Senin, 02 Juni 2014

MENGEMBALIKANM RAHIM ASLI "PAPUA"



MENGEMBALIKAN
RAHIM ASLI “PAPUA”



Kehidupan merupakan indetitas keberadaan seseorang  yang telah  ada sejak dilahirkan. Kehidupan menjadi dasar  hubungan seseorang dengan sang pencipta, Yesus Kristus. Identitas keberadaan seseorang  adalah pewahyuan dari Allah sendiri.  Allah mewahyukan manusia  agar manusia  mampu menemukan  apa yang  menjadi  keluhuran hidupnya. Hak hidup, hak untuk  berbuat “sesuatu yang baik dan benar”, hak untuk berpendapat, hak untuk bebas merdeka dari suatu keterikatan atau suatu  kekuasaan merupakan keluhuran Allah yang diberikan kepada setiap pribadi manusia atau dan kelompok  manusia. 
mengenal  prinsip moral:, keluhuran martebat manusia, HAM, kesejahteraan bersama, solidaritas,subsidiaritas, kepberpihakan kepada kaum miskin dan lain- lain. Semua prinsip- prinsip tersebut ini merupakan satu- kesatuan yang tak terpisahkan dalam  kehidupan manusia. Keluhuran martabat manusia, Ham, Kesejahteraan bersama, Solidaritas, Subsolidaritas dan keperpihakan terhadap kaum miskin adalah wahyu Allah yang tercurah kerena sebagai mahkluk yang paling sempuran.
Kitab Suci Perjanjian Lama menceritakan  kisah perjalanan bangsa Israel sangat  mendetail. Terutama dan utama  tentang penjajahan yang begitu brutal terhadap  bangsa Israel. Bagaimana umat Israel  diperbudakan, ditindas dan  disiksa secara lansung oleh  pemerintahan Mesir yang pada saat itu dijabat oleh  Firaun. Berbagai hal kekerasan yang  dilakukan Firaun terhadap umat Israel merupakan kejahatan yang tidak bias dibenarkan. Kerja rodi ( kerja paksa) dan pembunuhan terus berjalan tanpa ada kebebasan yang diberikan, dirasakan  oleh umat Israel. Kerja paksa dan tindakan pembunuhan tak pernah berhenti. Demi kepentingan raja dan bangsa Mesir Umat Israel  dijadikan sebagai burunan budak.
Dalam kitab Kej 1:11 menunjukan mekanisme kekerasan seperti Bangsa Israel dipaksa membangun  bagi Firaun kota berbekalan, selain itu dibangun juga sebuh patung besar berwajah dan berbadan Firaun. Dengan tindakan kejam Bangsa Mesir menyuruh dan memaksa Umat Israel bekerja. Selanjutnya dalam ayat 14, dipaparkan demikian “dengan kejam orang mesir memaksa orang Israel Bekerja dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat yaitu mengerjakan Tanah liat dan batu bata. Perbagai pekerjaan dipandang, diperhatikan tidak ada kelonggaran yang dengan paksaan orang Mesir kepada mereka untuk tetap bekerja keras”.
Walaupun dijajah dan dianiayai Raja Mesir, Umat Israel teru berkembang, keturunan bangsa Israel semakin bertambah pesat bahkan melebihi bangsa Mesir. Sehingga Firaun menyuruh bidan- bidan membunuh anak laki- laki yang dilahirkan dari perempuan Israel. Tetapi Allah Israel selalu menyelamatkan  bayi yang dikandung dan umat israel semakin bertambah hingga melebihi orang Mesir. Akhirnya tampil seorang tokoh, seorang Nabi yang kemudian membawa Umat Israel keluar dari tanah dan perbudakan Mesir. Musa adalah  orang dipercayakan  oleh Allah untuk menyelamatkan UmatNya. Allah sendri mengutus dan memberi Rahmat kepada Musa sebagai prantaraNya untuk menyelamatkan  bangsanya keluar dari tanah Mesir dan pergi ke tanah terjanji, Tanah Kanan seperti yang dikatakan dalam kitab kejadian Bab12.
Kisah perjalanan umat Israel jika kita dapat mengaitkannya dengan perjalanan hidup bangsa Papua ada benang merah yang terhubung. Bangsa Papua memiliki nasib hidup yang hampir sama dengan perjalanan hidup  bangsa Israel. Masyarakat Papua mendapat perlakuan yang kejam, bangsa Papua hidup dan makan dalam kekerasan dan dalam pembunuhan. Bangsa Papua dijajah dengan tangan besi penyiksaan dan pembunuhan tidak terlepas dari kehidupannya. Berbagai  Negara dengan berbagai bentuk sistem penjajahannya dapat diterapakan  secara paksa terhadap keberadaan masyarakat. Inggris, Belanda, Jepang dan Idoonesia adalah negara- negara yang dengan  mementingkan wewenangnya dan kekuasaannya  yang semena menguasai dan menjajah Bangsa Papau secara brutal dan tidak secara manusiawi.
Penjajahan semakin kentara dan berlanjut setelah melalui PPRA yang penuh manupulasi atau penipuan yang berkepanjangan sehingga bangsa Papua bergabung dengan Indonesia, (NKRI). Setelah bergabungnya Bangsa suci ini dengan NKRI terjadi berbagai penjajahan di belahan bumi Papua. Masyarakat disiksa dan dibunuh seturut, semau kekuasannya. Pembunuhan terjadi di mana- mana tanpa memandang akar permasalahan tanpa mempertimbangkan hak hidup masyarakat.
Penjajahan dan pembunuhan yang tidak bermanusiawi sangat terlihat mata ketika pada masa kepemimpinan Soerharto sebagai Presiden dan masa kemiliteran yang dipimpin oleh Prabowo selaku Jendral Angkatan Darat. Pada  masa orde lama masa presidensial Soeharno ini diperintahkan pembasmian “pembunuhan” terhadap masyarakat Papua yang bertidak tidak seturut keinginan pemerintah negaranya. Pembunuhan semaikin memanas di pelosok tanah Papua yang dilakukan sendiri oleh negara Indonesia. Masyarakat terjepit dalam tindakan kekerasan, kekuasaan dan pembunuhan, tidak ada kebebasan dalam kehidupannya tak ada ruang gerak yang bebas.
Prinsip moral mengenai perkara- perkara social kemasyarakatan, prinsip moral menuntun refleksi dan tindakanku sebagai seorang calon imam.  Keluhuran martabat manusia adalah serupa dan secitra dengan Allah.

Perlakuan itu terus berjalan tanpa berhenti, sistem penjajahan tidak juga berhenti. Sampai sekarang ini  juga sistem penjajahan masih berjalan dan terus merajarela di bumi Papua ini. Memang dalam kenyataannya tidak terasa tetapi jika kita mengamati sedalam- dalamnya maka terlihat ada cara lain yang diguanakan oleh negara ”cara lembut”. Kenyataan inilah yang akhirnya mengubah wajah keagungan menjadi hitam dan rusak berantakan. Penjajahan yang dilakukan sangatlah lembut  melalui berbagai bidang: sosial, ekonomi, politik dan agama.


Ada banyak kasus yang membuktikan  kekejaman, kerusakan atas hak dasar masyarakat asli Papua. Kasus dalam bidang sosial, ekonomi dan agama,politik dan kasus yang sangat terpengaruh dalam kehidupan masyarakat Papua adalah dalam bidang sosial, ekoonomi dan politik. Oleh karena itu, lebih jelasnya dipaparkan sebagian kasus yang terjadi dan dialami secara lansung oleh masyarakat Papua.
Sejak awal abad ke- 20  ketika industrialisai berkembang dan merambah Papua, modernisasipun hadir. Berdasarkan data Pusat Informasi Palmerah Selatan, Jakarta 30-10-2013 menggugas tentang keadilan yang semakin jauh dari Asa. Bahwa Industrialisasi telah mengubah wajah Papua, dalam waktu kurang lebih100 tahun, dunia suku- suku asli di Papua berubah deratis. Sistem barter diganti dengan sistem pasar. Seperti yang terjadi di kota sorong, kota sorong gemerlap dan dikenal sebagai kota Migas.
Seperti yang terlihat di Kampung Kelamono, Klawana dan Maladuk di Distrik Klamono, rumah warga adat suku Moi Klabra terlihat sangat memprihatinkan. Emas Hitam yang puluhan tahun diolah “eksplorasi”  dari tanah nenek moyang mereka ternyata belum mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat. Perumahan masyarakat masih berupa gubuk panggung beratap nipah. Sebaliknya rumah warga pendatang justru lebih baik kondisinya.
 Perusahan PT Pertamina Field Papua yang beroperasi  dan  mengolah/ mengambil hasil Migas terus dipertanyakan dikemanakan hasil ulayat yang besar hasilnya bagi  masyarakat setempat, dalam realisasinya belum berjalan sesuai dengan kesepakatan Perusahan dan masyarakat. Terkait tuntutan masyarakat adat di Distrik Klamono ini, pihak Perusahan tuturnya “selalama Perusahan beroperasi hasilnya tersalur melalui bantuan dalam bentuk pertanggungjawaban sosial kepada warga adat setempat. Seperti beasiswa, bedah rumah dan pengerasan jalan”.
Tetapi dalam bentuk nyatanya tidak tersentuh tepat pada masyarakat hasilnya. Bahkan jika kita  membandingkan dengan  input perusahan dan juga mendapatan atau keuntungan yang  besar diperoleh oleh pihak perisahan sendiri ketimbang masyarakat. Jadi dalam kondisi ini masyarakat  diibaratkan seperti seorang anak kecil yang  disuap  atau diberikan sesuatu supaya tidak mengomel dan menangis.
Hal serupa dialami juga oleh warga Amungme dan Kamoro di Timika. Selain melakukan eksplorasi tambang emas dan kerusakan linkungan serta kehidupan sosial yang merupakan dampak hadirnya  eksplorasi tambang tersebut, wargapun belum tersinggut atau keluar dari kemiskinan. Bahkan mereka semakin terdesak ke pinggiran.
Begitu pula situasi yang terjadi di Merauke, tepatnya di Kampung Zaanegi yang terjadi eksplorasi hasil hutan (kayu, rotan).
 Kemiskinan yang terjadi  pada masyarakat Zanegi merupakan masalah structural yang dilakukan oleh perusahaan Medko,  Indonesia dan merupakan sumber modal dari dua Negara yakni  Cina dan Korea. Disini ditemukan berbagai kesusahan yang diterima dari hasil kehidupannya setelah masuknya perusahan Medko. Masyarakat mulai menerima berbagai imbas secara  lansung.  Kesusahan atau masalah yang dialami oleh masyarakat setempat bukan lagi masalah biasa tetapi sudah menjadi masalah serius.
Dari tayangan Tv dilihat berbagai lahan ditebang, hutan digusur. Kesepakatan yang  dibuat dengan baik dilanggar,  seperti kesepakatan  mengenai tanamam  sagu bahwa akan dilindungi dan  dihindari penebangan dan penggusuran. Selain itu  ada kesepakatan bahwa  akan diambil  beberapa anak muda setempat yang mempunyai skill yang bisa diperhitungkan untuk kemudian bekerja sebagai karyawan tetap dalam perusahaan.
Tetapi apa  yang  terjadi,  malah sebaliknya penebangan hutan sudah semakin liar  tumbuhan sagu yang sudah menjadi kesepakatan bersama untuk dilindungi semakin dirusak,  ditebang dan tidak dibayar.  Kesepakatan akan diambil beberapa keryawan sebagai pekerja perusahan. Akan  tetapi itu hanya berlaku hanya satu tahun setelah itu,  perusahaan mendatangkan karyawan luar lebih banyak sehingga semakin lama karyawan local terabaikan dan akhirnya dikeluarkan dan mengelurkan diri. Kesepekatan yang berlaku juga bahwa  perusahaan akan membayar  uang  tanah atau uang pribumi sebesar luas lahan yang mau dikelolah. Faktanya pembayaran sangat rendah dari luas tanah.
Dipanggil untuk ikut menciptakan memperindah dunia. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat berdiri sendiri, tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendri. Makhluk yang sangat membutuhkan orang lain atau sesamanya sebagai komplementer hidupnya, atau sering disebut manusia sebagai Coon politicon (manusia sosial).  Karena diciptakan oleh Allah yang teriniter, manusia dipanggil untuk menjadi serupa dengan Allah. Kesejahteraan bersama: pada prinsipnya,
 Gereja percaya bahwa barang- barang duniawi pada awalnya dimaksudkan badi semua, hak milik pribadi juga sah dan perlu namun tidak menghapus prinsip utama itu. Dengan kata lain hak milik pribadi merupakan turunan dari kepemilikan bersama. Solidaritas adalah keutamaan yang berasal dari hakikat social manusia sebagai makhluk yang secara radikal saling tergantung satu- sama lain, dari paham kesejahteraan bersama. Disini ada keterikatan untuk saling membantu dan menolong serta saling mendukung. Subsidaritas merupakan Prinsip yang bertentangan dengan prinsip solidaritas, sehingga perlu dipelajari sebagai  bahan pertimbangan.
  Masalah- masalah seperti ini, menjadi perhatian umum . terlebih sebagai seorang imam. Sebagai seorang imam ia harus mampu memberikan suara keadilan terhadap masalah yang sedang hangat. Sebagai seorang imam  ia mampu menyuarakan suara  kesejahteraaan terhadap masalah yang menjadi pokok perhatian masyarakat. Sehingga masyarakat benar- benar merasakan dan menikmati kesejateraan dan keadilan. Karena kemiskinan merupakan virus terbesar  atau dosa terbesar dalam kehidupan manusia. Suara rakyat adalah suara Tuhan  untuk  itu apapun bentuknya penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia menjadi hukum utama.
Beginilah situasi yang dialami masyarakat Papua saat ini. Sistem modalisme, industrialisme, dan modernisme, terus merajalela menjelajah dan menjajah masyarakat Papua hingga pada kesempatan tertentu terjadi kemiskinan yang akhirnya bermuara pada kematian. Sistem kekuasaan yng dilakukan oleh Bangsa Indonesia akan terus berlanjut, jika tidak ada jiwa- jiwa muda yang  lahir dari rahim Papua yang mau menyuarakan suara rakyat “suara Tuhan”. Karena tindakan pemerintah Indonesia adalah penuh dengan kekerasan dan penjajahan, penganiayaan dan pembunuhan akan bertambah pesat di tanah Papau.



     



Tidak ada komentar: