menyentuh warga dan umat yang berduka sekelilingnya. Duka bagi warga Mimika, setelah jenasah itu tiba dari kota Nabire, tempat kematian pastor Projo Keuskupan Timika itu. “Kali ini (Pastor) Natalis Gobay, datang dengan cara yang berbeda,” sambut Uskup Keuskupan Timika, John Philip Saklil,  selasa 3 Februari 2015 pada jam 15.00 sore waktu setempat.
Sambutan itu diungkapkan Uskup ketika arak-arakan jenasah itu tiba dari bandar Udara Moses Kilangin Timika menuju pintu Gereja Katedral Tiga Raja Timika. Riak dan tangis kaum ibu menyelimuti suasana duka itu. Beraneka ragam kisah, suka dan duka bersama pastor terungkap saat itu. Mereka mengisahkan kisah perjumpaan bahkan nasehat dan motivasi dari pastor kala situasi beragam di waktu silam di kota dollar ini. “Ini mau berdoa untuk Pastor Nato. Jadi tidak usah menangis,” tegur seorang Bapa, mengingatkan ibu-ibu itu.
Selanjutnya, jenasah itu diarak menuju ke depan Altar Gereja katolik terbesar di Kota Timika itu. Ibadah penyambutan jenasah dipimpin Uskup Timika, Mgr John Philip Saklil, Pr. Pimpinan gereja katolik itu tampak mengenakan jubah kebesaran berwarna unggu, tanda perkabungan. Demikian juga warna hitam dan putih untuk sejumlah pastor dari Keuskupan Timika dan beberapa pastor yang bertugas di lingkup Keuskupan Jayapura turut berduka dalam ibadah penyambutan itu. Proses perayaan penyambutan dilangsungkan kurang lebih sekitar 15 menit. Usai ibadah singkat, separuh umat dan keluarga beserta kerabat mengunjungi dan menangis pembaringan sementara jasad di depan altar suci gereja Katolik, bertujuan hendak mengetahui dan memastikan nasib pastor itu. Mereka menangisi di depan altar itu. Berbagai ungkapan dan lontaran kalimat bercampur tangis. Tentunya, duka lebih banyak dibanding, kisah suka di masa lalu bersama Pastor pemberani dan pembela Hak Asasi Manusia (HAM) itu.

Pemakaman Pastor Nato Gobay, Pr di Pekuburan Unio Projo
Setelah 2 hari dua malam disemayamkan di Gereja Katolik Katedral Timika, kini tiba saatnya untuk mengadakan misa penghormatan terakhir untuk Pastor Natalis Gobay. Ribuan umat dari denominasi Gereja di Timika dan umat Katolik merayakan misa penutupan tutup buku Kehidupan Pastor Nato Gobay.
Sebelum jenazah diberangkatkan, adanya beberapa kata-kata sambutan. Perwakilan dari keluarga, bapak Drs. Ayub Kayame, menyampaikan bahwa kami persembahkan kepala Allah, Pastor Natalis Gobay, Pr atau dalam Gereja Kingmi terdaftar nama Yulius Gobay. Dia adalah sosok pejuang perdamaian dan keadilan, sosok pejuang HAM, dan pejuang bagi semua orang di Papua. Bapak Ayub Kayame mengajak agar kita semua belajar dari sosok pejuang segala hal ini. Dan beliau berkata “Keuskupan Timika adalah kebunnya masih luas, butuh anak-anak generasi berikut pengganti Pastor Nato di Keuskupan Timika”, karena itu beliau meminta Uskup agar kaderkan anak-anak muda di Keuskupan ini, dan ditutup dengan istilah “Uwaakomo kaa, tookomo kaa”.
Sementara Pastor Amandus Rahadat, Pr menyampaikan dalam sambutannya bahwa Pastor Nato memperhatikan beberapa bidang. Bidang-bidang tersebut adalah Pertama, bidang pendidikan (Yayasan, Pendidikan Pastoral, dan Pedoman YPPK); kedua, Bidang Sosial Ekonomi (keberpihakan pada orang miskin dan lemah, perhatian pada Mama-mama asli Kamoro dan Amungme, memperjuangkan LPMAK dana 1 %, dan CU; ketiga, bidang Pembelaan HAM (pendampingan bagi para korban ketidakadilan, menyuarakan kasus pembunuhan, dan dialah seorang imam Katolik yang berani menyuarakan orang yang miskin, menderita dan tertindas oleh penguasa Indonesia); dan keempat, bidang kesehatan (beliau bicara soal HIV dan AIDS, dan mengadakan musyawara besar untuk kasus virus HIV dan AIDS). Selanjutnya pemerintah Mimika wakil Bupati Mimika bapak Bassang, dan Perwakilan Gubernur Papua. Akhirnya sambutan ditutup oleh Mgr. Uskup Timika bahwa “Nato selalu suka damai, karena itu kita antar dengan damai” di tempat peristirahatan terakhir dalam peziarahan seorang Nato.
Setelah misa, ribuan umat berarak mengikuti jejak pelayanan Pastor Nato mulai dari Gereja Tiga Raja, masuk di jalan Koperapoka, lanjut di Belibis dan Timika Indah, kemudian masuk di jalan SP 2 dan menuju ke Pekuburan Unio Projo. Ribuan umat jalan kaki dan ribuan orang jalan dengan kendaraan. Akhirnya Pastor Natalis Gobai, Pr disemayamkan di pekuburan Unio Projo Kompleks Keuskupan Transit Bobaigo di jalan SP 2 Timika.

Tutup Buku Kehidupan Pastor Natalis Gobai, Pr
Hari ini, kita menutupi seluruh kehidupan Pastor Natalis Gobai, Pr. Kita merayakan 7 malam hari ini, berarti kita tutup buku kehidupannya. Dalam perayaan 7 malam meninggalnya Pastor Nato itu, dipimpin langsung oleh Mgr. Uskup Timika-Papua.
Dalam kotbahnya, Mgr. Uskup Timika mengingatkan kita bahwa semua orang akan meninggal dunia, itu pernyataan iman. Kita bertanya apakah kita masuk surga atau neraka. Untuk jawab itu adalah tergantung kita buat apa sekarang ini. Apa yang kita buat sekarang ini akan menjadi tiket masuk surga. Apa yang kita buat sekarang akan menjadi jaminan, Apakah kita ditolak atau diterima Allah. Kita tidak bisa katakan saya ini orang hebat, pengaruh, pejabat atau lainnya. Injil hari ini mengajak kita bahwa mereka yang masuk surga adalah mereka yang melakukan kehendak Allah.
Selanjutnya bahwa kita tidak tahu apakah Pastor Nato masuk Surga atau tidak. Kita semua tidak tahu. Yang menentukan masuk Surga atau tidak adalah Tuhan Allah sendiri. Tapi kita sebagai orang beriman percaya bahwa kita berdoa agar dia diterima di sisi Allah. Karena alasannya bahwa dia sudah menjalankan hidup yang baik. Yang jelasnya bahwa pastor Nato telah membuat banyak hal. Dia berdoa kepada mereka yang sakit, bisa sembuh, menderita bisa hidup baik, susah bisa gembira, lapar bisa kenyang, dan lainnya.
Pastor Nato sudah berjanji kepada Tuhan dan dia membuat perjalanan panjang. Kita yakin bahwa dia sudah membuat banyak hal demi banyak orang di negeri ini. Kita menyesal karena dia sudah tidak ada. Kita sedih karena dia membuat banyak hal. Maka itu kita percaya bahwa pastilah dia diterima di sisi Allah tapi kita tidak tahu. Kapan dia mau ambil atau kapan kita dipanggil Tuhan. Karena semuanya adalah rencana Allah. Siapa pun yang meninggal adalah dia tutup buku. Kita menangis tapi menangisi diri kita. Kita sedih untuk diri kita karena kita semua masih dalam perjalanan dan kita buat apa agar kita masuk surga.
Mgr. Uskup Keuskupan Timika mengingatkan pesan-pesan dari seornag PastorNato. Dan Nato bilang: kalau ko masuk surga, maka ko jangan benci orang lain. Kalau masuk surga ko harus berjuang agar semua orang bisa hidup baik. Semua orang bisa hidup dalam kebenaran. Dia bilang kamu semua harus hidup benar. Bukan mereka saja tapi kita semua hidup baik. Kalau hidup benar, maka itu, siapa yang melawan kebenaran dia berperan. Siapa yang melawan ketidakadilan dia bermusuhan. Semua orang yg berada dalam penindasan, Nato berperan terus. Tugas kita adalah tidak usah menangis. Kalau engkau sayang Nato, teruskan dia punya hidup, engkau teruskan teladan, dan teruskan dia punya nasehat, teruskan dia punya kata. Kalau hari ini saja dan kembali pada hidup sebelumnya, maka percuma saja kelakuan itu.
Seorang Nato berjuang HAM bukan saja sembayang di gereja. Dia buat di lapangan dan dia bicara. Kita juga bersama berjuang agar semua orang hidup dalam damai. Seorang Nato bilang bicara terus pendidikan. Dia bicara terus mengenai pendidikan, dia nasehat harus sekolah sampai sarjana, dan bicara soal berbagai anak-anak muda yang tidak sekolah. Karena Papua akan selamatkan kalau anak-anaknya sekolah. Kalau anak-anakmu tidak sekolah, akan bikin kacau situasi dan kehidupan masyarakat sekitarnya. Di mana-mana orang butuh ijazah dan semua kantor butuh ijazah. Kalau minum mabuk tidak pakai ijazah. Banyak anak tidak sekolah, baca, hitung, dan tugasnya hanya sebagai karyawan minum mabuk saja.
Kalau kamu mau sayang sama Nato, maka kita harus ikuti nasehatnya agar anak-anak bisa sekolah. Untuk apa ko menangis, sementara anak mu tidak sekolah. Percuma, tidak usah menangis. Ko menangis karena saya pu om, tete, bapak, dan tanta tetapi ko pu anak tidak sekolah padahal Nato bicara tentang sekolah, pendidikan, dan lainnya. Kalau mau menjadi Nato, ko harus sekolah. Itu pesan. Dia tidak kasih tinggal uang, mobil, motor, babi, maitua. Tetapi dia kasih tinggal nasehat dan pesan-pesan. Nato bilang: Hati-hati dengan penyakit HIV dan AIDS. Hal itu yang dia bicarakan pada 17-20 November 2014 di Nabire.
Dalam Mubes itu, hati-hati ko kawin orang di pasar, nanti ko bawa penyakit HIV dan AIDS. Hati-hati dengan miras karena orang papua mati karena miras, HIV dan AIDS. Ko sendiri yang pergi cari sama dia. Orang banyak meninggal karena miras, HIV dan AIDS bukan karena perang. Jangan salahkan orang lain karena ko sendiri yang cari dia. Banyak orang mati mudah karena barang-barang ini. Kalau ko sayang Nato, ko kasih tinggal itu.  Itulah dia punya nasehat dan kata-kata terakhir.
Untuk apa menangis kalau ko tidak ikut nasehat. Untuk menangis dia tapi ko tidak sekolah. Untuk apa ko menangis-menangis tapi ko pergi cari di pasar, tidak tahu cari apa di pasar?
Maka itu hari ini, kita tutup cerita Nato. Tuhan Allah menutup buku kehidupan Nato di dunia ini. Namun ko harus lihat ke depan. Karena cerita Pastor,  Tuhan Allah tutup hari ini. Ko harus pikir dan lihat masa depan, saya harus buat apa? 
Bapa Uskup Timika mengingatkan kepada bahwa Patoga Nato buat itu, saya bicara, saya lanjutkan, dan buat apa untuk hari ini dan masa depan? Daripada ko cari siapa salah atau siapa yang bunuh. Kalau ko mau hidup, ko lihat masa depan. Saya punya anak bagaimana supaya anak ku ini menjadi pengganti Nato. Nato hebat maka banyak orang hebat. Nato hebat karena itu semua orang sedih dan merasa kehilangan. Karena itu, ko harus berjuang dan bicara banyak orang demi keselamatan bagi banyak orang di bumi Papua. Semua orang di mana-mana asap babi naik, bukan saja asap doa tapi asap babi naik di mana-mana (di Badauwo, Enarotali, Nabire, Timika). Karena itu Tuhan Allah bingun lihat yang asap babi atau asap doa, ternyata Tuhan Allah mendengarkan asap doa-doa agar Nato masuk Surga.

Penulis: Penulis Petugas Pastoral Keuskupan Timika-Papua.


Poskan Komentar