Rabu, 06 Mei 2015

MEMANDANG PERSOALAN MIRAS DAN HIV/AIDS DENGAN PERSPEKTIF KE DEPAN

MEMANDANG PERSOALAN
MIRAS DAN HIV/AIDS DENGAN PERSPEKTIF KE DEPAN

Oleh Santon Tekege *****

Pengantar
Dalam kenyataan, diperlihatkan berbagai persoalan melalui media cetak maupun media elektronik di tanah Papua. Dari sekian banyak persoalan itu, masalah MIRAS (Minuman Keras) dan HIV dan AIDS merupakan persoalan serius oleh semua pihak di negeri ini. Maraknya penyebaran miras dan HIV/AIDS menjadi kecemasan dan ketakutan sebagian warga di Papua.Warga Papua yang mendiami di Pulau ini sedang dan akan mengeluh bahkan tangisan terdengar di mana-mana.
Miras dan Virus HIV/AIDS menjadi isu yang sedang dibicarakan publik di Papua. Mengapa semua orang bicarakannya? Karena miras dan virus ini menjadi ancaman bagi warga di tanah Papua. Miras dan virus dibicarakan bersamaan karena orang menilai satu paket tanpa memisahkan satu sama lain. Artinya bahwa orang miras setelahnya potensi untuk berhubungan seks di sembarang tempat. Penyebaran virus melalui hubungan seks selalu dipublikasikan di publik oleh pemerintah (Propinsi dan Kota/Kabupaten) dan semua pihak tanpa disadari untuk mengatasi dan mencari solusi untuk meniadakan tempat-tempat hiburan Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi dan tempat-tempat hiburan gelap lain dari pulau ini. Warga Papua pun tidak sadar untuk menghadapi ancaman hidup kini dan masa depannya. Dalam surat Gembala Prapaskah 2015 oleh Mgr. Yang Mulia Uskup Keuskupan Timika mengajak umat agar “Membangun iman melalui pola hidup sehat dan bertanggungjawab”.[1] Uskup mengajak agar kita menjaga dan melindungi dari lonceng kematian yang terjadi di mana-mana dan tidak menjaga hidup sehat sehingga banyak mati karena sikap perilaku manusia sendiri seperti peperangan, penghancuran hutan, Miras, HIV dan AIDS, sex dan pornografi, makanan yang berlebihan, keteraturan hidup, sikap hidup ketergantungan, pemborosan, pemerasan, dan denda mendenda. Tindak lanjut dari surat gembala ini, saya memfokuskan pada persoalan MIRAS dan HIV dan AIDS di tanah Papua.

Miras dan HIV/AIDS sebagai Tantangan dalam Wilayah Pelayanan Keuskupan Timika
Kerusakan psikis menjadikan pengguna tidak mampu bernalar secara baik dan bertingkah laku secara wajar. Kerusakan spiritual menjadikan pengguna tidak mempunyai pegangan hidup, tidak otonom dalam menentukan pilihan moral, dan mudah dipermainkan oleh keinginan-keinginan untuk mengkonsumsi miras.
 Miras merusak relasi antar anggota keluarga, kerukunan dan kebahagiaannya serta merusak ekonomi keluarga. Bila keluarga rusak, rusak pula masyarakat. Dalam masyarakat yang rusak itu tindak kejahatan meningkat, kekerasan dan kerusakan moral serta gangguan keamanan merajalela. Biaya penanggulangan dan rehabilitasi korban yang diperlukan sangat besar sehingga menggerogoti anggaran negara “itu kalau ada biaya pemerintahan di Papua”.
Orang yang dikuasai miras selalu saja melakukan tindakan kekerasan dan fisik terhadap sesama yang lain. Dan itu dilihat sebagai pelanggaran serius terhadap harkat dan martabat manusia. Miras merusak pribadi manusia yang diciptakan Allah menurut citra-Nya, “menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Kita menyadari, bahwa manusia itu mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara, mengembangkan, mencintai, dan membela kehidupan yang adalah anugerah Allah.
Selain persoalan miras, realita persoalan HIV dan AIDS di Papua[2] dengan penularannya cepat melalui perilaku hubungan seks bebas dan suka berganti-ganti pasangan seks. Menurut data KPA Propinsi Papua sejak tahun 2006 penderita HIV dan AIDS sekitar 2.703 orang. Penyebaran virus ini tidak diam tetapi terus menambah penderita HIV dan AIDS menjadi 3.252 orang pada tahun 2007. Kemudian sejak tahun 2008 penyebaran virus sangat meningkat lagi dengan jumlah penderita sebanyak 4.305 orang dan tahun 2009 jumlah penderita 5.012 orang. Sementara BPS Propinsi 2010 melalui dinas Kesehatan dan KPA Propinsi Papua mengatakan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS meningkat menjadi 10.522 orang. Perilaku hubungan seks dilakukan oleh usia produktif  yakni (15-59) tahun. Jika demikian masa depan Papua akan menjadi sebuah impian belaka dan drama panjang di Papua. Berita baru kasus HIV dan AIDS pada bulan 16 Agustus 2013 adalah berjumlah 15.000 orang. Penyebaran HIV/AIDS di Papua kian memprihatinkan. Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Papua per 30 Juni 2014, jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Papua mencapai 17.639 orang. Ironisnya lagi, para penderita itu umumnya adalah usia produktif antara usia 15 hingga 59 tahun[3] (baca catatan kaki di bawah ini karena penulis telah perlihatkan khusus penyakit penderita HIV dan AIDS di wilayah Meepago).
Berdasarkan data tersebut di atas, maka penulis mengibaratkan HIV dan AIDS sebagai bom bagi semua warga Papua dan secara khusus bom untuk orang asli Papua. Jika demikian, kemudian hari pulau Papua akan menjadi sebuah drama panjang. Drama panjang itu, akan menjadi sebuah sejarah bahwa pulau Papua telah dihuni oleh orang kulit hitam dan berkeriting rambut namun kini menjadi sebuah impian dan cerita panjang oleh suku bangsa lain di dunia. Kita tidak dapat dipungkiri hal ini karena penyebaran virus HIV dan AIDS sebagai penyakit mematikan seseorang manusia atau keluarga bahkan suku bisa menjadi punah di tanahnya sendiri. Jadi apa kata dan sikap warga Papua saat ini? Apakah kita sebagai warga negara Indoensia cuek saja tanpa berpikir untuk mengatasi? Ataukah semua pihak sengaja membiarkan penyebaran virus HIV dan AIDS tanpa mencari solusi terbaik demi keselamatan warga di Papua? Ataukah saya mengatakan penyebaran HIV dan AIDS di Papua merupakan sebuah pembiaraan oleh pemerintah dan semua pihak bahkan karena ketidaksadaran oleh warga sendiri?
Realita penyebaran HIV dan AIDS tersebut oleh sebagian orang asli Papua melihat sebagai sebuah ancaman mematikan yang pada akhirnya membawa pada kepunahan suku atau ras orang setempat di Papua. Padangan ini muncul dalam berbagai seminar, diskusi, demontrasi dan cerita-cerita dikalangan masyarakat ketika adanya informasi bahwa orang yang menghidap HIV dan AIDS terbanyak di Papua adalah orang asli Papua. Dalam situasi demikian, orang asli Papua seringkali bertanya-tanya dalam dirinya dan akhirnya sampai pada suatu anggapan bahwa virus ini sengaja dibawa orang luar Papua untuk memusnahkan orang asli Papua. Pertanyaannya, apakah tudingan seperti itu benar? Ataukah penyakit ini memang diperuntukkan bagi orang asli Papua, lantas orang non Papua adalah kebal dengan virus HIV dan AIDS di Papua?
Kita jangan saling menuding atau melemparkan kesalahanmu pada orang lain dengan banyaknya penyebaran penyakit HIV dan AIDS di Papua. Kita juga jangan saling menyalahkan antara orang asli Papua dan non Papua. Bahkan jangan saling mencurigai di antara warga Papua. Kita mengakui bahwa virus ini menjadi ancaman dan mematikan bagi manusia yang hidup di pulau ini. Warga Papua hendaknya kembali pada dirinya untuk merefleksikan lebih jauh tentang penyebab penyebaran virus HIV dan AIDS ini. Sebuah ajakan bahwa warga Papua penting untuk melihat kembali akan hukum, norma dan larangan-larangan yang ada dalam budaya masing-masing di Papua. Dan agama masing-masing misalnya, jangan berzinah, jangan berbuat cabul. Jika tidak melihat dan merenungkan kembali akan budayanya dan penyebaran virus ini, maka akan merosotnya nilai-nilai religius yang dihayati dalam kehidupan setiap kita.
Pemerintah (Propinsi dan Kota/Kabupaten) dan semua pihak bahkan masyarakat tahu dan mempublikasikan di publik bahwa penyebaran penyakit HIV dan AIDS adalah melalui hubungan seks di luar nikah dan berganti-ganti pasangan seks di tempat-tempat hiburan tidak sehat. Misalnya tempat lokalisasi, tempat karaoke, dan tempat-tempat pijat tradisional. Lalu mengapa Pemerintah (Propinsi Papua/Papua Barat dan Kota/Kabupaten) dan semua pihak bahkan masyarakat memelihara tempat-tempat hiburan: Pekerja Seks Komersial (PSK) di Lokalisasi, tempat karaoke, tempat pijat tradisional dan si kaliabo papan atas alias bunga sedap malam atau ayam abu-abu (3A) selain bar, bir, bor dan akhirnya tewas di bawa dalam mobil bus menjadi (4b), Jika pemerintah dan semua pihak tidak siasati penyebaran virus “bukan dengan penyuluhan atau pengadaan alat-alat pencegahan”, maka habislah terang sebagai tanda awal kegelapan dalam hidupnya sebagai manusia warga Papua.
Pemerintah tahu korban banyak karena miras dan penyebaran penyakit HIV dan AIDS melalui hubungan seks dan ganti-ganti pasangan melalui tempat-tempat hiburan tidak sehat dan tidak kontekstual dengan norma, adat dan hukum alamiah di Papua. Namun pemerintah malah membiarkan bahkan memelihara tempat-tempat hiburan tidak sehat dengan alasan bahwa jumlah pemasukan dana sangat besar untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) di negeri ini. Pemerintah mensosialisasikan dan mengadakan penyuluhan di mana-mana untuk pencegahan dan penyadaran penyebaran HIV dan AIDS di pulau Papua. Pemerintah juga mengadakan alat-alat kondom setiap tahun untuk mencegah yang bukan merupakan solusi.
Pemerintah tanpa menyadari, mereka memperbanyak tempat-tempat hiburan tidak sehat (Lokalisasi, tempat pijat tradisional, tempat karaoke dan bar (3A dan 4B) bahkan mungkin perdagangan perempuan di hotel-hotel) di pulau Papua. Pemerintah tanpa menyadarinya mereka mengambil sikap pembiaraan terhadap warga Papua, selalu mengadakan berbagai kegiatan termasuk penyuluhan, pengadaan alat kontrasepsi pria dan wanita bahkan di jalan-jalan mengatakan bahwa “Kota beriman”, “Tanah yang diberkati”. Namun di dalamnya penuh dengan segala kemunafikan. Faktanya korban karena miras dan virus HIV dan AIDS terus meningkat setiap tahun di pulau Papua. Itulah letak sikap pembiaraan pemerintah terhadap warganya karena mementingkan milyaran rupiah dibanding keselamatan warga Papua khususnya orang asli Papua dari ancaman dan penyakit yang mematikan ini. Jadi pemerintah sengaja memeliharan tempat-tempat hiburan tidak sehat dan tempat-tempat lokalisasi yang merupakan tempat penyaluran hubungan seks demi kepentingan pemerintah dan penguasa di negeri ini.
Sikap kita sebagai warga Papua hendaknya saling mendukung untuk mengatasi miras dan penyebaran penyakit HIV dan AIDS di Papua. Miras dan Penyebaran virus HIV dan AIDS menjadi tanggung jawab semua warga Papua. Kita jangan diam dengan realita miras dan penyebaran virus HIV dan AIDS terhadap warga Papua. Saya secara pribadi mengajak kepada Pemerintah (Propinsi dan Kota/Kabupaten) untuk membubarkan dan menutup segala bentuk hiburan tidak sehat yang mendatangkan virus HIV dan AIDS di seluruh tanah Papua. Kita jangan mengutamakan milyaran rupiah, tetapi mengutamakan keselamatan manusia dari merusak tubuh karena miras dan penyebaran HIV dan AIDS di bumi ini. Dengan sikap demikian, pasti akan mengetahui dari mana datangnya virus ini, kemudian tidak saling mencurigai antara warga Papua dan meniadakan dari konflik sosial ke depan. Namun hendaknya kita saling mendukung untuk keselamatan manusia dibanding milyaran rupiah untuk kepentingan diri dan pemerintah kedua Propinsi paling timur di Indonesia ini.[4]

Moral Sosial Digugah oleh Injil dan Iman
Warta Injil selalu baru sewaktu kita mendengarkannya. Dikarenakan selalu menggugah hati para pengikut Kristus untuk menghidupkan rasa tanggunggjawab mereka di tengah dunia. Kerajaan Allah tidak jauh dan Allah mengetuk pintu hati kita. “Berbaliklah dan percaya pada kabar gembira”. Kalau kabar gembira sudah sampai pada hati kita, kita tidak punya alasan lagi untuk terus mengeluh mengenai kejahatan miras dan virus HIV dan AIDS. Mari kita balikkan arah dan kita tatap masa depan. Memang miras dan HIV/AIDS mengakibatkan banyak penderitaan, tetapi bisa ditolong. Kapan kita mulai tolong para penderita ini?
Saya percaya bahwa dengan iman, kita hendak berkiblat pada Allah Sang Pemilik Kehidupan. Dalam iman, kita menanggapi kehendak Allah supaya terjadi sesuatu yang baru. Apalagi yang dikehendaki Allah selain kehidupan-Nya menular dan menyebar? Biarlah kemuliaan Tuhan tetap untuk selama-lamanya, biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya (bdk Mzm 104:31). Dengan keyakinan dan beriman kepada Allah, kita menyambungkan diri dalam anak Allah, yakni Yesus dari Nazaret, hadir ditengah kita, “semua orang memuji Dia” (Luk 4:15). Kata mereka, “bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah Ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas ? dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? (Bdk Mat 13:55-56). Ya, memang Allah beserta kita itu telah menjadi saudara dalam persaudaraan antar kita. Dengan iman yang kuat, kita menyambut perutusan Kristus yang bersabda: ”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Bdk Yoh 10:10). Semboyang orang beriman kepada Allah yang hidup ialah “Jadilah pembela kehidupan. Secara bersama-sama meyakini dengan iman yang teguh, kita berusaha mewujudkan kesejahteraan bersama. Kita ingin mewujudkan iman kita dalam perhatian pada sesama kita yang menderita karena konsumsi miras dan penderita HIV/AIDS. Kita memperhatikan sesama kita yang menderita dan menolongnya adalah perwujudan iman kita akan Allah “Aku menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yak 2:18). Untuk membela kehidupan itu, apakah memerlukan Gereja.
Opsi Gereja: Mengutamakan Para Korban Miras dan HIV/AIDS
Allah mengutus Yesus ke dunia untuk misi penyelamatan bagi semua umat manusia. Perutusan itu digenapi dengan jalan salib. Demikian pun umat manusia mengalami salib yang sama seperti Anak Allah Yesus dalam peziarahan hidup setiap kita.
Warta tentang Yesus tersiar di mana-mana. Ia memberitakan Injil Kerajaan Allah. Dalam pewartaan itu, Yesus menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan manusia. Ketika orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia; ketika dibawa kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya; ketika Yesus melihat orang banyak dan murid-murid-Nya ada di antara orang banyak itu (bdk Mat 4:23, 5:2).
Atas dasar refleksi ini, kita dipanggil untuk melanjutkan warta keselamatan itu pada semua orang dan semua bangsa. Dengan harapan bahwa umat manusia mengimani Yesus yang sedang berkarya dalam kaum lemah, menderita sakit dan lapar, yang ditindas, dan dimarginalkan oleh peradaban zaman modernisasi ini. Begitu banyak orang muda yang masuk dalam dunia miras dan terkena virus HIV/AIDS di Papua.
Orang yang miras dan kena virus HIV/AIDS adalah korban penderitaan. Karena mereka mengalami penderitaan sakit, mental lemah dan lumpuh, dan tunggu waktunya untuk menghadap kepada Allah. Di sini tugas kita adalah mengutamakan para korban miras dan HIV/AIDS, kita mengangkat martabat para korban ini, kita menguatkan iman mereka akan Allah bahwa Ia mencintai dan menyapa mereka dan mempersiapkan jalan solusinya. Dengan kotbah di bukit, para pengikut Yesus dipesan supaya mengumat (bdk Mat 7:21). Dengan maklumat di kampung halaman-Nya sendiri, Yesus mewajibkan mereka yang berdoa bersama Dia, supaya mereka menjadi agen pembebasan yang justru menolong orang lain dan asing (bdk Luk4:21-24). Berangkat dari pendasaran kotbah Yesus ini, kita diajak agar mengutamakan para korban Miras dan HIV/AIDS. Kita menjadikan mereka sebagai anak-anak Allah. Menjadikan mereka sebagai manusia yang dihormati dan dihargai oleh semua pihak dengan jalan berkomunikasikan dengan para korban. Di sini diperlukan Gereja terlibat dalam kehidupan nyata di tengah umat. Gereja adalah kita, kita mesti berkatekese dengan para pemuda dan pemabuk serta bagi mereka yang terkena virus yang mematikan manusia di kota-kota besar maupun di kampung-kampung dalam wilayah pelayanan Keuskupan Timika.




Penutup
            Para pemabuk dan orang-orang yang terkena virus adalah manusia. Mereka mesti dikuatkan iman akan Allah. Mereka mesti disapa dan dihormati. Memberikan kepercayaan pada mereka bahwa mereka adalah ciptaan Allah. Kita sebagai umat Allah, hendaklah kita mengumat dengan para korban ini. Mengutamakan mereka adalah opsi Gereja. Karena itu, kita mesti duduk terdepan untuk mengangkat mereka. Memberikan keteguhan iman akan Allah.
            Karena semakin hari semakin meningkat para pemabuk dan terkena virus mematikan itu sehingga saya mengharapkan kepada keluarga agar menyediakan waktu untuk saling berdialog hati sebagai keluarga. Diharapkan juga kepada Gereja-gereja di kampung-kampung maupun di kota-kota untuk melibatkan semua orang muda dalam kegiatan menggereja dan sosial kemasyarakatan agar mereka pun menatap masa depan hidupnya. Para pimpinan setempat entah gereja maupun pemerintah di kampung-kampung maupun di kota-kota jangan berdiam diri dan mencueking situasi para korban MIRAS dan HIV dan AIDS di seluruh Tanah Papua.
Tetapi dukunglah kepada keluarga-keluarga dari korban miras maupun virus mematikan ini agar keluarga mengimani akan Allah dan bangkit dari penderitaannya. Sekolah-sekolah katolik, Kristen Protestan, dan sekolah-sekolah dari agama lain untuk melatih kesetiakawanan, terbuka kepada agama apa pun, dan penuh perhatian pada orang muda. Selain itu, pusat-pusat Gereja Katolik, Kristen Protestan, dan agama-agama lain hendaklah mengusahakan adanya ruang dialog antara orang muda dan khususnya para korban miras dan HIV/AIDS serta mengusahakan layanan teman dialog yang paham bagi para korban penderitaan yang dialaminya. Diharapkan kepada pemerintah Propinsi Papua dan Papua Barat, kota/kabupaten di seluruh tanah Papua agar hentikan bahkan tiadakan tempat-tempat hiburan tak sehat[5] dari negeri tanah Papua ini. Akhirnya kita bersama-sama mengangkat martabat sebagai manusia ciptaan Allah di dunia ini, bukan menyingkirkan atau bukan menambah berbagai tempat hiburan tak sehat agar semakin bertambah korban kemanusiaan tetapi meniadakan semua hal yang mengorbankan manusia dari negeri ini. Demikianlah!!!

Penulis: Petugas Pastoral Keuskupan Timika Papua



[1] Pada kesempatan masa prapaskah tahun ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan tema “Membangun Iman melalui Pola Hidup Sehat dan Bertanggungjawab”. Iman bukan hanya soal percaya pada Tuhan tetapi bagaimana kepercayaan itu mempengaruhi kehidupan yang sehat dan bertanggungjawab.Iman mendasari segala tindakan kita untuk mencari kehidupan yang sehat. Untuk itu kita harus menjalani hidup ini dengan penuh tanggungjawab. Tantangan yang kita hadapi sekarang ini adalah krisis moral yang telah menghancurkan peradaban publik di segala bidang. Manusia tidak menghargai budaya kehidupan. Perilaku manusia mengarah pada kehidupan yang tidak menyehatkan. “Lonceng kematian “ terjadi di mana-mana karena ulah manusia yang tidak bertanggungjawab . Banyak orang sakit atau mati karena peri laku tidak sehat dari manusia sendiri  seperti peperangan, penghancuran hutan, Miras, HIV dan AIDS, sex dan pornogarafi, makanan yang berkelebihan, keteraturan hidup , sikap ketergantungan, pemborosan, pemerasan dan denda mendenda. Secara sadar dan tidak sadar, Kita hidup dalam budaya kematian yang mengancam peradaban zaman ini. Krisis iman dan moral  sebagai akar persoalan yang menyebabkan hidup menjadi tidak sehat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan sebagai orang beriman. Maka itu dalam masa prapaskah ini saya mengajak kita untuk merenungkan tiga hal yaitu iman, hidup sehat dan tanggungjawab.
[2] Maraknya Penyakit HIV dan AIDS di Tanah Papua. Kumpulan berbagai informasi di media cetak lokal di Timika dan Jayapura-Papua sejak 2006-2015.
[3] Penyebaran HIV/AIDS di Papua kian memprihatinkan. Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Papua per 30 Juni 2014, jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Papua mencapai 17.639 orang. Ironisnya lagi, para penderita itu umumnya adalah usia produktif antara usia 25 hingga 49 tahun. Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua dr. Silvanus A. Sumule, SpOG mengatakan bahwa kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Papua pada tahun 1996 dan dalam jangka waktu 18 tahun, angka ini telah meningkat dengan sangat tajam menjadi 6.579 penderita HIV dan 11.060 orang penderita AIDS, atau hingga 30 Juni 2014 totalnya mencapai 17.639 orang. “Dari jumlah itu, 1.229 orang di antaranya telah meninggal dunia karena penyakit ini. Khusus untuk wilayah adat Meepago yang meliputi kabupaten Nabire, Paniai, Dogiai, Deiyai, Mimika dan Intan Jaya, jumlah kasus HIV/AIDS mencapai 6.984, dan 446 di antaranya telah meninggal”. Menurutnya, angka ini diperkirakan masih jauh lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya, karena ada sejumlah kabupaten yang belum menyampaikan datanya dengan baik. “Sesuai perkiraan paling konservatif dari Dinas Kesehatan Papua, ada sekitar 25.000 orang yang telah terkena HIV/AIDS di Papua. Ini berarti masih ada 7.361 yang harus ditemukan,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, edisi Selasa (18 November 2014). 

[4] Catatan Penolakan: Pemerintah sengaja membiarkan berkembangnya virus HIV dan AIDS tanpa mencari solusi alternative oleh Pemerintah Indonesia di Papua. Akibatnya banyak orang (orang Papua dan Non Papua) terjangkit virus ini. Maka banyak orang menjadi korban kematian di Tanah Papua. “Pemerintah Indonesia sengaja membiarkan virus ini agar orang asli musnah di negeri Papua. Pembiaran Pemerintah Indonesia itu, dapat dinilai bahwa bentuk penolakan pada manusia yang mendiami di pulau Papua. Apalagi jika kita bandingkan antara Orang Asli Papua jumlah penduduknya adalah 30% sementara penduduk Non Papua adalah 70%  (BPS Propinsi Papua sementara sejak 2011). Saya menilai bahwa pembiaran berkembangnya penyakit HIV dan AIDS itu, akan menjadi anak panah yang jitu pada pemusnahan suku orang asli Papua. Bentuk pembiarannya adalah oleh Negara Indonesia pada warga penduduk di bumi Papua”.
[5] Hiburan-hiburan tak sehat adalah hiburan yang mendatangkan miras dan virus HIV dan AIDS, antara lain tempat pernjualan MIRAS, tempat  Lokalisasi, bar, tempat karaoke, tempat pijat dan tempat-tempat lain yang mendatangkan miras dan virus mematikan ini.

Tidak ada komentar: