Rabu, 09 Oktober 2013

PROTES PENCEHAN HIV-AIDS DI PAPUA YANG TAK MEMPAN SOLUSI PENYELESAIANNYA


Protes Pencegahan HIV-AIDS di Papua Tak Mempan
AIDS-HIV-Stop-0978Jayapura (Sulpa) – Angka penderita HIV-AIDS di Kabupaten Mappi, Papua makin “menaikkan” peringkat Papua dalam angka HIV-AIDS di Indonesia. Protes dan pelayanan pencegahan penyebaran HIV-AIDS sejauh ini belum mempan menekan laju angka penderita.
Menurut data Kementerian Kesehatan, kasus kumulatif HIV-AIDS pada periode 1 April 1987-31 Maret 2013, di Papua angka HIV mencapai 10.776 dan AIDS 7.796 total 18.676.
Angka AIDS di Papua, tertinggi di seluruh Indonesia, menyusul Jawa Timur 6.900 dan DKI Jakarta 6299. Sedangkan angka HIV berada di urutan ketiga, setelah DKI Jakarta 23.792 dan Jawa Timur 13.599.
Upaya menekan angka HIV-AIDS ini di Papua sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Tahun 2003, Romo Carolus Loyak Pr memimpin aksi demo ke DPR Papua bersama tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh masyarakat, untuk menuntut penutupan lokalisasi yang menjamur di wilayah pelayanan gereja saat itu.
Protes itu, didasarkan pada kekhawatiran suatu saat HIV-AIDS akan meledak di wilayah selatan Papua, karena saat dilakukan test darah di sana saat itu memang ditemukan kasus HIV yang tidak kecil.
Dokter yang bertugas di Mappi, dr Giovanny Tanudjaja kepada SP, pekan lalu di Mappi mengatakan, tiga puskesmas dipersiapkan sebagai puskesmas untuk menangani masalah HIV, yaitu Puskesmas Senggo, Puskesmas Bade, dan Puskesmas Eci, namun karena petugas tidak ada, maka semua pemeriksaan HIV dipusatkan di Klinik Terpadu Penyakit Infeksi di RUSD Kepi.
“Kendala terbesar tidak dilakukannya pencarian penderita secara aktif karena keterbatasan tenaga dan dana. Jadi, yang ada hanya  pemeriksaan secara sukarela. Padahal, tak banyak warga yang mau datang untuk melakukan pemeriksaan dengan kesadaran sendiri. Itu kendala yang kita alami di Mappi, padahal penyebaran HIV ini cukup mengkhawatirkan,” kata dokter, yang sebelumnya melayani di Klinik Terpadu Penyakit Infeksi.
Dikatakan, tahun 2006-2010 lalu, pernah dilakukan zero survey untuk mengetahui data pasti penderita HIV-AIDS. Demikian juga Program Save Papua digelar untuk sosialisasi bahaya HIV-AIDS.
“Namun, kegiatan tersebut juga tidak maksimal karena dari 126 kampung di Kabupaten Mappi, hanya sekitar 5 kampung dalam setahun yang sampel darah warganya diambil. “Lagi-lagi masalah dana yang membuat kita terbatas melakukan pengambilan sampel darah di semua kampung,’’ jelasnya. (C/Suarapembaruan/R4/LO-03)
Poskan Komentar