Rabu, 06 Mei 2015

TERNYATA MEDAN PASTORAL DI DEKENAT MONI-PUNCAK BERAT MENJANGKAU

MESTI DIPIKUL KARENA KRISTUS YANG DATANG
Oleh Santon Tekege*****


Berilah kami rahmat kekuatan agar kami sanggup menerima kepahitan dan kegetiran hidup yang menimpa pada setiap kami di dunia ini. Dengan rahmat-Mu itu, kami dengan layak dapat menerima segala rencana dan kehendak-Mu. Jadikanlah segala rahmat-Mu itu sebagai jaminan selama kami hidup khususnya ketika kami derita, tidak mampu berjalan, dan tidak kuat menjalani hidupnya bahkan ketika kami diambang maut. Ya Yesus, Engkau hadir sebagai penghibur dan pemberi kekuatan dalam pelayanan dan pewartaan Injil-Mu di segala bangsa. Di dalam pelayanan dan pewartaan itu selalu ada banyak derita, sakit, merasa tidak kuat, tantangan dan godaan, dan bahkan merasa diambang maut. Namun penyertaan Tuhan Yesus selalu ada untuk para pengikut Kristus. Karena itu, jangan takut dengan medan yang sulit dan tidak bisa dijangkau oleh kita. Berkaitan dengan itu, saya akan perlihatkan dalam tulisan ini tentang medan Pastoral dekenat Moni-Puncak. Medan Pastoral yang begitu berat dan tidak bisa dijangkau sehingga dibutuhkan semangat lebih dari seorang pelayan Tuhan dan menjadi siap diutus demi kemuliaan Allah dan mencintai sesama manusia di segala bangsa.

Mesti dipikul karena Kristus yang datang
Suster Cresensia, PRR dan saya akan tourney Paskah 2015 di Quasi Paroki Bugulo di Paroki Bilai Dekenat Moni-Puncak. Kami menyusuri melalui gunung-gunung sambil menikmati kesejukan udara pada hari rabu, 1 April 2015. Kami berjalan di tempat Tourney sebelum Perayaan Hari Kamis Putih.
Dalam perjalanan itu, suster tidak bisa berjalan mendaki sampai di puncak gunung di Quasi paroki itu. Akhirnya suster dipikul dalam noken oleh umat Bugulo. Umat mengatakan bahwa “Mesti dipikul karena Kristus yang datang”. Ungkapan ini sangat mendalam. Dari ungkapan ini, diperlihatkan bahwa mereka sedang butuhkan seorang pelayan Tuhan. Dalam menantikan datangnya seorang pelayan Tuhan itu, umat di sana semangat dan pelayanannya cukup baik. Dan saya kaget melihat semangat umat yang luar biasa itu. Bahkan mereka mampu memikul suster dalam keadaan mendakian gunung ini.
Ketika kami sampai di sungai Kemabu, umat dengan tarian menjemputnya. Tari-tarian itu dari OMK dan bapak-bapak dan ibu-ibu di Bugulo. Suasana iklim waktu itu sangat cerah dan hangat dingin. Karena dinginnya cuaca itu, dapat memberikan kesegaran dan menghirup udara segar. Apalagi berjumpa dengan umat yang sangat sederhana dan hatinya yang tulus. Karena keadaan umatnya yang baik dan iklim yang mendukung sehingga dapat disembuhkan lelah dan capek setelah mendakian gunung-gemunung di dekenat ini.


Medan Pastoral Dekenat Moni-Puncak
Medan Pastoral keuskupan timika sulit menjangkau dan dilaluinya. Segala teori dan buku-buku yang kita baca itu tidak berlaku ketika berada di daerah pelayanan keuskupan ini. Kesulitan untuk dijangkau medan pastoralnya bukan saja di gunung tetapi juga di laut. Kita bisa berkoar-koar dengan berbagai teori dan ungkapan tetapi sulit terbukti ketika kita berada di medan pastoral di laut maupun di gunung Keuskupan Timika. Apalagi beratnya medan pastoral di dekenat Moni-Puncak.
 Kita memandang medan naik turunya gunung-gunung dan keganasan ombak yang dapat menakutkan setiap kita. Tetapi itu bukan menjadi penghalang berpastoral dan bermisi. Jadi siapa pun petugas pastoral yang hendak berpastoral dan bermisi di dekenat ini, mesti siap mental dan tenaganya untuk menghadapi kesulitan medan pastoral ini. Kepenuhan tenaga dibutuhkan untuk dapat melalui kesulitan medan pelayanan pastoral di gunung maupun ketika diperhadapkan dengan ombak ganas di pesisir pantai. Memang kita melihat dari dekat bahwa keuskupan ini berbeda jika dibandingkan dengan keuskupan lain di Indonesia.
Di tengah medan pastoral yang sulit dijangkau ini, petugas pastoral yang bertugas di sana adalah Pastor Yustinus Rahangiar, Pr; Pastor Samuel Ohoiyaan, PRR; Pastor Ronald Sitanggang, PR; dan Suster-suster tarekat PRR selalu setia dan bertahan melayani umat Allah di dekenat ini. Dalam dekenat ini terdiri dari beberapa kabupaten: Kabupaten Intan Jaya “Bilogai”, Kabupaten Puncak Jaya “Mulia”, Kabupaten Puncak Papua “Ilaga”, Kabupaten Nduga “Beoga”, dan Kabupaten Mamberamo Raya.
Semua kabupaten ini berada di ketinggian pegunungan Papua Tengah. Dalam gunung yang tinggi dan menjulang membuat kesulitan sekali untuk dijangkau. Tetapi tenaga pastoral selalu melayani dan menyerbarluaskan Injil-Nya dengan penuh semangat karena Tuhan Yesus menyertai mereka. Dan diberikan apresiasi khusus atas pelayanannya kepada umat Allah di dalam medan berat ini. Namun mereka tanpa kenal kesulitan dingin dan tidak kenal lelah dan capek, dapat  menyebarluaskan cinta kasih Allah dan Injil-Nya diberbagai kampung di dekenat ini.

Dibutuhkan Semangat Pelayanan yang Lebih
Kita dipanggil untuk pelayanan. Kita menjadi seorang pelayan karena kita adalah pilihan Allah. Kita adalah orang yang dipilih untuk penyiaran saluran kasih Allah kepada semua budaya, daerah, suku, bangsa, dan ras. Kesulitan medan pastoral bukan sebagai alasan untuk tidak menyebarluaskan kasih Allah. Namun kita dipanggil untuk membuka cakrawala hati dan pikiran umat Allah yang dikasihi-Nya.
Kesulitan medan tidak membuat kita nonton saja. Dengan medan yang berat ini, tidak membuat kita takut dan gentar melainkan kita dituntut agar semangat pelayanan yang lebih. Pelayanan yang tanpa batas waktu. Kita diutus justru karena medan yang sulit dan dimedan perang untuk menyiarkan berita tentang cinta kasih Allah dan Injil-Nya demi keselamatan bagi segenap umat Allah.

Menjadi Siap Diutus
Menyelidik situasi pastoral kita terutama dalam karya pewartaan dan pelayanan Gereja di tanah Papua dewasa ini terasa amat penting. Mengapa demikian? Karena karya pewartaan dan pelayanan Petugas Pastoral sangat terbuka dan telanjang di hadapan dunia. Dalam konteks ini, Petugas Pastoral yang berkarya di tanah Papua khususnya di Keuskupan Timika dihadapkan dengan sejuta persoalan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Persoalan-persoalan yang terjadi sangat kompleks dan rumit. Berbagai media cetak maupun elektronik selalu menampilkan wajah-wajah masyarakat Papua yang sedih, suram, kelam dan wajah yang tengah menantikan uluran tangan dan belas kasihan dari kita.
Bahkan medan pastoral yang sulit dijangkau baik di gunung maupun di pesisir pantai. Berbagai teori yang kita peroleh dari dunia pendidikan itu, tidak berlaku ketika kita berada di medan pastoral ini. Yang berlaku adalah dengan rendah hati dan tenang melayani Tuhan kepada saudara-saudara kita di gunung maupun pesisir pantai di wilayah pelayanan Keuskupan Timika khususnya di Dekenat Moni-Puncak.
Gambaran-gambaran lain yang dapat ditakutkan dapat terlihat dalam pemandangan tentang konflik dan kekerasan sosial, praktek korupsi, kolusi, nepotisme, hedonisme, perjudian, kemabukan, tahyul, diskriminasi suku, budaya, gender, fanatisme religius, materialistis yang menggila dan menggurita, keserakahan ekonomi, mewabahnya kekerasan masyarakat bawah oleh aparat penegak hukum, kambinghitam yang mengatasnamakan kelompok separatis (OPM) dan merong-rong keutuhan NKRI, serta kerusakan mama bumi Nemangkawi oleh PT. Freeport Indonesia yang merugikan salah satu komunitas alam dari orang asli Papua bahkan pelanggaran HAM yang tidak dapat dilitanikan satu persatu. Semua gambaran itu ada dalam pelayanan pastoral keuskupan kita. Dalam konteks seperti itulah, pelayan pastoral diutus untuk melayani dan menyapa mereka. Karena mereka inilah anak-anak Allah sehingga kita diutus untuk melayani mereka tanpa batas waktu. Dengan harapan untuk memuliakan Allah dan mencintai sesama manusia. Demikianlah!

Penulis: Petugas Pastoral Keuskupan Timika


Poskan Komentar