Kamis, 07 Mei 2015

MEMBAGI HIDUP PERSAUDARAAN DEMI KEMULIAAN ALLAH DAN UNTUK SESAMA KITA

Membagi Hidup Persaudaraan
demi Kemuliaan Allah dan untuk Sesama Kita

Pada perjamuan terakhir dengan para rasul, Engkau membasuh kaki mereka. Engkau memberikan teladan agar saling membagi dan hidup dalam persaudaraan. Bahkan sebagai murid Kristus, harus saling melayani satu sama lain. Dan pada saat yang sama, Engkau meramalkan sengsara-Mu namun sempat menghibur mereka. Memberikan teladan supaya orang hidup dalam persaudaraan dan saling melayani sebagai saudara dan saudari murid Kristus. Karena itu, sebagai murid-Nya kita mesti membagi hidup persaudaraan demi kemuliaan Allah dan untuk sesama manusia.

Bercanda Ria bersama Para Suster Ursulin di Keuskupan Timika
Suatu saat saya berjumpa dengan seorang Suster Ursulin, Sr. Engeline Tena, OSU. Saya diajak ke biara. Di sana ada dua suster yang lain, Sr. Elisabeth Jus, OSU yang biasa di sapa Sr. Elis, dan Sr. Maria Goretty Lopa, OSU, yang biasa di sapa Sr. Etty.
Dalam obrolan dan bercanda ria kami siang itu, saya bertanya tentang karya suster Ursulin di Papua khususnya di Keuskupan Timika. Ursulin (OSU) berada di Timika sejak September 2005. Mereka membantu keuskupan Timika. Fokus perhatiannya adalah Asrama Putri Salus Populi, mengajar di sekolah, team pastoral paroki Katedral, dan kantor Keuskupan Timika. Sebagai komunitas Ursulin mereka terlibat pendampingan anak-anak asrama ini, pendekatan dengan masyarakat asli memberi waktu untuk mereka khususnya orangtua dari anak-anak asrama.
Berkaitan dengan asrama, Suster Maria Goretty, OSU sebagai pembina dan pendamping asrama itu. Suster mengatakan bahwa penghuni asrama sebanyak 39 anak. Mereka harus dibina dan diajari agar mereka mandiri kelak. Kegiatan harian mereka adalah doa, belajar, kursus komputer, dan kerja. Kegiatan-kegiatan itu mereka menjalaninya dengan semangat dan tenang, kata seorang penghuninya, ketika ditanya. Anak asrama putri ini bisa tampil menyanyikan mazmur di Katedral Timika. Mereka juga terlibat sebagai lektor, dan membawakan lagu di paroki-paroki sekitar kota Timika. Misalnya mereka membawakan lagu perayaan hari minggu prapaskah di paroki Mapurujaya pada 22 Maret 2015. Perayaannya sangat ramai dan umatnya merasa senang dengan lagu-lagu dari putri-putri sion ini. Setelah itu dilanjutkan dengan rekreasi bersama di pantai Poumako. Kemudian dilanjutkan dengan membawakan lagu bersama umat di Kwamki Lama dalam perayaan Minggu Palma pada 29 Maret 2015.
Ketika ditanya bagaimana proses berjalannya pembinaan di asrama? Proses pembinaan dan pembelajaran asrama cukup berjalan baik. Tetapi kesulitannya hanya saja anak-anak malas belajar dan kurang adanya motivasi belajar. Karena itu, dibutuhkan banyak pihak untuk memberikan dukungan dan motivasi untuk anak-anak agar mereka termotivasi dan semakin lebih belajar demi pembangunan sumber daya manusia di tanah Papua. Asrama ini milik dan diperhatikan oleh Keuskupan Timika.
Dalam hidup bersama, mereka selalu membagi hidup sebagai tanda persaudaraan. Mereka saling mendengarkan satu sama lain. Mereka saling menyapa dan bekerjasama sebagai satu komunitas asrama. Karena mereka dibina dan diajarkan oleh para Suster Ursulin. Para penghuni selalu hidup bersama dengan para suster. Dikatakannya bahwa mereka merasa bersyukur menjadi putri sion Solus Populi. Karena kami belajar banyak hal dari asrama ini. Akhirmya diharapkan ada yang terpanggil menjadi biarawati demi kemuliaan Allah dan mencintai sesama di sekitar kita, minimal semangat dari para suster yang terpatri di hati manusia.

Pengabdian demi Allah dan Untuk Sesama Manusia
Bersyukur karena Tuhan senantiasa menyertai dalam perjalanan berkarya di tanah Papua. Tuhan Yesus sangat baik dan memberikan semangat dan penghiburan dalam perjalanan hidup membiara di Biara Ursulin. Sebagai satu komunitas biara, semangat apa yang selalu berkobar dalam pelayanannya? Jawabnya “Pelayanan untuk “Man for God” and “Man for others”.
Selanjutnya semangat pelayanan kita adalah bukan untuk mencari kekayaan. Bukan pula mencari popularitas. Bukan juga supaya orang lain memberi jempol. Tetapi semangat pelayanan adalah pelayanan untuk Tuhan dan pelayanan untuk orang lain. Kami tidak punya apa-apa dalam hidupnya dan dalam pelayanannya. Karena itu, hidup kami dan panggilannya untuk Tuhan Allah.
Kita ditinggalkan dari segalanya dari keluarga, marga, suku, dan budayanya hanya untuk Allah dan sesama yang kita layani. Tanpa keterikatan apa pun dalam hidupnya sehingga rasa gembira dan bahagianya dan berkata “kami dipanggil untuk melayani bagi Allah dan sesama manusia tanpa terkecuali”. Itulah semangat yang dapat mengobarkan cinta Tuhan di tengah umat di Keuskupan Timika Papua. Gaiya/Santon Tekege!


Poskan Komentar