Selasa, 01 Oktober 2013

SAYA MENULIS, MAKA SAYA ADA


SAYA MENULIS, MAKA SAYA ADA
(“Sebuah Refleksi yang Disampaikan dalam Seminar Perkenalan Pelajar dan Mahasiswa/i pada 28 September 2013[1]”)

Oleh Santon Tekege

Pengantar
Dalam konteks di Papua, gaya berkata-kata menjadi makanan harian. Menurut orang Papua hal cerita sebagai habitus harian mereka. Dalam banyak permasalahan yang terjadi di Papua selalu diungkapkan dalam bentuk cerita dan obrolan biasa. Karena orang Papua tak berbudaya untuk tulis menulis.
Dalam situasi ini, mesti dikatakan demikian karena memang banyak yang tidak terbiasa dengan tulis menulis. Tetapi kalau disuruh cerita, kata-katanya sistematis dan terstruktur. Karena itu, saya menyampaikan beberapa langkah yang mesti dibuat oleh setiap kita untuk menjadi penulis yang hebat di publik.

a.    Prinsip Dasar
Dalam budaya orang Papua, tulis menulis merupakan bukan habitusnya. Karena itu, orang Papua selalu biasakan dengan gaya cerita dan obrolan. Tetapi perkembangan globalisasi dalam modernisasi ini menantang setiap kita untuk menulis dan terus menulis. Apalagi begitu banyak permasalahan yang terjadi di sekitar kita, membuat dan menantang untuk terus tulis bukan gaya berbicara tanpa catatan.
Memang dalam menulis sesuatu itu selalu ada keraguan dan kebingungan[2]. Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis di surat kabar maupun menjadi penulis buku, sangat mudah dan tidak sulit karena menjadi habitusnya. Tetapi menulis bukan sesuatu yang turun secara tiba-tiba dari langit tetapi membutuhkan latihan. Misalnya sorang anak latihan anak panah untuk berburu, sering panahnya tidak kena sasaran pada kuskus atau burung yang hendak berburu tetapi setelah latihan akhirnya bisa tembak anak panahnya kena sasaran pada binatang buruan. Contoh selanjutnya ketika belajar mengendarai sepeda, awalnya didorong kemudian mencoba menaiki walau kadang terjatuh, kemudian dengan motivasi yang tinggi bangkit kemudian mampu mengendarai sampai akhirnya bisa.
Dengan demikian buanglah pandangan yang keliru dalam konsep “jika saya cerita, maka saya ada”. Karena konsep ini tidak relevan dalam konteks globalisasi modern di Papua saat ini. Maka dari itu, kita mesti memajukan prinsip dasar yakni “saya menulis, maka saya” bukan “saya cerita, maka saya ada”.  

b.    Setia Pada Ide
Cara berpikir setiap orang selalu beda. Begitu pun setiap orang selalu mempunyai banyak ide-ide cemerlan. Ide yang bagus biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa terencana tetapi juga ide yang bagus itu, cepat hilang dan berganti ide yang baru atau ide lain. Karena itu ketika muncul ide, tuliskanlah sesegera mungkin di kertas anda, buku harian anda, agenda atau di komputer/laptof anda. Maka dari itu setialah dan hargailah ide sekecil apa pun muncul dalam akal budi setiap kita. Sekecil apa pun sebuah ide adalah tak dapat dibeli karena dengan mahal harganya sebuah ide itu.
Jika kita sesudah memiliki ide, apa yang kita tulis?  Entahlah ide-ide yang muncul dalam hati dan pikiran kita itulah yang kira tuliskan. Untuk menuliskan itu, memulai dari hal kecil misalnya melalui mengisi buku harian, menulis peristiwa yang kita lihat dan rasakan ataupun peristiwa yang dirasakan penting dan menarik. Kalau sudah terbiasa akan sedikit membantu kita, kita akan semakin terbiasa. Maka itu, gunakanlah ide sekecil apa pun atau pengalaman yang dialaminya. Kemudian setialah pada ide itu lalu menuliskannya dalam catatan harianmu untuk menulis tulisan-tulisan yang lebih besar di publik.  

c.     Langkah-Langkah Konkrit
Beberapa criteria penulis menuliskan sebuah berita atau isu yang menjadi perhatian baginya. Misalnya seorang jurnalis bapak Ermanto dalam salah satu buku berjudul Menjadi Wartawan Handal dan Profesional berpendapat bahwa, kerja wartawan yang paling banyak dan paling berat sebenarnya bukanlah terletak pada penulisan berita, akan tetapi dalam hal pengumpulan data dan fakta. Wartawan harus menggali data-data dan fakta-fakta serta mengumpulkan sebagai modal dasar untuk menjadi berita. Metode yang mesti dikembangkan dalam menganalisis suatu berita yakni: pengamatan langsung wartawan, informasi lisan dari orang-orang, dan informasi tertulis/bahan-bahan tertulis dengan mempertanyakan melalui rumus “5W + 1H”. Apa itu?
Ø  Siapa “who” : Siapa yang diberitakan dalam berita itu. Kemudian Dapatkanlah nama lengkap dari orang-orang yang terlibat.
Ø  Apa “what”: Apa permasalahan atau kejadian yang terdapat dalam berita.
Ø  Kapan “when”: Kapan kejadiannya? Catatlah hari dan waktu dari peristiwa itu.
Ø Di mana “where”: Di mana lokasinya kejadianya. Lalu dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah.
Ø Mengapa “why”: Mengapa terjadi peristiwa itu. Mengerti apa yang menjadi penyebab peristiwa itu. Apa yang menyebabkan konflik dan bila ada bagaimana pemecahannya.
Ø Bagaimana “how”: Bagaimana berlangsungnya peristiwa itu. Cari lebih banyak informasi tentang peristiwa itu. Bagaimana itu bisa terjadi.  Berita yang tidak memenuhi persyaratan teknis akan membingungkan pembaca, karena tidak tersaji dengan lengkap. Maka itu, memperjelas pembaca, gunakanlah : “5W + 1H”.

Penutup
Dalam tulisan ini, kita ditantang untuk pentingnya tulis menulis karena orang Papua tidak berbudaya untuk tulis-tulis. Budaya orang Papua kaitan dengan menulis adalah gaya obrolan atau cerita satu sama lain di sekitarnya. Budaya berbicara tanpa konsep atau gagasan yang ada di bibir mulut mesti dirubah dengan budaya angkat pena. Begitupun budaya konsep “saya cerita, maka saya ada” mesti dirubah menjadi “saya menulis, maka saya ada” dan katakanlah bahwa “jika saya tidak tulis, maka orang lain pun tidak menulis”, karena itu biasakanlah untuk menulis mulailah dari kecil menuju menulis yang lebih besar. Demikianlah!!!


[1] Sebuah refleksi yang disampaikan dalam seminar SIMAPITOWA, sejak 28 September 2013.
[2] Sebelum menulis orang sering ragu dan bingun dengan dirinya dan tulisannya, jangan-jangan dibaca orang lain. Demikian pun ketika tulisan sudah jadi dan siap untuk dipublikasikan ke berbagai media local dan nasional bahkan ke tingkat Internasional, keraguan dan kebingungan sering muncul. Hal ini terjadi karena takut, malu dikritik dan atau dikoreksi orang lain, takut dibilang tata bahasanya kurang baik, atau tulisan kita tidak kontesktual. Hal seperti itu tidak perlu dipikirkan. Justru akan bermakna positif bila kritik dan ketakutan itu kita maknai sebagai kekuatan dalam proses tulis menulis menjadi penulis yang hebat di public. Keraguan dan kebingungan sebagai pedang atau senjata, sehingga membuat kita takut, tidak percaya diri, takut ditolak itu karena merasa kalimat kita tidak bagus atau tidak menarik dalam menguraikan ide dan gagasan. Tidak harus merasa rugi, ragu dan takut atau kebingungan karena sudah  tentu menambah poin tersendiri dalam proses latihan tulis menulis. Maka, pada saat seperti ini setia pad aide dan tulisan kita itu paling utama. Tidak ada kata menyerah, harus teruslah dicoba dan terus dicoba dalam perjalanan ini.

Poskan Komentar