Minggu, 22 Maret 2015

ALIANSI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA "AMAN" DI INDONESIA: 75 % Tanah Adat Dirampas di seluruh Indonesia.

AMAN: 75 persen tanah adat dirampas

12/03/2015
AMAN: 75 persen tanah adat dirampas thumbnail
Abdon Nababan (kiri).

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan, mengatakan sekitar 75 persen wilayah adat di Indonesia saat ini dikuasai perusahaan-perusahaan yang antara lain bergerak di sektor tambang dan kehutanan. Pada masa silam, Abdon menuturkan, pemerintah memberikan izin usaha pada perusahaan-perusahaan di atas tanah masyarakat adat.
“Pemberian izin itu merupakan perampasan wilayah adat,” ujar Abdon dalam diskusi bertajuk “Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara” di Jakarta, Selasa (10/3).
Karena itu, Abdon mengingatkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla agar tidak mengulangi kesalahan pemerintahan sebelumnya yang merampas tanah adat dengan mengatasnamakan kepentingan pembangunan.
Saat ini, ia menyatakan, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan satu peta (one map) yang di dalamnya berisi peta wilayah masyarakat adat. Dengan keberadaan satu peta ini, Abdon melanjutkan, keberadaan wilayah masyarakat adat akan semakin jelas.
“Sekarang kan tidak ada. Akibatnya, orang ngaku-ngaku sebab tidak ada (petanya). Masuknya peta wilayah adat ke one map itu sekaligus mengumumkan keberadaan masyarakat adat. Orang bisa mengecek benar atau tidak itu wilayah adat mereka sejak dulu. Satu peta ini membantu,” ujarnya.
Abdon mengatakan, AMAN sudah melakukan pemetaan wilayah masyarakat adat yang sebagian hasilnya sudah diserahkan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.
Menurutnya, sebanyak 10 juta hektare (ha) tanah di Indonesia adalah milik masyarakat adat. Dari jumlah itu, Abdon mengungkapkan, sekitar 4,8 juta ha tanah sudah dapat diketahui kepemilikannya. “(Sebanyak) 4,8 juta ha itu milik 517 komunitas adat,” tutur Abdon.
Ia memperkirakan, sekitar 1.000 komunitas masyarakat adat memiliki 10 juta ha tanah di Indonesia.
Dalam acara itu, hadir pula Direktur Handcrafted Films, Paul Redman, dan aktivis masyarakat adat Amerika Latin, Candido Mezua. Handcafted adalah lembaga asal Inggris yang memproduksi film dokumenter tentang perjuangan masyarakat adat dalam menjaga hutan, mulai dari Peru hingga Indonesia.
Sebelum diputar di Indonesia, film berjudul If Not Us Then Who ini telah diputar di New York, Amerika Serikat, dan Peru di Amerika Selatan. Pada kesempatan itu, Candido juga bercerita tentang perjuangan masyarakat adat di negara asalnya, Panama.
“Kita memiliki kesamaan dengan perjuangan yang dilakukan masyarakat adat di Indonesia,” kata Candido.
Bedanya, di Panama, Candido menyebutkan, masyarakat adat berjuang bersama kelompok masyarakat adat dari tujuh negara lain.
Menurut Candido, kelompok-kelompok masyarakat adat di seluruh dunia harus bersatu untuk melawan kelompok-kelompok besar yang mendapat dukungan dari militer, yang berusaha merampas hak-hak masyarakat adat. “Persatuan (kuncinya),” ucap Candido. 
(sinarharapan.co)

Tidak ada komentar: