Rabu, 06 Mei 2015

TERNYATA MEDAN PASTORAL DI DEKENAT MONI-PUNCAK BERAT MENJANGKAU

MESTI DIPIKUL KARENA KRISTUS YANG DATANG
Oleh Santon Tekege*****


Berilah kami rahmat kekuatan agar kami sanggup menerima kepahitan dan kegetiran hidup yang menimpa pada setiap kami di dunia ini. Dengan rahmat-Mu itu, kami dengan layak dapat menerima segala rencana dan kehendak-Mu. Jadikanlah segala rahmat-Mu itu sebagai jaminan selama kami hidup khususnya ketika kami derita, tidak mampu berjalan, dan tidak kuat menjalani hidupnya bahkan ketika kami diambang maut. Ya Yesus, Engkau hadir sebagai penghibur dan pemberi kekuatan dalam pelayanan dan pewartaan Injil-Mu di segala bangsa. Di dalam pelayanan dan pewartaan itu selalu ada banyak derita, sakit, merasa tidak kuat, tantangan dan godaan, dan bahkan merasa diambang maut. Namun penyertaan Tuhan Yesus selalu ada untuk para pengikut Kristus. Karena itu, jangan takut dengan medan yang sulit dan tidak bisa dijangkau oleh kita. Berkaitan dengan itu, saya akan perlihatkan dalam tulisan ini tentang medan Pastoral dekenat Moni-Puncak. Medan Pastoral yang begitu berat dan tidak bisa dijangkau sehingga dibutuhkan semangat lebih dari seorang pelayan Tuhan dan menjadi siap diutus demi kemuliaan Allah dan mencintai sesama manusia di segala bangsa.

Mesti dipikul karena Kristus yang datang
Suster Cresensia, PRR dan saya akan tourney Paskah 2015 di Quasi Paroki Bugulo di Paroki Bilai Dekenat Moni-Puncak. Kami menyusuri melalui gunung-gunung sambil menikmati kesejukan udara pada hari rabu, 1 April 2015. Kami berjalan di tempat Tourney sebelum Perayaan Hari Kamis Putih.
Dalam perjalanan itu, suster tidak bisa berjalan mendaki sampai di puncak gunung di Quasi paroki itu. Akhirnya suster dipikul dalam noken oleh umat Bugulo. Umat mengatakan bahwa “Mesti dipikul karena Kristus yang datang”. Ungkapan ini sangat mendalam. Dari ungkapan ini, diperlihatkan bahwa mereka sedang butuhkan seorang pelayan Tuhan. Dalam menantikan datangnya seorang pelayan Tuhan itu, umat di sana semangat dan pelayanannya cukup baik. Dan saya kaget melihat semangat umat yang luar biasa itu. Bahkan mereka mampu memikul suster dalam keadaan mendakian gunung ini.
Ketika kami sampai di sungai Kemabu, umat dengan tarian menjemputnya. Tari-tarian itu dari OMK dan bapak-bapak dan ibu-ibu di Bugulo. Suasana iklim waktu itu sangat cerah dan hangat dingin. Karena dinginnya cuaca itu, dapat memberikan kesegaran dan menghirup udara segar. Apalagi berjumpa dengan umat yang sangat sederhana dan hatinya yang tulus. Karena keadaan umatnya yang baik dan iklim yang mendukung sehingga dapat disembuhkan lelah dan capek setelah mendakian gunung-gemunung di dekenat ini.


Medan Pastoral Dekenat Moni-Puncak
Medan Pastoral keuskupan timika sulit menjangkau dan dilaluinya. Segala teori dan buku-buku yang kita baca itu tidak berlaku ketika berada di daerah pelayanan keuskupan ini. Kesulitan untuk dijangkau medan pastoralnya bukan saja di gunung tetapi juga di laut. Kita bisa berkoar-koar dengan berbagai teori dan ungkapan tetapi sulit terbukti ketika kita berada di medan pastoral di laut maupun di gunung Keuskupan Timika. Apalagi beratnya medan pastoral di dekenat Moni-Puncak.
 Kita memandang medan naik turunya gunung-gunung dan keganasan ombak yang dapat menakutkan setiap kita. Tetapi itu bukan menjadi penghalang berpastoral dan bermisi. Jadi siapa pun petugas pastoral yang hendak berpastoral dan bermisi di dekenat ini, mesti siap mental dan tenaganya untuk menghadapi kesulitan medan pastoral ini. Kepenuhan tenaga dibutuhkan untuk dapat melalui kesulitan medan pelayanan pastoral di gunung maupun ketika diperhadapkan dengan ombak ganas di pesisir pantai. Memang kita melihat dari dekat bahwa keuskupan ini berbeda jika dibandingkan dengan keuskupan lain di Indonesia.
Di tengah medan pastoral yang sulit dijangkau ini, petugas pastoral yang bertugas di sana adalah Pastor Yustinus Rahangiar, Pr; Pastor Samuel Ohoiyaan, PRR; Pastor Ronald Sitanggang, PR; dan Suster-suster tarekat PRR selalu setia dan bertahan melayani umat Allah di dekenat ini. Dalam dekenat ini terdiri dari beberapa kabupaten: Kabupaten Intan Jaya “Bilogai”, Kabupaten Puncak Jaya “Mulia”, Kabupaten Puncak Papua “Ilaga”, Kabupaten Nduga “Beoga”, dan Kabupaten Mamberamo Raya.
Semua kabupaten ini berada di ketinggian pegunungan Papua Tengah. Dalam gunung yang tinggi dan menjulang membuat kesulitan sekali untuk dijangkau. Tetapi tenaga pastoral selalu melayani dan menyerbarluaskan Injil-Nya dengan penuh semangat karena Tuhan Yesus menyertai mereka. Dan diberikan apresiasi khusus atas pelayanannya kepada umat Allah di dalam medan berat ini. Namun mereka tanpa kenal kesulitan dingin dan tidak kenal lelah dan capek, dapat  menyebarluaskan cinta kasih Allah dan Injil-Nya diberbagai kampung di dekenat ini.

Dibutuhkan Semangat Pelayanan yang Lebih
Kita dipanggil untuk pelayanan. Kita menjadi seorang pelayan karena kita adalah pilihan Allah. Kita adalah orang yang dipilih untuk penyiaran saluran kasih Allah kepada semua budaya, daerah, suku, bangsa, dan ras. Kesulitan medan pastoral bukan sebagai alasan untuk tidak menyebarluaskan kasih Allah. Namun kita dipanggil untuk membuka cakrawala hati dan pikiran umat Allah yang dikasihi-Nya.
Kesulitan medan tidak membuat kita nonton saja. Dengan medan yang berat ini, tidak membuat kita takut dan gentar melainkan kita dituntut agar semangat pelayanan yang lebih. Pelayanan yang tanpa batas waktu. Kita diutus justru karena medan yang sulit dan dimedan perang untuk menyiarkan berita tentang cinta kasih Allah dan Injil-Nya demi keselamatan bagi segenap umat Allah.

Menjadi Siap Diutus
Menyelidik situasi pastoral kita terutama dalam karya pewartaan dan pelayanan Gereja di tanah Papua dewasa ini terasa amat penting. Mengapa demikian? Karena karya pewartaan dan pelayanan Petugas Pastoral sangat terbuka dan telanjang di hadapan dunia. Dalam konteks ini, Petugas Pastoral yang berkarya di tanah Papua khususnya di Keuskupan Timika dihadapkan dengan sejuta persoalan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Persoalan-persoalan yang terjadi sangat kompleks dan rumit. Berbagai media cetak maupun elektronik selalu menampilkan wajah-wajah masyarakat Papua yang sedih, suram, kelam dan wajah yang tengah menantikan uluran tangan dan belas kasihan dari kita.
Bahkan medan pastoral yang sulit dijangkau baik di gunung maupun di pesisir pantai. Berbagai teori yang kita peroleh dari dunia pendidikan itu, tidak berlaku ketika kita berada di medan pastoral ini. Yang berlaku adalah dengan rendah hati dan tenang melayani Tuhan kepada saudara-saudara kita di gunung maupun pesisir pantai di wilayah pelayanan Keuskupan Timika khususnya di Dekenat Moni-Puncak.
Gambaran-gambaran lain yang dapat ditakutkan dapat terlihat dalam pemandangan tentang konflik dan kekerasan sosial, praktek korupsi, kolusi, nepotisme, hedonisme, perjudian, kemabukan, tahyul, diskriminasi suku, budaya, gender, fanatisme religius, materialistis yang menggila dan menggurita, keserakahan ekonomi, mewabahnya kekerasan masyarakat bawah oleh aparat penegak hukum, kambinghitam yang mengatasnamakan kelompok separatis (OPM) dan merong-rong keutuhan NKRI, serta kerusakan mama bumi Nemangkawi oleh PT. Freeport Indonesia yang merugikan salah satu komunitas alam dari orang asli Papua bahkan pelanggaran HAM yang tidak dapat dilitanikan satu persatu. Semua gambaran itu ada dalam pelayanan pastoral keuskupan kita. Dalam konteks seperti itulah, pelayan pastoral diutus untuk melayani dan menyapa mereka. Karena mereka inilah anak-anak Allah sehingga kita diutus untuk melayani mereka tanpa batas waktu. Dengan harapan untuk memuliakan Allah dan mencintai sesama manusia. Demikianlah!

Penulis: Petugas Pastoral Keuskupan Timika


Kamis, 30 April 2015

PENDEKATAN INDONESIA MELALUI BIDANG POLITIK MENJADI TANTANGAN MEMBANGUN PERDAMAIAN DI TANAH PAPUA



Pagi ini saya hendak membagikan akar persoalan dibidang politik. Persoalan dibidang ini menjadi tantangan bagi warga Indonesia. Dalam bidang itu, sehingga sulit untuk membangun nasionalisme Indonesia di Papua. Itu menjadi tantangannya sehingga kesulitan akan nasionalisme Indonesia di Papua sehingga pendekatannya dengan jalan kekerasan dan konflik. Makanya itu sulit membangun "Perdamaian di Tanah Papua".
Masalah-masalah yang berkaitan dengan politik yang menghambat perdamaian di Tanah Papua adalah:
1. Aneksasi kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961;
melalui Trikora 19 Desember 1961;
2. Penyerahan secara sepihak oleh pemerintah
Belanda kepada PBB pada Tahun 1962;
3. Penyerahan Papua dari PBB kepada Pemerintah
Indonesia 1 Mei 1963;
4. Ketidakterlibatan Bangsa Papua dalam
kesepakatan Internasional ( New York Agreement
dan Roma Agreement );
5. Pelaksanaan PEPERA 1969 yang tidak sesuai
dengan praktek-praktek Internasional;
6. Dilakukan Kontrak Karya Pertama PT Freeport
oleh Pemerintah Indonesia dan USA secara sepihak.
7. Pelanggaran HAM terhadap Orang Asli Papua terus
meningkat di tanah Papua.
8. Marginalisasi bagi Orang Asli Papua di tanahnya sendiri.
9. Keruknya dan pencaplokan tanah-tanah adat dan hak ulayat
di tanah Papua.
Sarana untuk Membangun Perdamaian di Tanah Papua:
1. Orang asli papua merasa aman, tentram dan
sejahtera hidup di atas tanahnya serta mempunyai
hubungan yang baik dengan sesama, alamnya dan Tuhannya;
2. Tidak ada lagi stigma separatis/makar terhadap orang
asli papua;
3. Perbedaan pandangan tentang status politik Papua
telah diselesaikan;
4. Sejarah Papua diluruskan tanpa rekayasa dan manipulasi;
5. Orang asli Papua selalu dilibatkan dalam kesepakatan
-kesepakatan yang berkaitan dengan kepentingan dan
masa depan rakyat Papua;
• Akar masalah Papua sudah diselesaikan secara tuntas
dan menyeluruh dengan cara yang bermartabat
• Orang asli Papua hidup bebas tanpa intimidasi, diskriminasi
dan marginalisasi;
• Adat istiadat dihargai, dijunjung tinggi, diakui dan
dilegitimasi keberadaannya;
Semoga mencari jalan terbaik untuk membangun Perdamaian di Tanah Papua!!!!


Peace

Santon!!

Rabu, 22 April 2015

ANTARA NKRI HARGA MATI DAN PAPUA MERDEKA HARGA MATI, HADIRLAH DIALOG DARI JDP SEBAGAI SARANA UNTUK MENYATUKAN BEDA KONSEP INI


Bahan dasar untuk membuat cawat, untuk membuat selimut asli, untuk membuat pakaian asli, untuk membuat topi asli, dan untuk membuat tali koteka bahkan makanan dan minuman selalu bersumber dari hutan rimba Papua. Namun tanpa menyadari insdutri lokal yang ada di tanah Papua ini, Pemerintah Indonesia Papua Propinsi, Kota/Kabupaten dan para perusahan tambang maupun kelapa sawit menghancurkan semua tempat ini.

Semua tempat hutan dihancurkan tanpa mempertimbang kehidupan generasi masa depan. Mereka mengutamakan perut dan kenikmatan hari ini ketimbang utamakan anak-anak masa depan. Bahkan manusia yang mendiami pulau ini ditindas, dimarginalkan, ditangkap, dipenjarakan, dan dibunuh langsung maupun tersembunyi dari pulau ini. Untuk menyembunyikan semua kelakuan ini, aparat keamanan selalu mengunakan kata "DAMAI DAN KASIH". Padahal dibalik ungkapan ini menyembunyikan kedoknya. Target mereka adalah untuk menjajah dan penguasaan daerah ini untuk NKRI harga mati. 

Namun orang Papua yang tidak mau menerima kenyataan kelakuan aparat keamanan dan dari kaki tangannya ini (Pemerintah Indonesia, dan para kapitalis "perusahan tambang, kelapa sawit, dan perusahan pangan"), sudah berakar nasionalisme kepapuaan PAPUA MERDEKA HARGA MATI. Kedua pendapat ini terdengar di mana-mana di seluruh nusantara ini. 

Kini hadir konsep dialog untuk menghadirkan kedua pendapat dan kedua kelompok yang berbeda pikiran dan konsep agar dibicarakan bersama demi perdamaian di tanah Papua. Majukan dialog demi perdamaian ketimbang pertahankan konsepnya masing-masing lalu mengorbankan warganya yang tidak tahu apa-apa dari negeri ini.

By Romero Papua!

Minggu, 22 Maret 2015

PAUS FRANSISKUS: SELALU INGAT PESAN TERAKHIR NENEKNYA YANG DIBAWANYA SETIAP HARI

Paus Fransiskus selalu ingat pesan terakhir neneknya yang dibawanya setiap hari

12/03/2015
Paus Fransiskus selalu ingat pesan terakhir neneknya yang dibawanya setiap hari thumbnail

Paus Fransiskus mengatakan pada Rabu bahwa orang tua berperan penting dalam kehidupan kaum muda, dan mengungkapkan bahwa ia masih menyimpan surat neneknya yang menulis untuk dia saat  pentahbisannya, yang disimpan dalam buku doa hariannya – brevir.
“Saya masih menyimpan kata-kata nenek saya yang menulis kepada saya pada hari pentahbisan saya. Saya menyimpan pesan tersebut  hingga  hari ini dalam brevir saya,” kata Paus kepada para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk audiensi umum pada Rabu.
Dalam wawancara dengan  The Jesuit, Paus Fransiskus mengacu  pada teks itu yang ditulis oleh neneknya, yang  disimpan di dalam brevir bahwa ia selalu membawa pesan itu, catat Andrea Tornielli dari Vatican Insider.
Teks itu berbunyi, “Semoga cucu saya, yang  saya telah memberikan yang terbaik dari hati saya, panjang umur  dan bahagia, tetapi jika pada suatu hari ada peristiwa yang menyakitkan, sakit atau kehilangan orang yang dicintai yang menghiasi hidup Anda dengan kesedihan, ingat – berdoalah di Tabernakel, dimana martir terbesar dan paling agung berada, dan tatapan Bunda Maria di kaki Salib, dapat seperti setetes balsem yang  dapat menyembuhkan  luka terdalam dan paling menyakitkan.”
Paus Fransiskus, anak tertua dari lima bersaudara, menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di bawah bimbingan neneknya, Rosa. Dia berperan penting dalam mengasuh, dan ia memiliki rasa hormat yang besar kepada neneknya.
Ketika hati orang tua  bebas dari “kebencian masa lalu dan keegoisan saat ini,” katanya, mereka menjadi ketertarikan  bagi kaum muda, “yang berharap untuk menemukan di dalamnya dukungan yang kuat dalam iman mereka dan makna hidup mereka”.
Dia secara khusus menjelaskan pentingnya doa bagi orang tua,  bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat.
Kemampuan memurnikan iman dan doa juga dapat membantu masyarakat untuk menemukan “cara paling bijaksana untuk mengajarkan orang muda bahwa arti kehidupan yang sebenarnya ditemukan dalam pengorbanan diri yang penuh cinta dan kepedulian terhadap orang lain”.
Simeon dan Anna adalah dua tokoh dalam Kitab Suci  yang menjadi model bagi orang tua di sisa hidup mereka, kata Paus, seraya mencatat bahwa ia sendiri termasuk dalam kategori ini.
Gambaran dua nabi lansia yang penuh peduli ini sedang  menanti kedatangan Mesias dengan berdoa, katanya, seraya menekankan  bahwa doa ini adalah rahmat yang baik untuk keluarga dan Gereja.

ALIANSI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA "AMAN" DI INDONESIA: 75 % Tanah Adat Dirampas di seluruh Indonesia.

AMAN: 75 persen tanah adat dirampas

12/03/2015
AMAN: 75 persen tanah adat dirampas thumbnail
Abdon Nababan (kiri).

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan, mengatakan sekitar 75 persen wilayah adat di Indonesia saat ini dikuasai perusahaan-perusahaan yang antara lain bergerak di sektor tambang dan kehutanan. Pada masa silam, Abdon menuturkan, pemerintah memberikan izin usaha pada perusahaan-perusahaan di atas tanah masyarakat adat.
“Pemberian izin itu merupakan perampasan wilayah adat,” ujar Abdon dalam diskusi bertajuk “Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara” di Jakarta, Selasa (10/3).
Karena itu, Abdon mengingatkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla agar tidak mengulangi kesalahan pemerintahan sebelumnya yang merampas tanah adat dengan mengatasnamakan kepentingan pembangunan.
Saat ini, ia menyatakan, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan satu peta (one map) yang di dalamnya berisi peta wilayah masyarakat adat. Dengan keberadaan satu peta ini, Abdon melanjutkan, keberadaan wilayah masyarakat adat akan semakin jelas.
“Sekarang kan tidak ada. Akibatnya, orang ngaku-ngaku sebab tidak ada (petanya). Masuknya peta wilayah adat ke one map itu sekaligus mengumumkan keberadaan masyarakat adat. Orang bisa mengecek benar atau tidak itu wilayah adat mereka sejak dulu. Satu peta ini membantu,” ujarnya.
Abdon mengatakan, AMAN sudah melakukan pemetaan wilayah masyarakat adat yang sebagian hasilnya sudah diserahkan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.
Menurutnya, sebanyak 10 juta hektare (ha) tanah di Indonesia adalah milik masyarakat adat. Dari jumlah itu, Abdon mengungkapkan, sekitar 4,8 juta ha tanah sudah dapat diketahui kepemilikannya. “(Sebanyak) 4,8 juta ha itu milik 517 komunitas adat,” tutur Abdon.
Ia memperkirakan, sekitar 1.000 komunitas masyarakat adat memiliki 10 juta ha tanah di Indonesia.
Dalam acara itu, hadir pula Direktur Handcrafted Films, Paul Redman, dan aktivis masyarakat adat Amerika Latin, Candido Mezua. Handcafted adalah lembaga asal Inggris yang memproduksi film dokumenter tentang perjuangan masyarakat adat dalam menjaga hutan, mulai dari Peru hingga Indonesia.
Sebelum diputar di Indonesia, film berjudul If Not Us Then Who ini telah diputar di New York, Amerika Serikat, dan Peru di Amerika Selatan. Pada kesempatan itu, Candido juga bercerita tentang perjuangan masyarakat adat di negara asalnya, Panama.
“Kita memiliki kesamaan dengan perjuangan yang dilakukan masyarakat adat di Indonesia,” kata Candido.
Bedanya, di Panama, Candido menyebutkan, masyarakat adat berjuang bersama kelompok masyarakat adat dari tujuh negara lain.
Menurut Candido, kelompok-kelompok masyarakat adat di seluruh dunia harus bersatu untuk melawan kelompok-kelompok besar yang mendapat dukungan dari militer, yang berusaha merampas hak-hak masyarakat adat. “Persatuan (kuncinya),” ucap Candido. 
(sinarharapan.co)

ROMO MAGNIS: Sistem Peradilan Indonesia Meragukan di Indonesia

Romo Magnis: Sistem peradilan Indonesia meragukan

12/03/2015
Romo Magnis: Sistem peradilan Indonesia meragukan thumbnail

Romo Franz Magnis-Suseno SJ mengatakan bahwa sistem hukum di Indonesia masih lemah dengan banyaknya putusan pengadilan yang masih diragukan. Atas alasan tersebut, menurut Romo Magnis, pelaksanaan hukuman mati dinilai tidak tepat jika masih digunakan di Indonesia.
Romo Magnis mengambil contoh pada putusan praperadilan bagi Komjen Budi Gunawan yang diputuskan oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Sarpin Rizaldi. Meski putusan pengadilan dianggap telah sah, tetapi pada kenyataannya banyak yang merasa tidak puas dan menganggap putusan tersebut salah.
“Seperti putusan hakim Sarpin yang banyak diragukan, bagaimana pula dengan putusan bahwa seseorang boleh dibunuh? Saya tidak percaya pada sistem yudisial kita. Mungkin boleh buat hukuman penjara, tetapi tidak untuk hukuman mati,” ujar Romo Magnis dalam sebuah diskusi mengenai pro dan kontra hukuman mati di kantor LBH Jakarta, Kamis (12/3/2015).
Romo Magnis mengatakan, sistem hukum di Indonesia belum bisa menjamin bahwa seseorang yang beperkara akan mendapatkan keadilan. Menurut Romo Magnis, melihat fakta tersebut, masyarakat memiliki kewajiban moral untuk menolak diberlakukannya hukuman mati.
Ia mendesak agar pemerintah segera melakukan kebijakan untuk membatalkan eksekusi mati bagi 10 terpidana mati kasus narkotika yang rencananya akan dilakukan dalam waktu dekat.
Guru Besar Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Dryarkara Jakarta ini mengatakan, pemerintah dapat mengeluarkan moratorium untuk menghentikan aturan hukuman mati.
“Apakah kita bisa pastikan tidak ada keterlibatan aparat? Apakah ada kepentingan bisnis pihak-pihak lain dalam kasus-kasus narkotika? Kami mendesak agar pemerintah segera mengeluarkan moratorim soal hukuman mati,” tambahnya. 

(K0mpas.com)

Keluarga Masih Menanti Terpidana Mati Mery Jane kembali ke Rumah

Memiluhkan Hati untuk mendengarkan Hukuman Mati yang dibuat oleh Negara Indonesia ini

23/03/2015
Keluarga masih menanti  terpidana mati Mery Jane kembali ke rumah thumbnail
Celia Veloso, ibunya Mary Jane.

Jalan berdebu menuju desa Caudillo memotong melalui kebun jagung kering yang bergoyang  akibat tiupan  angin dan di tengah panasnya sinar mentari. Celia Veloso, 55, berjalan santai, melindungi diri dari panas terik dengan handuk katun kecil menutupi kepalanya.
Dia berjalan menuju desa berikut untuk membantu mempersiapkan sebuah perayaan lokal.
“Kami akan mempersiapkan  makan malam,” katanya, sambil tersenyum. Jika dia beruntung, dia mungkin mendapatkan sekitar 2 dolar AS atas bantuannya.
Kegiatan  akhir pekan itu, dengan membantu persiapan makanan, merupakan pekerjaan sampingan harian yang biasa dilakukan Veloso. Ia sebenarnya adalah seorang pemulung yang setiap hari mengumpulkan  botol bekas, kantong plastik dan sampah lainnya dari seluruh desanya. Veloso dan suaminya menjual barang bekas tersebut ke toko-toko.
Pekerjaan ini tidak menghasilkan banyak uang. Ada cucu yang harus diberikan makan, dan anak yang hilang yang tidak bisa membantu pendapatan keluarga, dan kini harus menghadapi hukuman mati di negara lain.
Lima tahun lalu, putri Veloso, Mary Jane Fiesta Veloso, 30, ditangkap dan dijatuhi hukuman mati di Indonesia.
Ketika Indonesia kembali menerapkan eksekusi mati terhadap pengedar narkoba, ia juga dijatuhi hukuman serupa awal tahun ini. Media internasional berfokus pada dua warga Australia – Myuran Sukumaran dan Andrew Chan – dua  Bali Nine, penyelundupan narkoba, yang telah dijatuhi hukuman mati sejak 2006.
Tapi, warga negara lain juga telah terperangkap dalam sistem peradilan Indonesia. Kasus  Mary Jane, telah perlahan-lahan menarik perhatian masyarakat Filipina dalam beberapa pekan terakhir. Selama lima tahun terakhir, sedikit informasi tentang kasus Mary Jane; Orangtuanya tidak dipublikasikan.
Tapi, itu semua berubah tahun ini, ketika Presiden Indonesia Joko Widodo pada Januari menolak grasi dari 16 terpidana mati. Setelah bertahun-tahun ketidakpastian, Mary Jane tampaknya akan segera dieksekusi.

0323b
Sebuah foto  Mary Jane Veloso, yang diambil 17 tahun lalu  saat ia menikah.

Hukuman Mati
Bagi pihak berwenang Indonesia, narkoba bukanlah kasus sederhana. Mary Jane ditemukan di bandara Indonesia dengan 2,6 kilogram heroin yang disembunyikan di kopernya. Dia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati pada Oktober 2010.
Tapi keluarga Mary Jane menyatakan bahwa ibu dari dua anak itu tidak bersalah. Dari beberapa percakapan telepon dengan dia selama bertahun-tahun dan kunjungan Celia, ibunya dan adiknya, Maritess, ke penjara belum lama ini, telah mengumpulkan kisah berbeda. Mereka percaya dia menjadi korban dari sindikat kejahatan internasional yang menggunakan perempuan tak berdosa dalan lalu lintas narkoba di seluruh Asia.
Mary Jane berusia 25 tahun ketika ia meninggalkan rumahnya di desa Caudillo, dekat kota Cabanatuan, Luzon Tengah, Filipina. Tujuannya adalah membantu keluarganya yang miskin. Kenalannya, Kristina, telah berjanji sebuah pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Kuala Lumpur, Malaysia.
Tapi, ketika kedua perempuan itu tiba di Malaysia, Kristina mengatakan kepada Mary Jane bahwa pekerjaan sudah terisi. Ada lebih banyak pekerjaan yang tersedia, namun, di Yogyakarta, Indonesia. Apakah Anda tertarik?
Mary Jane setuju. Sebelum berangkat, Kristina mengajak Mary Jane untuk membeli  baju baru. Dia memberi Mary Jane sebuah koper baru sebagai hadiah. Ketika Mary Jane bertanya, mengapa koper ini sangat berat, Kristina mengatakan, karena koper itu baru.
Mary Jane, yang hanya menyelesaikan  tahun pertama di universitas, membuka koper dan tidak menemukan apa-apa di dalamnya. Dia meletakkan pakaian dan barang-barang miliknya, lalu menumpang pesawat bersama Kristina menuju Yogyakarta.
Namun, ketika mereka tiba di bandara Yogyakarta, koper itu memicu alarm pada scanner X-ray. Pihak berwenang Indonesia meminta izin Mary Jane untuk membuka koper.
Mereka menemukan heroin yang dibungkus dengan aluminium foil. Mereka kemudian menuduh Mary Jane membawa narkotika dengan nilai 500.000 dolar AS.
Saat Mary  Jane  berdiri, dan melihat ke sekeliling, dia tidak  menemukan Kristina.

Cesar Veloso, Mary Jane's father. (Photo by Jimmy Domingo)
Bapanya Mary Jane, Cesar Veloso, mengatakan ia berupaya membunuh diri setelah mendengar putrinya dihukum mati.

Bertumbuh dalam kemiskinan
Pada 10 Mei 2010, Mary Jane menelepon ke rumah untuk menyampaikan ulang tahun kepada ayahnya, Cesar. Dia menyanyikan lagu ulang tahun untuk ayahnya.
Dua minggu sejak ia ditangkap, dia tidak pernah memberitahu keluarganya.
Beberapa hari kemudian, Mary Jane mengirim pesan teks samar. Dia mengatakan  selamat tinggal keluarga.
Adiknya, Maritess, menjawab: “Mary Jane, apakah kamu ada masalah?”
Ia akhirnya mencerita kepada keluarganya apa yang menimpa dirinya. Cesar sangat shock. Dia mencoba bunuh diri tiga kali dalam beberapa hari berikut, katanya  dalam wawancara bulan ini.
“Saya ingin mati,” katanya. “Putri saya pergi dan tidak kembali.”
Lima tahun telah berlalu, putrinya masih hidup, tapi masa depan hukuman matinya jauh dari kepastian.
“Kami miskin dan kami tidak bisa membayar untuk membebaskan dia,” kata Cesar. “Kalau saja kami kaya, saya akan menjual segala sesuatu untuk membebaskan putriku.”
Keluarga Veloso secara  turun-temurun adalah pemulung. Orangtua Cesar juga seorang pemulung. Celia, istrinya, adalah putri dari seorang petani yang tidak memiliki lahan pertanian.
Ketika anak-anak mereka masih kecil, mereka berdua bekerja di perkebunan tebu.
“Kami bermimpi mengirim anak-anak saya ke sekolah,” kata Cesar. “Saya berjuang dan bekerja keras, tapi aku benar-benar tak bernasib baik.” Penghasilannya sering tidak cukup untuk memberi makan keluarga.
Anak-anak dibesarkan tanpa makanan bergizi, hanya bubur yang diberikan, katanya. “Kami menaruh banyak air pada segenggam beras dan mencampurnya dengan jagung,” kata Cesar. “Anak-anak memahami situasi kami. Saya selalu memberitahu mereka untuk minum banyak air agar mereka tidak kelaparan.”
Tapi, anak-anak melakukan yang terbaik untuk mengubah nasib keluarga.
Ketika mereka tumbuh dewasa, satu anak perempuan pergi ke Jepang untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Setelah beberapa tahun, dia pulang diceraikan suaminya dan ia sendiri tinggal bersama anak-anaknya. Putrinya yang lain pergi ke Timur Tengah tapi pulang sakit. Anak-anak lain tinggal di rumah, menikah dan mengikuti apa yang telah menjadi tradisi keluarga: bekerja sebagai petani dengan upah rendah. Kesejahteraan keluarga tidak membaik. “Situasi ini sama seperti ketika saya masih muda,” kata Cesar.
Tapi Mary Jane, satu-satunya anak Veloso yang mencapai sekolah tinggi meskipun cuma setahun. Ia ingin mengubah hidup.
Dia pertama kali bekerja di luar negeri, Uni Emirat Arab. Setelah 10 bulan, ia kembali ke rumah karena, katanya, majikannya telah mencoba memperkosanya. Ketika dia berangkat ke Malaysia, dia harus bertengkar dengan keluarganya untuk keluar dari kemiskinan.
Cesar masih ingat hari-hari Mary Jane tinggal bersamanya di desa  Caudillo.
“Dia menangis dan memeluk saya,” kenangnya. “Ayah, kita miskin,” pinta Mary Jane.

0323d
Mary Jane  mengatakan kepada saudaranya untuk selalu beriman kepada Tuhan dalam sebuah surat yang ia kirim bulan lalu. 

Berharap sebuah masa depan yang lebih baik
Ribuan warga Filipina meninggalkan negara mereka setiap hari mencari masa depan yang lebih cerah di luar negeri.
Migrante, sebuah federasi internasional pekerja migran Filipina, mengatakan setidaknya 6.000 orang Filipina meninggalkan negara itu setiap hari untuk mencari pekerjaan, mengutip penelitian dari Yayasan Ibon berbasis di Quezon City. Jumlah tersebut meningkat 50 persen dari tahun 2010, ketika Mary Jane meninggalkan rumahnya.
Migrante mencatat bahwa para pekerja perempuan menghadapi kesulitan dan eksploitasi dalam beberapa tahun terakhir. Dalam dua bulan pertama tahun ini saja, Migrante mengatakan pihaknya telah menangani setidaknya 50 kasus kekerasan terhadap perempuan Filipina di luar negeri, termasuk serangan fisik, pelecehan seksual, dan percobaan perkosaan.
Garry Martinez, Ketua Migrante, mengatakan situasi ekonomi yang memburuk di Filipina menimbulkan lebih banyak perempuan ke luar negeri dan membuat mereka rentan terhadap perdagangan dan pelecehan di tempat kerja.
Tetapi mereka telah menjadi bagian penting dari ekonomi Filipina hingga hari ini.
Pada 2013, para pekerja Filipina mengirim uang ke rumah senilai 25 miliar dolar AS, menurut Bank Dunia.
Mary Jane  bukan satu-satunya warga Filipina yang menghadapi eksekusi di luar negeri. Pada 10 Maret, Wakil Presiden Filipina Jejomar Binay, yang juga penasihat presiden merasa khawatir dengan pekerja Filipina di luar negeri. Pihaknya menyatakan bahwa ada 80 pekerja Filipina menghadapi hukuman mati di berbagai negara. Dia mengatakan bahwa dari 80 pekerja migran yang menghadapi eksekusi, 27 berada di Arab Saudi.
Kelompok-kelompok termasuk Migrante melaporkan dalam lima tahun terakhir telah melelahkan bagi pekerja Filipina di luar negeri akibat kondisi kerja yang buruk.
“Apa yang para pekerja kami dan keluarga mereka butuhkan selama masa krisis ini adalah tindakan dan program  pemerintah menyiapkan  lapangan kerja di dalam negeri,” kata Martinez dalam sebuah pernyataan.

0323e
Cesar Veloso dan Maritess Veloso membacakan surat  Mary Jane untuk keluarga.

Bermimpi kembali ke rumah
Rumah bagi Mary Jane selalu berarti kemiskinan. Di desa Caudillo yang miskin ini dimana ia mengumpulkan botol bekas dan menjual “es” kepada tetangga untuk membantu memberi makan kedua anaknya, yang kini tinggal dengan mantan suaminya.
Pada Februari, pemerintah Indonesia mengizinkan keluarga Mary Jane – Celia, Maritess dan dua anaknya Mary Jane – mengunjungi dia di penjara.
“Saya tidak takut,” kata Mary Jane kepada Maritess. “… Jika keputusan Tuhan bagi saya untuk dieksekusi, maka mungkin Tuhan ingin aku sudah berada di sisinya.”
Selama pertemuan Februari, Mary Jane mengatakan kepada ibunya “dengan rasa sedih”.
“Bu, tolong aku,” kata Mary Jane. “Aku masih ingin bersamamu. Bu, saya tidak ingin mati.”
Di bawah naungan gubuk kecil mereka di pinggir jalan desa berdebu itu, Celia menangis saat ia mengenang pesan putrinya.
Selama lima tahun, keluarga menunggu bantuan tapi tidak ada: tidak ada tanggapan dari pemerintah, tidak ada aksi protes, tidak ada doa, tidak ada liputan media.
Sekarang, ia menunggu terus nasib putrinya. Departemen Luar Negeri Filipina pada Januari meluncurkan PK untuk kasus Mary Jane. Para pejabat Indonesia baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah menunda eksekusi, termasuk Mary Jane.
Celia masih dalam kebingungan siapa yang harus dipercaya.
“Ada janji, tapi Mary Jane masih di penjara. Tahun-tahun telah berlalu dan tidak ada yang dilakukan. Tidak ada yang membantu kami,” kata Celia.
“Sampaikan kepada saya jika mereka akan membunuh anak saya.”
Joe Torres,  Cabanatuan City, Filipina. 
(Sumber: ucanews.com)

Senin, 16 Maret 2015

PERMINTAAN SUKU WAOHA NABIRE KEPADA KAPOLDA PAPUA DAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN DAN PROPINSI PAPUA



Kepala Suku Waoha pada Suku Besar Yerisiam, Imanuel Monei  menyampaikan dua permintaan masing-masing satu permintaan kepada permintaan kabupaten, provinsi dan pusat serta satu permintaan kepada Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua terkait hak ulayatnya di arel perkebunan sawit di Nabire.

"Mohon kepada Pemerintah (Kabupaten, Provinsi dan Pusat) agar tidak menerbitkan HGU (Hak Guna Usaha) kepada PT. Nabire Baru (PT. NB) sebelum membuat MoU (Memorandum of Understanding) kepada masyarakat adat  dan sebelum beberapa tuntutan direalisasikan berdasarkan pernyataan sikap yang telah dibuat oleh masyarakat adat pada tanggal 19 Januari 2015, di Bina Mitra Polres Nabire," kata Imanuel Monei.

Suku Waoha juga meminta kepada Kapolda Papua agar segera menarik anggota Pam Brimob di areal Sawit KM 16 dan 19 Wami Distrik Yaur Kabupaten Nabire. "Dan tidak mengirim kembali/roling lagi Anggota Brimob," tulisnya.

Masyarakat Adat Suku Waoha memohon dukungan dari LSM-LSM, LBH, dan Lembaga-lembaga Advokasi untuk memberikan dukungan atas dua permintaan di atas. (Sumber Majalah Selangkah edisi 14 Maret 2015).

Selasa, 24 Februari 2015

BERTAHAN MELAYANI DI BALIK GUNUNG BILOGAI PAPUA


TANPA KENAL LELAH DAN DINGIN MEREKA TETAP MELAYANI UMAT ALLAH DI SANA

                
     Karya Para Suster PRR
Saya berjumpa dengan para suster yang berkarya di Bilogai. Mereka itu adalah Sr Cresensia, PRR; Sr Hermania PRR; dan Sr Designata, PRR. Mereka mensharingkan banyak hal yang dialaminya selama mereka berkarya di sana. Untuk sampai pada daerah Bilogai, orang mesti jalan mengudara melalui pesawat udara. Pesawat udara adalah sarana jalan satu-satunya yang digunakan oleh orang Bilogai termasuk para suster-suster ini. Para suster ini tidak pernah takut jalan terbang melalui pesawat. Pesawat yang masyarakat gunakan adalah pesawat AMA atau pun pesawat Trigana atau aviastar. Apakah para suster senang jalan terbang melalui pesawat? Jawabannya singkat: Jalan melalui pesawat sangat menyenangkan dan melihat segala pemandangan alam Papua secara langsung.
Mereka menyampaikan berbagai pengalaman dibalik gunung Bilogai. Siapa takut demi Injil dan Kerajaan Allah? Mereka berkata bahwa kami berkarya demi Injil Tuhan dan Kerajaan Allah. Hanya itulah motivasi dan harapannya sehingga kami tetap untuk memperlihatkan cinta kasihnya melalui karya-karya kerasulannya. Mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi di pusat biaranya. Mereka juga menyadari bahwa mereka bukan lagi memperlihatkan kekhasan mereka dari kampungnya masing-masing. Tetapi para suster ini sadar bahwa mereka telah menjadi orang Migani dan Ndani. Karena itulah mereka sedang dan akan melanjutkan karya-karyanya (karya pendidikan, karya koperasi, karya kesehatan melalui klinik, pembinaan anak-anak melalui asrama, dan karya pastoral pewartaan demi orang-orang yang ada di dekenat Moni-Puncak Keuskupan Timika-Papua.
Karya-karya yang dapat dikembangkan oleh para suster difokuskan pada beberapa hal teristimewa karya pendidikan usia dini mulai dari TK sampai SD di Bilogai. Para suster ini juga memiliki asrama. Mereka sedang membina para anak didik dari beberapa kampung. Anak didik mereka saat ini berjumlah 14 anak di Asrama. Para suster mengajari mereka. Memberikan teladan dan sopan santun yang baik agar anak didiknya bersikap dan berperilaku yang baik ketika anak didiknya menjadi dewasa. Para suster menyadari bahwa pendidikan di Indonesia atau khususnya di tanah Papua semakin hari semakin kacau. Buta huruf semakin banyak dan orang tidak mau lagi belajar lebih karena orang maunya ikut keramaian saja. Karena itu, para suster membangun asrama tanpa didukung oleh siapa pun. Mereka berkehendak kuat untuk membangun pendidikan dasar mulai dari TK sampai SD melalui pola berasrama. Tetapi para suster mengalami kesulitan mendapatkan dukungan dari siapa pun di dibalik gunung Bilogai ini. Keprihatinan para suster ini tidak ditanggapi oleh pihak mana pun sementara ini. Mereka mencari makan dan minum sendiri demi anak-anak didik mereka di asrama. Mereka mulai bangun asrama tanpa keprihatinan orang lain. Padahal kehadiran para suster untuk menjawab kebutuhan bagi anak-anak dari kota dibalik gunung Bilogai ini.
Selain keprihatinan pendidikan berpola asrama ini, mereka berkarya diberbagai tugas pastoral dekenat Moni-Puncak. Mereka tanpa kenal lelah dan capek, mereka melayani umat Migani dan Ndani demi cinta kasih dan persaudaraan sebagai umat Allah. Mereka merasa bahwa cinta kasih dan persaudaraan mesti nyata dalam pelayanan dan keterlibatannya pada orang-orang kecil dan tidak mampu. Di sini, mereka merasa senang karena Tuhan Yesus sudah dalam anak-anak. Mereka merasa bahwa Tuhan Yesus ada dalam orang-orang lemah dan miskin. Mereka merasa bahwa Tuhan Yesus yang selalu cinta kepada manusia siapa pun tanpa melihat latarbelakangnya. Karena itu, dengan senang hati mereka menyebarkan cinta kasih dan persaudaraan di tengah umat dibalik gunung Bilogai.
Para suster ini, tidak henti sampai disitu. Mereka mengembangkan karya pastoral ekonominya melalui kios. Kios milik Dekenat Moni-Puncak ini, dikelola  dan dikembangkan oleh para suster-suter ini. Di kios itu, jual berbagai bahan kebutuhan dasar, misalnya beras, minyak goreng, garam, dan lainnya adalah supermie, sardines, biskuait dan lainnya. Mereka berkata bahwa kios itu sangat membantu dan memudahkan masyarakat di kota ini. Dari berbagai kampung datang belanja bahan yang dibutuhkan oleh umat atau masyarakat pada umumnya. Wah, umat sangat senang sekali belanja di kios itu. Penarikan lainnya dari kios ini, adalah adanya berjualan berbagai alat rohani yang membantu mengembangkan imannya kepada Allah melalui sarana rohani itu. Selain itu, para suster itu, menjual majalah rohani dan kalender rohani yang sangat baik. Mau dapatkan itu? Silahkan datang di kios dekenat di Bilogai.

Bertahan karena Diutus
Ketika saya tanya: Suster, apakah dingin dibalik gunung Bilogai ini? Katanya, iya saya sangat dingin. Tetapi kami suster di sini “bertahan karena diutus”. Ketika dalam cerita-cerita kami sore ini bahwa para suster ini, diutus oleh Yesus sendiri untuk pelayanan demi Injil dan Kerajaan Allah bagi semua umat di sini. Karena itu, kami harus mendengarkan Dia yang mengutus kami sampai bisa berada dibalik gunung ini. Para suster ini, sungguh menghayati betul “Dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Allah Bapa memberikan kesaksian tentang Putera-Nya, bahwa Dialah yang dikasihi-Nya, dialah Sabda yang adalah Allah, Ia yang telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Dialah kata-kata Allah yang terakhir untuk dunia. Allah meminta kepada setiap kita agar kita saling mendengarkan satu sama lain. Kami mendengarkan apa yang menjadi keluhan umat di sini yakni pola asrama dan berpihak kepada kaum lemah dan miskin di daerah ini.
Dalam sharing lanjutannya, para suster hendak melayani lebih. Ketika saya mendengarkan komitmen itu, saya merasa bangga sekali. Para suster ini, bisa menjadi agen pesawat AMA. Wah, sungguh luar biasa karya pelayanan mereka di balik gunung ini. Dan mereka meminta agar semua pihak untuk membantu kami dalam pengembangan asrama dan karya pastoral lainnya. Bagi para suster ini, kami siap diutus untuk hanya demi cinta kasih bagi semua orang sehingga kami mampu bertahan karena diutus oleh Yesus sendiri. Diutus oleh Yesus karena cinta kasih, maka kami tetap berkomitmen untuk bertahan dalam dingin dan hiruk pikuk demi banyak kaum lemah dan miskin dan demi anak-anak di Bilogai Kabupaten Intan Jaya di Papua.
Akhirnya, para suster ini siap bertahan dalam dingin dan hiruk pikuk segala hambatannya. Memang banyak orang tidak suka datang di balik gunung ini. Namun dibalik gunung inilah akan tumbuh dan mekar segala harapan kami. Untuk mewujudkan harapan ini, kami tetap berdoa kepada Allah yang selalu mendengarkan doa-doa kami. Kami juga menyadari bahwa Yesus yang berada dalam anak-anak dan kaum lemah dan miskin adalah Yesus yang selalu mendengarkan doa-doanya, Yesus yang mengutus kami berada dibalik gunung ini. Dibalik gunung ini, walaupun banyak tantangan dalam pelayanannya tetapi kami tahu di sini begitu banyak susu dan madu ditengah dingin dan hiruk pikuk. Dikatakan demikian karena Tuhan Yesus yang akan datang dan selalu datang dalam hati setiap langkah hidupnya. Marilah kita bersiap-siap diri dengan jalan pertobatan total dan berjaga-jaga menyambut datangnya Anak Allah, Putera-Nya Sang Mesias untuk keselamatan bagi setiap kita. Salam selamat merayakan Natal 2014 dan selamat memasuki Tahun Baru 1 Januari 2015. Amakanieee! 

Penulis: Santon Tekege



PAUS FRANSISKUS: Aborsi, Euthanasia adalah Dosa


18/11/2014

Paus Fransiskus mengatakan kepada sekelompok dokter Katolik  bahwa bermain dengan kehidupan” manusia dengan cara-cara seperti aborsi dan euthanasia adalah dosa, seraya menekankan bahwa setiap kehidupan manusia, tidak peduli kondisi, adalah suci.
“Kita hidup dalam sebuah era eksperimen dengan kehidupan. Tapi, sebuah eksperimen yang buruk… (kita) bermain dengan kehidupan,” kata Paus dalam sebuah audiensi dengan 4.000 dokter Katolik yang berkumpul di Aula Paulus VI, Vatikan,  pada 15 November.
“Hati-hati, karena cara tersebut adalah dosa terhadap Sang Pencipta: Melawan Tuhan Pencipta”.
Dalam pidatonya kepada anggota Ikatan Dokter Katolik Italia untuk merayakan 70 tahun kelompok itu, Paus Fransiskus mengenang kembali ketika ia masih sebagai seorang imam mendengar orang berkeberatan dengan posisi Gereja tentang isu-isu kehidupan, khususnya sikap Gereja menentang aborsi.
Ia  mengatakan aborsi adalah masalah agama dan filsafat, serta juga “masalah ilmu pengatahuan, karena ada kehidupan seorang manusia dan tidak boleh mengambil kehidupan manusia untuk menyelesaikan masalah.”
Terlepas dari banyak keberatan ia telah mendengar ada yang mengatakan bahwa pemikiran modern telah berkembang terkait masalah ini, Paus menekankan, “Dalam pemikiran kuno dan dalam pemikiran modern, kata ‘membunuh’ berarti sama!”
“(Dan) hal yang sama berlaku untuk euthanasia,” jelasnya, seraya mengamati bahwa akibat hasil dari “budaya sampah,  euthanasia  tersembunyi dipraktekkan kepada lansia.”
Keyakinan bahwa aborsi sangat membantu wanita, euthanasia sebagai “tindakan bermartabat,” atau  “terobosan ilmiah untuk ‘menghasilkan anak (yang) dianggap legal dan bukannya diterima sebagai sebuah anugerah,” katanya.
Paus  mengatakan bahwa Injil memberikan gambaran yang jelas tentang kasih sayang seperti Orang Samaria yang Baik, yang melihat seorang  menderita, memiliki rasa belas kasihan, mendekati dan membantu dia.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat saat ini kemungkinan penyembuhan fisik telah meningkat secara drastis, kata Paus.
Beberapa aspek ilmu kedokteran “tampaknya mengurangi kemampuan untuk ‘mengurus’ orang tersebut, terutama ketika mereka sedang menderita, rapuh dan tak berdaya,” katanya, seraya menjelaskan bahwa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran hanya dapat meningkatkan kehidupan manusia jika mereka mempertahankan dan berakar pada etika.
“Perhatian terhadap kehidupan manusia, khususnya bagi mereka yang menghadapi kesulitan besar, yaitu, orang sakit, lansia, anak-anak, sangat mempengaruhi misi Gereja,” kata Bapa Suci.
Sering kualitas hidup seseorang diukur dengan kecantikan fisik dan kesejahteraan. “Dalam terang iman, kehidupan manusia adalah suci,” katanya.
Paus Fransiskus mengatakan kepada kelompok tersebut bahwa misi para dokter Katolik adalah menegaskan kesucian dan tidak dapat mengganggu gugat kehidupan manusia, yang “harus dicintai, dibela dan dirawat.”
Ia mendorong mereka untuk bekerja sama dengan orang lain, termasuk orang-orang dari berbagai agama, dalam upaya mempromosikan martabat manusia sebagai kriteria dasar pekerjaan mereka, dan mengikuti pesan Injil untuk mencintai setiap saat, terutama yang membutuhkan.
“Misi Anda sebagai dokter menempatkan Anda dalam kontak sehari-hari dengan banyak bentuk penderitaan,” katanya, dan ia mendorong mereka untuk meniru orang Samaria yang baik hati dalam merawat lansia, orang sakit dan orang cacat.
Sumber: ucanews.com